Fajar menyingsing. Matahari menyembul dari balik bukit. Sinarnya menghangatkan tubuh Slamet. Lelaki itu berjalan santai, menyusuri jalan, membelah persawahan. Di kanan kirinya, hamparan padi menguning. Burung-burung pipit bertengger di pucuk-pucuk, menikmati sarapan dengan leluasa, mengabaikan orang-orangan yang tertancap di tengah sawah. Mengenakan seragam olahraga pesantren, Slamet menyusuri jalanan yang masih lengang. Sepatu kets yang mulai sesak di kaki memang membuatnya kurang nyaman, namun ia tidak peduli. Ia terus berjalan, ingin melepaskan semua masalah yang kemarin membebaninya. Ia ingin memulai hari baru dengan perasaan lega, terlepas dari semua persoalan yang berdesak di kepala. Slamet berusaha melupakan semua kejadian kemarin dan kemarin-kemarinnya lagi, terutama kegagalann

