“Semua ini salah saya!” Ustaz Amin menunduk lemah. Sepasang matanya menyiratkan penyesalan. “Karena kebodohan lelaki tidak tahu diri ini, kalian menjadi susah.” Ruang guru menjadi hening, tenggelam oleh derik jangkrik yang saling bersahutan. Semua diam, tenggelam oleh pikiran masing-masing. Mereka duduk, mengitari meja segilima yang sering disebut dengan Meja Pentagon, tanpa satu pun berani menegakkan kepala. Meja tersebut sudah ada sejak gedung madrasah ini didirikan. Ustaz Amin memesannya, sesuai perintah bapaknya, Kyai Abdul Ghani. Haji Bakir bersedekap. Kepalanya menunduk, merasa malu dengan ucapan Ustaz Amin. Di sebelahnya, Slamet meneteskan air mata, menyesal tidak bisa menunaikan tugas dengan baik. Ustaz Amin berdiri, berkeliling, mengitari meja. “Benar bahwa saya yang membiay

