Langkah kaki Wulan terhenti saat melihat siapa laki-laki yang sedang berdiri di ruang tamunya, senyuman lebar menghias bibirnya yang merah. "Oalah Bethik, kirain siapa yang datang bertamu." Pria yang berbadan sedikit kekar dan berwajah hitam manis itu tersenyum manis pada Wulan sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman, sedangkan tangan kirinya membawa sebuah bingkisan kado. "Apa kabar?" "Baik, bagaimana kabarmu?" "Alhamdulillah aku baik-baik, saja." "Ayo silahkan duduk!" Wulan mempersilahkan Bethik duduk di sofa ruang tamu yang berwarna krem dengan hiasan bantal kecil berwarna coklat tua. "Terima kasih, Wulan." Mereka berdua duduk di sofa, pandangan mata Wulan terus menatap Bethik yang sekarang penampilannya jauh berubah. Kini Bethik berbadan tegap dan kekar, padahal dulu bad

