Setelah beberapa saat terdiam, Damar lalu bicara, ia menatap wajah Pak Tejo dengan tegas, nampak kesungguhan terlihat dari tatapan mata Damar. "Aku ada perlu ke kota, ke rumah teman." "Ada perlu, apa?" "Aku mau mengambil berkas di rumah temanku, Pak!" "Iya Bapak sudah dengar tadi, tapi berkas apa yang akan kamu ambil?" Pak Tejo menyatukannya kedua alisnya, ia memandang ke arah Damar yang berdiri mematung. "Berkas apa?" tanya Pak Tejo lagi. "Berkas dari tempat kerja aku yang baru," jawab Damar santai. "Damar, apa maksud kamu?" sela ibunya. "Aku mau buka usaha sendiri, Bu!" "Mau usaha apa?" Damar terdiam, ia belum siap untuk berterus-terang pada kedua orang tuanya, kalau dirinya akan pergi ke luar kota dan meninggalkan istrinya di desa, jadi Damar begitu hati-hati saat menjelaskan

