Ludovic melangkahkan kakinya ke dalam gedung megah tempat kantor Massimo berada. Cahaya matahari pagi yang cerah menerpa wajahnya, menciptakan bayangan yang bermain di lantai marmer. Dia mengambil napas dalam, mengumpulkan keberaniannya, dan melangkah ke dalam. Di dalam, ruangan itu dipenuhi dengan suara-suara sibuk dan tawa ringan. Ludovic melihat sekeliling, mencari-cari sosok yang akan menjadi mentornya. "Hei, kamu Ludovic kan?" suara di belakangnya membuatnya berbalik. Ya, dia adalah Massimo. Seorang pria setengah baya dengan senyum hangat yang membuat Ludovic merasa lebih nyaman. "Ya. Senang bertemu denganmu, Pak Massimo." "Senang bertemu denganmu juga. Ayo, aku akan tunjukkan mejamu dan kita bisa mulai," ujar Massimo, memimpin jalan ke sebuah meja di sudut yang terlihat nyaman.

