Permintaan Gila

1044 Kata
Malam telah larut, namun Ayun masih terjaga. Meringkuk dengan alas tikar, dengan Mbak Asiyah yang sudah terlelap beberapa saat yang lalu di sampingnya. Malam ini, kembali ia harus menginap di Rumah Sakit karena simbah kembali harus dirawat setelah kelelahan memicu penyakitnya kambuh lagi. Matanya kembali berkaca-kaca mengingat pembicaraan dengan ibunya tadi sore di telefon. Masalah biaya, kemana lagi Ayun harus meminta tolong kalau bukan kepada wanita yang telah melahirkannya itu. Namun jawaban yang ia dapatkan selalu saja sama. "Ibu mana ada uang. Kamu tahu sendiri, sekarang Ibu sudah nggak kerja lagi." "Tapi, Bu ... apa ... nggak bisa pinjam dulu sama Ayah. Nanti kalau Ayun udah kerja. Ayun janji bakal ganti uang itu ...," ucap Ayun memelas. "Ya ampun ... Ayah kamu gajinya berapa, sih. Kebutuhan kita banyak, Ayun. Banyak cicilan ini itu, hidup di kota apa-apa serba mahal ... kamu pikir cari duit itu gampang." Suara ibunya meninggi. Jujur, sakit hati Ayun mendengarnya. Hingga pada akhirnya Ayun menutup sambungan telefon itu dengan perasaan kecewa. Bukan ia tak mempercayai apa yang ibunya katakan. Hanya saja, jika teringat ayahnya bisa membeli mobil. Ayun sering bertanya-tanya, apa tidak ada sedikit saja kepedulian dari seorang anak yang telah dewasa dan memiliki keluarga sendiri, kepada seseorang yang dulu telah bertaruh nyawa melahirkannya. Apakah karena pernah terusir, maka ibunya menjadi seperti sekarang? Kalau begitu ... bolehkah ia juga membenci ibunya, karena ia pun dibesarkan tanpa kasih sayang. Apakah jika sudah dewasa nanti ia boleh melakukan hal yang serupa? *** "Ayun ... Mbah pengen pulang," ucap perempuan tua itu sembari menerima suapan bubur dari cucunya. "Iya ... nanti kalau Mbah udah sehat, kita pulang," jawab Ayun lembut, memandang wajah keriput yang berusaha terlihat baik-baik saja. Namun Ayun jelas tahu, bahwa kenyataannya tidaklah seperti itu. Simbah masih lemah. "Simbah udah sehat ...." Wanita tua itu tersenyum lembut, seolah menunjukkan bahwa ia sudah lebih sehat dibandingkan sebelumnya. "Mbah nggak usah khawatir masalah biaya. Kemarin Ayun udah telfon ibu ... katanya ayah setuju kirim uang untuk berobat simbah ...." Ayun berusaha menampilkan senyumannya supaya Simbah percaya bahwa ia tidak sedang berbohong. Karena kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. "Jangan bohong kamu, Yun ...." Jelas saja wanita itu tak percaya. Belum lama ini ia menghubungi putrinya itu perihal masalah biaya sekolah Ayun, tapi yang ia dapatkan justru penolakan dan umpatan dari sang menantu. Mana mungkin tiba-tiba mereka berubah peduli padanya yang renta dan tak memiliki arti bagi keduanya. "Serius." Ayun mengangkat tangannya dengan jari membentuk huruf v. "Kalau Mbah nggak percaya tanya aja sama Mbak Asiyah," ucap Ayun menyakinkan. Setelahnya gegas ia membereskan peralatan makan juga menyibukkan diri membereskan nakas, berharap kebohongannya tak terbaca. "Pokoknya nanti setelah Simbah sembuh. Nggak boleh capek-capek lagi, Ayun nggak mau Mbah sakit lagi ... Ayun takut ... Ayun takut ...." Gadis itu menarik nafas panjang, tak mampu meneruskan kalimatnya. Sebagai gantinya buliran beninglah yang pada akhirnya berhamburan keluar menjelaskan apa yang kini tengah ia rasakan. Ia takut kehilangan lalu menjadi sebatang kara. "Simbah nggak akan pergi kemana-mana." Tangan renta itu merangkul cucunya penuh sayang. Berbagi tangis, berbagi rasa takut yang sama menyelimuti keduanya. "Simbah harus sehat." Ayun menenggelamkan wajahnya yang basah pada pundak ringkih itu. Sementara Simbah hanya bisa mengangguk, bibirnya kelu tak berani menjanjikan apapun. Terlebih dengan keadaan tubuh tuanya yang semakin hari kian melemah dan sakit-sakitan. Ia sendiri tak yakin apakah Tuhan akan memberinya kesempatan untuk hidup lebih lama dan melihat cucunya menyelesaikan pendidikannya. Mata tua keabuan itu berkaca-kaca, tangannya yang penuh kerutan membelai lembut rambut cucu kesayangannya. Hatinya merintih, meminta pada Sang pemilik hidup supaya diberikan umur yang panjang, kesehatan dan kesempatan untuk mendampingi sang cucu dalam meraih mimpi serta citanya. Sampai sang cucu memiliki bekal untuk melangkah sendiri, menyongsong masa depannya. Setelah itu ia bisa tenang untuk pergi. *** Tiga hari sudah Simbah dirawat. Kekhawatiran Ayun kian bertambah, karena sampai saat ini ia belum mendapatkan uang pinjaman untuk membayar biaya rawat inap Rumah Sakit. Saat ini ia hanya bisa berdoa, dan berharap Mbak Asiyah bisa mendapatkan pinjaman dari saudaranya. "Makan dulu ...." Ayun yang tengah melamun di kursi tunggu pasien yang berada di luar ruangan itu menoleh pada kedatangan Eros yang menyodorkan sebungkus nasi kepadanya. Setiap hari memang Eros selalu datang sepulangnya dari sekolah dan membawakannya makanan juga camilan. Katanya, supaya ia tak bosan menunggu di Rumah Sakit. "Gimana? Belum boleh pulang?" tanya Eros sembari meletakan bungkusan makanan itu di pangkuan Ayun. "Kata Dokter besok mungkin, lihat perkembangannya nanti ...," jawab Ayun lirih. Bukan tak senang karena akhirnya simbah diperbolehkan pulang. Tapi sekali lagi, masalah biaya masih menjadi kendala. "Masalah biayanya gimana?" Eros seakan mengerti apa yang kini tengah menjadi keresahan Ayun. Ayun menoleh sekilas pada teman sebangkunya itu, sebelum kemudian menunduk tanpa bisa menjawab apa-apa. Namun Eros jelas sudah merasa yakin dengan dugaannya. "Mau gue bantu?" tanyanya kemudian. Ayun kembali menoleh pada Eros yang duduk santai, bersandar pada kursi kayu dengan tangan bersedekap di d**a. "Tapi ada syaratnya ...," imbuhnya. Wajah Ayun yang sebelumnya menaruh harapan berubah mengeryit penuh tanya. Berusaha menebak apa yang ada dipikiran playboy yang kini tengah menatapnya sambil melempar senyum misterius di bibir. "Syarat?" Meski tahu, mungkin saja Eros mengajukan syarat yang tak biasa. Namun demi simbah, Ayun merasa perlu bertanya lebih lanjut. Karena situasinya sedang mendesak untuknya saat ini. Eros tak langsung menjawab, malah balas menatapnya dengan senyum yang semakin membuat rasa penasaran gadis itu memuncak. Otaknya berusaha menduga-duga, mengingat bagaimana akhir-akhir ini Eros mengejarnya. Apakah mungkin ... Eros akan memintanya menjadi .... Mata Ayun mengikuti gerakan tangan Eros yang terangkat, hingga pada akhirnya berhenti tepat di bibirnya sendiri. "Kiss me ...," ucapnya kemudian dengan senyum kurang ajar yang kian melebar. Mata Ayun membola, tak menyangka Eros akan meminta hal gila semacam itu kepadanya. Beberapa hari ini sejujurnya ia sedikit luluh melihat perhatian Eros yang selalu menyempatkan datang ke Rumah Sakit, menemani juga menguatkannya. Namun mendengar permintaan Eros yang seolah merendahkannya, jelas saja Ayun merasa tersinggung. Hingga tanpa sadar tangan mungilnya terangkat dan mendaratkan sebuah tamparan di pipi Eros. PLAK! Ayun menarik tangannya cepat, matanya yang memerah memandang sekeliling dan menyadari bahwa tindakannya telah mengundang perhatian beberapa orang yang juga tengah berada di sana. Gegas saja ia berdiri dan melangkah cepat ke ruang perawatan simbah, meninggalkan Eros yang tak bergeming sama sekali sejak tamparan itu mendarat mengenai pipinya. Sakitkah? Entahlah ... karena sedetik kemudian justru senyum terukir di bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN