Dipermainkan

1031 Kata
Ayun menerima lembar uang seratus ribuan itu dari tangan Mbak Asiyah. Semuanya ada lima lembar, masih kurang banyak, bahkan setengahnya saja tidak ada dari total semua biaya yang harus dibayarkan. "Adanya cuma segitu, Yun. Mbak udah coba cari tambahan di sana-sini tapi nggak ada," jelas wanita dengan hijab lebar itu. "Mbak juga nggak ada simpenan ... kamu tahu sendiri, warung Mbak cuma warung kecil. Orang kampung tahu sendiri, seringnya bon dulu bayarnya kalau punya uang ...." "Iya, nggak papa ... Ayun ngerti." Ayun tersenyum tipis. Ia tahu Mbak Asiyah sudah berusaha sebisa mungkin membantunya. "Maaf, ya Mbak udah ngerepotin ...," ucapnya tak enak hati. "Mbak nggak ngerasain direpotin ...." Mbak Asiyah tersenyum sembari menepuk pundak remaja enam belas tahun itu. "Coba kamu ngomong lagi sama Ibu kamu ... siapa tahu dia berubah pikiran." Ayun menatap benda kotak yang disodorkan Mbak Asiyah kepadanya. Ragu, juga masih tersisa kekecewaan akan jawaban ibunya waktu itu. "Ada pulsanya , kok. Kalau kamu takut, Mbak aja yang bantu ngomong ... lagian masa sama orang tua sendiri sakit nggak ada peduli-pedulinya sama sekali. Keterlaluan Ibu kamu itu, nggak ingat dulu siapa yang kirimin dia uang tiap bulan buat biaya hidup di kota ...," geramnya tak habis pikir. "Kamu jangan sampai begitu, ya, Yun." Ayun hanya bisa mengangguk dengan memaksakan senyumnya. Teringat bagaimana ia sempat berniat untuk membenci wanita yang telah melahirkannya itu. "Gimana? Kamu mau ngomong sendiri apa Mbak aja?" tanya Mbak Asiyah sekali lagi. Remaja itu nampak menimbang dengan perasaan bimbang. Ia sudah terlanjur kecewa, dan ia meyakini bahwa jawaban ibunya tidak akan berubah sekalipun ia memohon sambil menangis. Karena Ayun merasa bahwa ia tak memiliki arti di mata ibu kandungnya sendiri. Dia hanyalah anak yang kelahirannya tidak diharapkan. Begitupun simbah, mungkin orang tua yang sudah terlupakan. Ibunya terlalu fokus dengan kehidupannya sendiri bersama keluarga barunya. Namun kini, ia tak memiliki pilihan lain selain mencobanya sekali lagi. Meski sejujurnya ia enggan untuk melakukannya. Tapi demi simbah, bagaimanapun ia harus mengesampingkan egonya dan mengalah kali ini. *** Hari masih pagi, langkah gadis itu nampak ragu, sesekali berhenti lalu seperti hendak berbalik. Namun pada akhirnya ia memantapkan langkahnya kembali maju menuju lobi. Bisa ia lihat jalanan di depan Rumah Sakit yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Langkahnya kembali meragu. Haruskah ia melakukan ini? Merendahkan harga dirinya dan berlari ke Eros setelah kemarin dengan pongahnya ia menampar teman sebangkunya itu di depan banyak orang. Tapi ... demi simbah. Ini demi Simbah. Lagipula hanya sebuah ciuman bukan? Tapi tetap saja bagi Ayun ciuman itu tidak bisa dikatakan hanya. Ini ciuman pertamanya dan ia melakukannya karena uang. Apa ini bisa disebut bahwa ia menjual harga dirinya? Namun mengingat hari ini Dokter sudah memperbolehkan Simbah untuk pulang. Maka mau tak mau uang itu harus ada. Sementara usahanya berbelas kasih kepada ibunya semalam sama sekali tidak membuahkan hasil. Tidak ada pilihan lain sekarang selain menerima tawaran gila dari Eros. Iya. Persetan dengan harga diri, yang penting Simbah harus pulang hari ini. Sehingga tidak ada kecurigaan bahwa ia sebenarnya ia telah berbohong masalah biaya Rumah Sakit yang ia katakan ditanggung oleh ibunya. Langkahnya kini berubah cepat. Tepat ketika sebuah Bus berwarna putih melaju dari kejauhan. Tangannya melambai tanpa keraguan dan gegas naik saat Bus itu berhenti di hadapannya. Sekali lagi ia meyakinkan dirinya untuk melupakan apa itu harga diri juga rasa malu. Meski mungkin setelahnya ia tak akan memiliki muka lagi di hadapan Eros. Namun melihat bagaimana kondisi simbah saat ini. Ayun sendiri tak memungkiri kemungkinan bahwa ia mungkin tidak bisa meneruskan pendidikannya lagi. *** Beberapa kali saat pulang berjalan kaki, Ayun melihat Eros berada di balkon sebuah rumah berlantai dua. Maka di sinilah ia kini, menunggu Eros keluar dari rumahnya. Keraguan itu jelas masih ada, tapi ia tidak bisa mundur lagi. Maka yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah menebalkan muka, menyetujui tawaran Eros dengan wajah tanpa dosa dan mendapatkan uang itu. Tepat ketika ia mendengar suara deru motor yang tak asing di indera pendengarannya. Tangannya yang berkeringat dingin mengepal kuat, sementara dalam hati terus berusaha mempersiapkan mental. Semoga saja tawaran itu masih berlaku, meskipun mungkin ia sudah membuat Eros marah karena tamparannya kemarin. Detak jantungnya berpacu cepat ketika motor itu kian mendekat padanya. Selangkah ia maju, meski tanpa melakukan itu Eros pasti menyadari bahwa ia tengah menunggunya. Benar saja, tanpa berkata apapun, playboy itu menghentikan motor tepat di hadapannya. Eros membuka kaca helmnya dan melempar senyumnya liciknya, sama persis seperti kemarin. Sejujurnya harga diri Ayun cukup terluka dengan kekalahannya ini. Namun juga terselip kelegaan, melihat bagaimana sikap Eros sepertinya tawaran kemarin masih berlaku. "Ayo, naik ...," ucapnya seraya memberi kode supaya Ayun naik ke atas motornya. "Aku ... butuh uang." Ayun melipat bibirnya setelah selesai berucap ketus. Seberapapun ia membutuhkan uang itu, namun tetap saja, ia tidak ingin semakin menjatuhkan harga dirinya dengan bersikap memelas di depan Eros. "Terus?" Pertanyaan Eros yang sepertinya sangat disengaja untuk membuatnya malu mau tak mau sedikit banyak mempengaruhi nyalinya. Tapi sekali lagi, sudah kepalang tanggung untuk mundur. "Yang kemarin ... aku setuju," ucapnya, masih ketus. "Yang kemarin yang mana ya?" tanya Eros pura-pura lupa, berusaha menahan tawanya yang serasa ingin meledak melihat wajah jutek itu memerah bagai tomat matang. "Yang kemarin ... nggak mungkin kamu pikun secepat itu, kan?" balas Ayun kesal karena tahu Eros sengaja mempermainkannya. "Gue lupa. Coba ingetin, deh ... emang kemarin gue ngomong apa?" Eros melirik wajah manyun yang semakin merah padam. Sebenarnya ia tak tega, tapi jiwa usilnya merasa terpanggil untuk mengerjai gadis jutek yang sulit sekali jatuh dalam pesonanya itu. "Aku pikir kamu serius ... ternyata kamu memang brengsek." Matanya yang berkaca menatap Eros tajam penuh kebencian. Dengan kondisinya yang seperti ini, sebrengsek-brengseknya manusia, tidak seharusnya membuat kesusahan orang lain sebagai bahan candaan. Namun nyatanya, ia salah menilai tentang seorang Eros Adian yang ia pikir masih memiliki hati nurani. Ayun berbalik pergi dengan perasaan terluka. Tidak ada gunanya semalaman ia tidak tidur hanya demi mengambil keputusan konyol ini. Tidak ada gunanya ia pergi pagi-pagi buta, menempuh hampir satu jam perjalanan hanya untuk dipermainkan seperti ini. Ayun mempercepat langkahnya. Sempat berharap bodoh, Eros akan memanggil, menahannya dan mengatakan bahwa ia hanya sedang bercanda saja. Namun nyatanya, motor Eros berlalu begitu saja melewatinya. Membuat seketika itu juga harapan konyolnya benar-benar pupus sudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN