Ayun menutup pintu ruang kasir itu pelan. Perasaan lega seketika melingkupinya. Namun hatinya juga terus bertanya-tanya, kapan Eros datang untuk membayar tagihan Rumah Sakit. Sekarang jam satu siang, otomatis Eros juga belum pulang dari sekolah. Lalu ... tadi pagi itu apa? Apa ia sengaja dikerjai?
Mengabaikan sejenak berbagai pertanyaan yang muncul di kepalanya. Ayun gegas kembali ke ruang perawatan menemui simbah dan Mbak Asiyah yang menunggu di sana.
"Mbak Asiyah mana, Mbah?" tanya Ayun ketika tiba tak mendapati tetangganya itu di sana. Barang-barang bawaan seperti termos, tikar, tas berisi baju kotor juga sudah tak ada lagi.
"Sudah turun duluan tadi, bawa barang-barang," jawab simbah yang sudah terlihat lebih segar.
"Oke ... let's go! Akhirnya kita pulang juga ...," ucap Ayun bersemangat.
"Alhamdulillah ... semoga nggak balik ke sini lagi, ya, Yun. Simbah sehat-sehat terus."
"Amiiiin ...." Ayun mengamini doa itu kencang. Dengan penuh kehati-hatian ia menuntun wanita tua yang begitu ia sayangi itu untuk menuju parkiran. Di sana sudah menunggu mobil yang sengaja Mbak Asiyah sewa untuk membawa mereka pulang. Butuh waktu satu setengah jam lebih untuk mencapai rumah. Dengan kondisi Simbah yang baru membaik, jelas tidak mungkin memaksakan diri naik turun bis juga angkot hanya demi menghemat biaya.
***
Pagi itu Ayun kembali datang ke sekolah setelah sebelumnya sempat berputus asa. Tanpa ia sangka datang sebuah kabar baik, bahwa ibunya pada akhirnya mau mengirimkan sejumlah uang untuk biaya rumah sakit yang sebelumnya ia pinta. Mungkin hati keras wanita yang telah melahirkannya itu luluh juga setelah mendengar bagaimana ia menghiba sambil menangis malam itu.
Remaja itu duduk manis di kursinya, menjawab pertanyaan beberapa teman sekelas yang menanyakan keadaan simbahnya. Sedikit canggung sebenarnya. Karena seringkalinya ia tak masuk akhir-akhir ini.
Beberapa kali ia menengok ke pintu kelas. Siapa lagi yang ia tunggu kedatangannya kalau bukan Eros Adian, yang meskipun menyebalkan namun kemarin playboy itulah yang menjadi malaikat penolongnya.
"Ciee ... nungguin Eros, ya?" Seperti biasa Indah menggodanya.
"Aku ada perlu sama dia, Indah ...," ucap Ayun, supaya teman rempongnya itu tak berpikir yang macam-macam.
"Ada perlu, sih ada perlu ... tapi ya nggak perlu sampai nengok ke pintu terus dong. Kesannya tuh kaya kangen berat gitu loh ...." Ayun memutar bola matanya malas melihat Indah yang malah kegirangan sampai bertingkah seperti cacing kepanasan.
"Tuh ...tuh ... pangeran akhirnya datang!" Suara lantang Indah yang heboh sontak menyita perhatian seisi kelas. Dan Ayun tentunya tak lepas dari rasa keingintahuan mereka. Remaja itu pada akhirnya memilih pura-pura sibuk dengan bukunya demi menyembunyikan rasa malu luar biasa yang terangkum jelas di wajahnya yang panas dan memerah.
"Hemm ... hemm ...." Ayun masih berpura menyibukkan diri saat mendengar suara deheman dari Eros. Sebuah kewajaran jika ia merasa canggung. Apa yang terjadi sebelumnya diantara mereka jelas tak bisa diabaikan. Tamparan, makian dan pada akhirnya pertolongan yang tanpa diduga. Semua terasa mengejutkan bagi Ayun yang sebelumnya sudah dipenuhi rasa benci dan muak pada seorang Eros.
"Cie .... tadi ditungguin, sekarang dicuekin ... gemes deh sama kalian." Ayun mengintip geram pada Indah yang cekikikan tanpa dosa, dari balik poninya. Rasanya ingin ia melakban mulut Indah yang luar biasa comel itu.
"Siapa yang nungguin, Ndah?" Dan Eros dengan sengajanya membuat situasi semakin memalukan untuk Ayun. Memancing jiwa pemberontak Ayun yang menolak penindasan. Hingga pada akhirnya gadis itu mengangkat kepalanya, tak mau terlihat lemah di depan Eros lagi.
"Aku ...," jawabnya cepat dan lantang, sebelum Indah mendahului membuka mulutnya.
"Oh? Kenapa, Beb?" tanya Eros enteng. Namun terang saja, panggilan tak biasa yang terlontar dari bibir Eros itu mau tak mau membuat Ayun mengeryit geli.
"Ma-makasih ...," ucap Ayun singkat, padat dan jelas. Tak ingin memperpanjang pembicaraan dengan adanya indah di sana, yang pasti akan membangkitkan jiwa kempo temannya itu. Benar saja, mata Indah langsung melirik ke kiri kanan memandang ingin tahu pada dua manusia di hadapannya itu.
"Gue udah bilang dari awal, kalau itu nggak gratis," balas Eros enteng sembari melirik penuh kemenangan pada Ayun yang seketika membelalak kaget, dan teringat pada syarat yang Eros ajukan sebelumnya.
"A-aku bakal bayar. Tapi nggak bisa semuanya sekarang ...." Ayun memang berniat mengembalikan uang Eros dengan uang yang ibunya kirim. Meski memang mungkin hanya setengahnya dulu yang bisa ia berikan pada Eros. Karena Simbah harus kontrol lagi beberapa hari ke depan.
"Gue nggak minta duit itu dibalikin ...." Senyum kurang ajar di bibir Eros itu sontak membuat bulu kuduk Ayun merinding. Tanpa diminta otaknya langsung membayangkan "hal gila" yang Eros pinta darinya.
"Lo sendiri yang bilang kemarin, kalau setuju dengan syarat yang gue ajuin ...," imbuh Eros dengan senyum kemenangan. "Lo nggak mungkin pikun secepat itu, kan?"
***
Mendekati jam pelajaran terakhir usai. Mata Ayun lebih sering mencuri pandang mengawasi waktu pada jam dinding yang terpajang di depan kelas. Rasanya waktu berjalan begitu cepat tak seperti biasanya yang terasa lambat. Perasaan Ayun mulai tak tenang, mengingat Eros mengatakan akan meminta timbal balik dari perjanjian hutang kemarin, sepulang sekolah nanti.
Dan ketika pada akhirnya bel tanda pulang itu berbunyi, jantung Ayun mulai berdebar kencang. Tangannya yang gemetar mulai bergerak cepat membereskan peralatan tulisnya tanpa berani sedikitpun melirik pada Eros. Pikirannya hanya satu ... melarikan diri!
Namun sayang, niatnya begitu mudah terbaca. Tiba-tiba saja Eros mencengkeram kuat tangannya tepat ketika ia hendak beranjak dari kursi. Ayun berusaha menarik lepas tangannya. Namun sialnya semakin ia memberontak, semakin kuat dan menyakiti pula cengkeraman Eros. Ingin berteriak tidak mungkin. Jika ia melakukannya, otomatis ia harus siap menjadi pusat perhatian. Sementara Ayun merasa tak nyaman dengan hal itu, terutama tatapan dari geng Anita. Hingga pada akhirnya ia memilih untuk pasrah.
"Eros ... sakit." Begitu hanya tinggal mereka berdua, baru Ayun berani membuka suara dan memprotes.
"Gue paling nggak suka sama orang yang omongannya nggak bisa dipegang." Pada akhirnya Eros melonggarkan cengkeramannya, melirik tajam pada Ayun yang bersungut-sungut melihat kulit tangannya yang kemerahan.
"Aku juga nggak punya niat kabur, kok ...," elak Ayun berbohong, balas melirik sebal.
"Ya udah kalau gitu ...," tantang Eros sembari memutar posisi duduknya menghadap ke arah Ayun.
"Ya-ya udah apa?" tanyanya salah tingkah.
"Tutup mata," titah Eros terus terang dengan wajah mesumnya yang seakan siap mengeksekusi mangsanya.
"Ke-kenapa harus tutup mata?" Ayun terus berusaha mengulur waktu.
"Kalau nggak juga nggak papa sih," jawab Eros enteng membuat Ayun semakin salah tingkah dan kebingungan harus mencari alasan apalagi untuk terhindar dari bencana gila ini.
"Sebentar aja tapi ... sedetik." Pada akhirnya ketika ia tahu bahwa tak ada alasan untuk mengelak. Ayun memilih mengajukan syarat, mencoba peruntungannya.
"Lo tahu nggak itu uang tabungan pribadi gue ... dan lo menghargai uang segitu hanya dengan sebuah ciuman sedetik. Menurut lo itu sepadan?" sinis Eros dengan sengaja memprovokasi.
"Lima detik," tawar Ayun kemudian, berusaha menampilkan wajah memelas supaya Eros tak lagi memaksanya menambah waktu.
"Hemm. Tutup mata buruan. Gue udah nggak tahan," ujar Eros dengan bahasa vulgar yang membuat bulu kuduk Ayun kembali merinding karenanya.
"Janji?" Ayun memastikan sekali lagi.
"Iya, Bawel ... astaga." Eros memencet hidung Ayun gemas. "Tapi kalau lo ketagihan bilang aja ...."
" Isshh ...." Gadis itu mendesis sebal, menepis tangan Eros dari hidungnya. Ketika kalimat vulgar itu kembali terucap dari mulut jahanamnya.
"Buruan ... hadap sini," perintah Eros tak sabaran.
Ayun memutar tubuhnya ragu. Matanya mengawasi pintu kelas takut ada yang melihat perbuatan gila mereka. Maksudnya perbuatan gila Eros. Setelah memastikan tak ada yang mengintip atau mungkin saja lewat di depan kelas mereka. Perlahan Ayun memejamkan matanya. Jangan tanya lagi bagaimana kerja jantungnya saat ini, dan jangan tanya lagi seberapa panas suhu tubuhnya saat ini, yang pasti lebih panas dari suhu udara siang ini.
Satu detik, dua detik. Ayun berhitung dalam hatinya. Hingga pada detik ketiga ia merasakan hawa panas tepat di depan wajahnya. Reflek ia menahan nafas dan tanpa sadar melipat bibirnya dalam-dalam sebagai bentuk ketidaksiapan.
Cup.
Tangannya spontan mengepal kala ciuman itu mendarat ... bukan di bibir melainkan di keningnya. Reflek saja matanya membuka dan mendapati wajah Eros tepat hanya satu jengkal di depan wajahnya.
"Mau dicium di sini atau ... terima cinta gue?" Tiba-tiba saja Eros memberikannya pilihan sembari menunjuk tepat ke bibirnya.
"Hah?" tanyanya gelagapan. Belum siap dengan pilihan yang Eros ajukan secara tiba-tiba.
"Mau dicium di sini atau ... terima cinta gue?" ulang Eros sekali lagi.