Menerima cinta Eros adalah jawaban spontan yang pada akhirnya Ayun berikan, pada playboy yang secara tiba-tiba memberikannya dua pilihan. Ayun pikir itu pilihan terbaik daripada harus melakukan kissing di dalam kelas. Lalu ia pikir, Eros juga pasti akan memperlakukannya sama seperti mantan-mantan pacarnya sebelumnya, yang dalam sehari dua hari pasti akan dibuang begitu saja, dan ia justru akan sangat mensyukuri jika hal itu sampai terjadi. Bahkan detik itu juga ia menunggu.
Namun nyatanya ia salah. Eros justru dengan terang-terangan memberikan perhatian kepadanya. Bahkan sikapnya terkadang berlebihan, sehingga membuatnya merasa tak nyaman dengan pandangan murid-murid sekolahnya. Utamanya dengan Anita juga Mia. Ayun juga yakin banyak di luar sana yang menganggap bahwa seseorang yang biasa-biasa saja sepertinya, tidak serasi untuk menjadi pacar dari seorang Eros Adian, yang memang harus Ayun akui memiliki penampilan menarik di mata kaum hawa. Sementara apalah dirinya yang hanya butiran debu ini. Ayun sadar diri akan hal itu. Tak sekalipun ia berbangga hati diperlakukan istimewa oleh Eros, yang ada justru terbebani.
"Eros?" Sepulang sekolah, Eros selalu mengantarkannya pulang ke rumah. Meskipun sudah berkali-kali menolak bahkan sampai berdebat panjang lebar kali tinggi. Namun berurusan dengan playboy pemaksa satu ini nyatanya bukanlah hal yang mudah. Ia selalu kalah omongan.
"Hemm?" Eros mematikan mesin motor, melihat sepertinya ada yang ingin Ayun bicarakan dengannya. Saat ini mereka sudah berada di pekarangan rumah Ayun, dan seperti biasa, gadis itu tidak berniat mengajak Eros untuk mampir barang sejenak ke rumahnya. Demi meminimalisir omongan tidak mengenakkan dari para tetangga. Tolong garis bawahi, ini di desa bukan di kota.
Ayun menatap Eros, ragu untuk bertanya. "Kamu ... kapan mau mutusin aku?" tanyanya lirih dengan bibir mencebik kesal.
"Hah?" Eros melongo. Alisnya terangkat tinggi, tak menyangka Ayun akan menanyakan pertanyaan konyol semacam itu.
"Kapan ... kita putus?" tanya Ayun sekali lagi, dengan nada hati-hati. Takut menyinggung perasaan Eros. Ya, meskipun playboy satu ini terkadang suka bertindak tanpa perasaan.
"Maksudnya?" Dahi Eros mengeryit terheran. Baru sekali ini, ia menemukan makhluk ajaib semacam Ayun ini. Semua mantan pacarnya tidak ada satupun yang mau diputuskan olehnya. Bisa-bisanya si jutek satu ini malah melakukan hal langka yang berkebalikan.
"Ini udah dua minggu ...," ucapnya polos. Kepolosan yang menjengkelkan di mata Eros. Hingga ingin rasanya ia memberikan hadiah berupa gelas cantik pada gadis ajaib satu ini.
"Terus?" Eros berusaha menaham geram sekaligus geli.
"Terus ... kenapa kita belum putus juga?" Akhirnya Ayun memilih berterus terang daripada terus bertanya-tanya dalam hati. Lagipula ia juga jengah dengan tatapan murid-murid sekolahnya yang selalu menampakkan wajah geli saat melihatnya. Seolah-olah ia semacam kuman yang menjijikkan.
Eros semakin dibuat melongo. Sebegitu tidak menariknyakah dirinya di mata seorang Ayun Premeswari, sampai-sampai ia tidak diinginkan.
"Emang di mata kamu, aku jelek banget, ya?" Jujur Eros kebingungan. Padahal selama dua minggu ini, dia memperlakukan Ayun dengan teramat istimewa, secara terang-terangan di depan banyak orang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan ke mantan-mantan pacarnya sebelumnya. Hingga ia yakin tidak ada satu murid pun di lingkungan sekolah yang tidak mengetahui hubungan mereka. Bahkan ia mengganti panggilan gue lo yang sebelumnya ia pakai dengan aku kamu.
"Ish ... nggak bakalan ada juga yang bilang kamu jelek." Meski gengsi, mau tak mau Ayun harus mengakui bahwa Eros memang goodlooking.
"Terus?" Tak dipungkiri meski Ayun tidak secara terang-terangan memujinya. Namun tetap saja, kalimat itu terasa spesial bagi Eros.
"Aku yang jelek ...." Aku Ayun manyun.
"Iya ... emang kamu jelek. Terus kenapa?" Eros membenarkan pernyataannya dengan enteng, membuat wajah gadis itu semakin memberengut. Harus banget gitu sejujur itu?
"Ya, setidaknya ... nggak perlu diperjelas juga, Bambang!" sungut Ayun sebal.
Tawa Eros pecah, gemas sendiri dengan sikap jutek Ayun yang seperti ini.
"Enggaklah ... sebenarnya kamu, tuh, nggak jelek-jelek amat, cuma butuh sedikit polesan aja. Malah kalau aku liat-liat ...kamu itu mirip sama artis itu lho, Asmirandah ... cuma kamu versi gembelnya hahaha ...."
"Eros ...." Geram sendiri Ayun kalau berhadapan dengan kutu kupret satu ini. Seringkali meninggikannya diawal lalu pada akhirnya menjatuhkannya di akhir tanpa ampun.
"Becanda, Beb ... astaga ...." Tangan usil Eros mulai memencet hidung kecil nan mancung milik Ayun.
"Isshh ... emangnya aku bebek apa?" gerutunya sembari menepis tangan Eros dari hidungnya. Kesal, karena Eros sesuka hati memanggilnya. Apalagi kalau dilakukan di depan umum. Wajahnya bisa semerah kepiting rebus saking malunya. Andai ia bisa punya kekuatan menghilang di saat-saat genting. Seringkali Ayun memiliki imajinasi semacam itu jika mulai frustasi dengan kelakuan Eros. Sayangnya itu semua hanya sekedar khayalan.
"Terus kamu maunya dipanggil apa? Sayang? Oke ... mulai sekarang aku bakal panggil kamu Sayang ...," ujar Eros dengan gaya songongnya yang amit-amit di mata Ayun.
"Ishh ... nggak mau! Panggil Ayun aja." Tidak terbayang malunya kalau sampai Eros memanggillnya sayang di sekolah nanti. "Sana pulang ...," usirnya seperti biasa.
"Astaga ... hobi banget ngusir pacar sendiri?"
"Bodo amat. Oh, iya ... satu lagi. Aku mau kita pacarannya backstreet aja." Ayun berbalik lagi.
"Backstreet gimana maksudnya?" Lagi-lagi Eros dibuat tak habis pikir dengan pemikiran ajaib pacarnya ini.
"Ya, backstreet. Masa nggak tahu ... kamu itu terlalu berlebihan kalau di kelas. Kita itu masih sekolah, aku nggak nyaman ...." Ayun mengeluarkan unek-uneknya.
"Astaga ... itu bukan berlebihan. Tapi aku memperlakukan kamu itu spesial pake cinta, Sayang ...." Ayun kembali meringis geli mendengar panggilan "aneh" itu. Ingin rasanya ia lakban mulut Eros yang suka semaunya itu.
"Erosss ... ja-ngan panggil aku Sa-yang. Jijik tahu nggak?" protesnya lagi membuat Eros justru tertawa lepas melihat ekspresi Ayun yang ia tahu tak dibuat-buat.
"Pokoknya biasa aja kalau di sekolahan. Aku itu nggak suka jadi pusat perhatian ...," tegasnya.
"Iya-iya ... tapi ada syaratnya," ucap Eros dengan senyum licik.
"Syarat?" Perasaan Ayun mulai tak enak, memandang Eros dengan tatapan curiga. Jangan bilang si kutu kupret ini minta yang aneh-aneh lagi.
"Sekali-kali kita jalan keluar ... dan sekali-sekali aku juga boleh mampir ke rumah."
Ayun nampak berpikir sejenak, menimbang apakah tawaran itu bisa ia terima. "Itu tergantung Simbah, kalau dia kasih ijin ... aku mau ...." Ayun balik mengajukan syarat.
"Oke ... nggak masalah. Deal, ya?" Bagi Eros, merayu simbah seolah bukan hal yang sulit.
"Hemm." Ayun mengiyakan cepat. "Ya, udah sana pulang ...," usirnya lagi.
"Astaga, Ayun ....," geram Eros, lama-lama geregetan setiap kali datang selalu diusir. "Ajaib sekali Anda, ya ...."