Genggaman

1068 Kata
Backstreet? Yah, bisa dibilang begitu. Sejak kesepakatan yang mereka setujui bersama waktu lalu. Banyak yang mengira bahwa hubungan mereka telah berakhir, dan menganggap bahwa nasib Ayun sama seperti mantan-mantan Eros yang lain, yakni ter-bu-ang. Tanpa mereka tahu bahwa sepulang sekolah, Eros selalu bersemangat berkunjung ke rumah Ayun, bahkan membantu pekerjaan Simbah dan bersikap layaknya calon mantu idaman. "Eros, kamu nggak pulang?" Jika ada Simbah, Ayun akan mengusir Eros secara halus. Seperti yang ia lakukan saat ini. "Tuh, Mbah ... cucunya hobi banget ngusir tamu," adu Eros pada Simbah dengan memasang wajah memelas. "Ayun ... nggak boleh gitu sama tamu." Ayun memutar bola matanya malas melihat senyum kemenangan di bibir Eros. "Ya ... Ayun bukan ngusir, Mbah. Cuma takutnya Eros bosan aja," elak Ayun membela diri. Sebenarnya Ayun salut juga, Eros mau membantu pekerjaan simbah. Seperti yang dilakukannya sekarang, Eros nampak serius merekatkan kacang mede yang patah dengan tepung terigu. "Nggak mungkinlah aku bosen ... ditemenin Asmirandah gitu, lho ...." Eros mulai lagi dengan mulut usilnya. Pletak! Satu biji mede mendarat mulus di kepala Eros. "Aduh ...." Eros memijat pelipisnya. Bukan karena sakit tapi karena kaget. Ayun menjulurkan lidahnya, puas bisa membalas Eros. "Astaga ... padahal aku muji beneran, Beb ...." "Haha ... nggak perlu pujian, tuh," sahut Ayun keki. Masih gondok kalau ingat pujian Eros yang mengatakan ia mirip Asmirandah, tapi ver-si gem-bel. Sial! Meski nyatanya mulut Eros mengandung kebenaran yang hakiki. "Lagian udah sore, pulang sana, gih," usir Ayun gemas. "Ya ampun ... tanggung juga bentar lagi selesai," balas Eros tak kalah gemas atas pengusiran dirinya untuk yang kesekian kali. "Kamu nggak capek apa?" Ayun sendiri terheran. Orang seperti Eros bisa betah berlama-lama mengerjakan pekerjaan yang membosankan seperti ini. "Ya, demi kamu ... apa sih yang enggak," sahut Eros dengan senyum misterius. "Demi aku ... gimana maksudnya?" Perasaan Ayun mulai tak enak. Sepertinya ada udang di balik bakwan dari sikap Eros yang rajin datang ke rumah membantu Simbah akhir-akhir ini. "Rahasia ... ya, Mbah?" Eros mengerling berkode ke arah Simbah yang hanya menanggapi dengan tawa juga gelengan kepala. "Apaan, sih, Mbah?" Ayun mulai merajuk, berharap Simbah mau membuka mulut dan mengatakan apa yang dimaksud Eros dengan rahasia. "Tanya aja sama Eroslah ...." Ayun melirik sebal pada Eros. Memang playboy satu ini selain ahli mengambil hati gadis muda, ternyata juga ahli mengambil hati wanita tua. Simbah buktinya, padahal dia yang cucu kandung, tapi Simbah selalu saja membela Eros jika mereka sedang berdebat. Sekarang malah mereka sudah main rahasia-rahasiaan di belakangnya. "Mbaaah ...." Ayun kembali merajuk. Ia benar-benar penasaran apa sebenarnya yang mereka rahasiakan darinya. "Itu lho ... Eros Katanya mau ngajak kamu jalan minggu nanti," ucap Simbah pada akhirnya. Ayun melirik Eros yang menunduk, masih sok sibuk dengan kacang mede di tangannya. Namun senyum licik di bibirnya masih bisa ia lihat dengan jelas. Ternyata ... si kutu kupret ini sedang modus rupanya. Tanpa bertanya pun, Ayun tahu kalau Eros pasti sudah berhasil merayu simbah dan pada akhirnya meyetujui rencananya. "Tapi ingat, ya ... jangan lama-lama, jangan macam-macam. Ingat kalian masih sekolah ... jangan sampai kalian merusak masa depan dengan berbuat hal yang tidak semestinya." Kembali simbah mengulang nasehat yang sebelumnya ia berikan pada Eros, ketika remaja itu meminta ijin padanya beberapa hari lalu. Bagaimanapun perasaan was-was akan masa lalu putrinya masih membayangi hingga saat ini. Namun, ia tak ingin terlalu mengekang sang cucu dengan ketakutan-ketakutannya. Ia ingin Ayun juga bisa seperti remaja-remaja yang lain menikmati masa mudanya. Simbah sangat tahu bagaimana kehidupan Ayun dulu di kota saat masih tinggal bersama ibunya. Selama di kampung pun, Ayun selalu menjadi anak rumahan yang penurut dan tidak pernah meminta macam-macam. Jadi, wanita tua itu pikir, tidak ada salahnya membiarkan sang cucu menikmati waktu dengan sekali-sekali mencari hiburan keluar. Apalagi sepertinya Eros juga anak yang baik dan sopan. "Siap, Mbah ...." Eros mengangkat jempolnya sembari mengerling jahil ke Ayun yang nampak manyun. *** "Ayun ...," panggil Anita. Ayun yang baru kembali dari toilet terkesiap mendengar panggilan itu. Ini pertama kalinya Anita mau berbicara dengannya lagi setelah kekacauan yang dibuat oleh Eros. "Iya?" Mata Ayun membeliak tak percaya namun bibirnya menyunggingkan senyum tulus. Jujur, Ayun sangat senang Anita mau menyapanya lagi. Ia berharap ke depannya mereka bisa berteman seperti biasa. "Buat lomba perayaan ulang tahun sekolah. Kamu ikut dance lagi, ya ... nanti sama aku, Santi, Rika sama Dilla juga ...," ajaknya ramah. Tahun lalu Ayun memang ikut berpartisipasi mengikuti lomba dance, mewakili kelas mereka. "Dance?" Ayun nampak menimbang sebentar. Ada kebingungan di matanya, seiring gerakan kakinya yang tak nyaman. "Iya. Kenapa?" Dan gerakan itu dengan mudah terbaca oleh Anita. Hingga pandangan remaja itu turun ke sepatu usang Ayun yang nampak ... memprihatinkan. "Aku ... aku nggak ikut, deh," ucapnya dengan rasa minder yang tak tertutupi. Merasa tak nyaman dengan tatapan Anita yang nampak memperhatikan sepatunya yang mengenaskan. "Sepatu kamu kenapa?" tanya Anita dengan wajah shock yang terlihat dibuat-buat. Padahal pertanyaan itu seharusnya tidak perlu ditanyakan, karena pasti akan membuat Ayun tak nyaman. Apalagi beberapa yang lain langsung menjadikan sepatu tak layak pakai itu jadi pusat perhatian. "Lo nggak punya mata?" Mulut j*****m Eros mulai gatal melihat drama di hadapannya itu. Anita langsung melirik Eros yang memberikan tatapan mengerikan ke arahnya. "Ehm ... Anita, maaf, aku nggak bisa ikut." Ayun lekas menyela sebelum Eros membuat situasi semakin rumit. Segera ia kembali ke bangkunya dan memberi kode pada Eros untuk tidak memperpanjang masalah. Untungnya Pak Syarif datang tepat waktu dan membuat Ayun bisa menarik nafas lega, ketika pada akhirnya dua orang itu saling memupus tatapan permusuhan mereka. Pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Ayun melirik pada ujung sepatu usangnya. Senyum miris terukir tipis di bibirnya. Sepatu itu memang sudah tak layak, tapi mau bagaimana lagi. Nasibnya berbeda dengan anak-anak lain. Ia tidak memiliki orang tua yang bisa menjadi tempat merengek meminta ini dan itu. Gadis itu sudah sangat mensyukuri bisa melanjutkan pendidikannya dengan keadaanya yang seperti ini. Di tengah lamunannya, Ayun nyaris terlonjak kaget, ketika merasakan genggaman lembut pada jemari tangannya di bawah meja. Seakan paham Ayun pasti akan menarik tangannya. Eros lebih dulu mengeratkan genggamannya. Namun fokusnya tetap ke papan tulis seolah sedang serius memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Pada akhirnya Ayun pun hanya bisa pasrah dan ikut berpura seakan tak terjadi apa-apa. Karena tak mungkin juga ia membuat kekacauan di dalam kelas. Entah kenapa, lama-lama ia merasa nyaman dengan usapan lembut berirama yang Eros berikan. Seolah gerakan itu seperti sihir yang menyalurkan ketenangan akan banyak keresahan yang melandanya akhir-akhir ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN