Ayun menoleh pada jam dinding usang yang tergantung di dinding kayu rumahnya. Dinding kayu yang menjadi penyekat antara ruang depan dengan beberapa kamar yang ada di rumah simbah. Sudah pukul delapan pagi. Pantas saja, suara motor Eros yang bising mulai terdengar dari kejauhan.
Gadis itu menarik nafas gelisah. Melihat pantulan dirinya dari kaca busam lemari tua di hadapannya. Ia sama sekali belum bersiap-siap dan tidak ada niatan untuk melakukan itu. Ia baru saja selesai mencuci, belum mandi, penampilannya masih acak-acakan. Bahkan rambutnya pun belum ia rapikan sejak bangun tidur tadi pagi dan hanya ia sanggul asal-asalan.
Hari ini adalah hari minggu. Hari kencan yang paling ingin Ayun lewatkan. Bukan karena tak ingin, terkadang ia pun ingin bersenang-senang dan pergi ke tempat wisata seperti yang dilakukan orang lain. Setidaknya setahun sekali saja pun tak masalah. Namun sayangnya, bahkan untuk pergi ke pasar malam saja, ia harus berpikir ulang untuk melakukan itu. Ia tahu bagaimana simbah bekerja keras, dan rasanya sayang menggunakan uang hanya untuk sekedar kesenangan sesaat. Sementara ada kebutuhan lain yang lebih penting.
"Ayun ... kok kamu belum siap-siap to? Itu Eros udah di depan lho ...." Pandangan Ayun beralih pada kedatangan simbah dengan dua ember kacang mede yang masih utuh beserta kulitnya.
"Ehm itu ... Ayun agak nggak enak badan, Mbah," jawabnya beralasan, berusaha menampilkan wajah lesu. Alasan sebenarnya adalah Ayun malas keluar karena ia tak memiliki baju bagus atau sandal yang sekiranya tak akan membuat Eros malu saat jalan dengannya di luar nanti. Dengan baju seadanya yang ia punya di lemari. Sudah pasti penampilan mereka akan semakin jomplang nanti dan Ayun tidak percaya diri dengan hal itu.
Inilah salah satu alasan kenapa ia tidak tertarik untuk pacaran. Meski ada beberapa yang mencoba mendekati. Karena dengan sendiri, ia tidak perlu terlalu memikirkan penampilannya, atau apakah akan membuat pasangannya malu dengan dirinya yang seadanya.
"Kamu sakit?" Simbah meletakkan ember di lantai tanah rumahnya dan berjalan mendekat dengan khawatir.
"Enggak ... i-itu, Ayun cuma sakit perut, nggak nyaman aja bawaannya ...," imbuhnya lagi, takut simbah mengetahui kebohongannya. Lagipula ia juga tak ingin sampai simbah tahu alasan yang sebenarnya dan membuat wanita yang teramat ia sayangi itu merasa bersalah. Karena tak mampu membelikannya, sekedar baju yang murah sekalipun.
"Oh ... kamu belum sarapan pasti, kok ... iya, kan?" Sudah hafal kebiasaan cucunya kalau hari minggu. Bangun pagi langsung masak, beres-beres rumah lanjut mencuci semua baju kotor. Setelah semua selesai terkadang langsung rebahan sebentar, membaca novel atau majalah yang ia pinjam dari salah satu tetangga mereka. Alhasil, lupa sarapan kalau tidak ia ingatkan.
"Iya sih, Mbah. Ayun temuin Eros dulu, ya," pamitnya seraya ke depan. Sengaja menghindar supaya simbah tak curiga bahwa ia sedang berbohong saat ini.
Di kursi kayu depan rumah, Eros duduk menunggunya. Dalam diam, Ayun mengamati penampilan Eros yang selalu nampak keren. Terlebih hari ini, ia mengenakan kemeja sehingga membuatnya terlihat lebih memukau dari yang biasa Ayun lihat ketika dalam balutan seragam sekolah.
"Ya ampun si Inem ... belum mandi?" canda Eros melihat penampilan Ayun yang masih amburadul. Itulah yang membedakan Ayun dengan mantan-mantan pacar Eros yang lain. Ayun justru ingin menunjukkan penampilan terburuknya supaya Eros ilfeel dan segera memutuskannya. Jika orang lain mungkin akan berbangga diri dipacari murid paling tampan dan populer di sekolah. Ayun justru sebaliknya. Ia merasa terbebani dengan hubungan ini.
Gadis itu duduk di ujung kursi, tidak berniat menanggapi mulut jahil Eros. Lebih tepatnya sedang tidak mood.
"Tumben diem?" Perasaan Eros mulai tak enak melihat wajah masam Ayun.
"Eros ...." Ayun berbicara serius.
"Hemm?" Eros menunggu was-was, mulai menggeser posisi duduknya lebih mendekat. Siap mendengarkan.
"Gimana kalau ... kita putus aja?" Gadis itu menatap Eros lekat. Air muka Eros langsung berubah keruh. Ini sudah kedua kalinya Ayun membahas untuk mengakhiri hubungan mereka. Hal yang membuat Eros tak habis pikir, sebenarnya apa yang kurang dari dirinya. Sehingga Ayun sama sekali tidak memiliki ketertarikan sedikitpun padanya. Padahal di luar sana banyak yang ingin menjadi kekasihnya.
"Memang di mata kamu, aku kurang apa, sih?"
"Bukan kamu yang kurang, tapi aku ...," tukas Ayun cepat. "Lagian apa, sih yang kamu lihat dari gembel kaya aku? Banyak yang lain, yang cantik, yang nggak akan bikin kamu malu kalau diajak jalan bareng ...."
"Ya ampun, Ayun. Aku bilang itu cuma buat becandaan ...." Seketika Eros merasa bersalah pernah menjadikan kata gembel sebagai bahan lawakan sebelumnya.
"Aku tahu ... kamu cuma becanda. Tapi itu kenyataan. Lagian banyak yang mau sama kamu. Kenapa kamu harus ... paksa aku?" Ayun menunduk memainkan jemarinya. Menjadi pacar seorang Eros itu bukanlah hal yang mudah, beban tersendiri untuknya yang terlalu biasa dan miskin ini.
Keheningan melingkupi keduanya sejenak. Senyum miris tersungging di bibir Eros. Ia sendiri tak mengerti, kenapa harus Ayun dari semua gadis yang membuatnya merasa nyaman? Kenapa ia bisa sampai memaksa? Semua awalnya hanya keisengan semata. Tapi kenapa ia merasa tak rela jika hubungan yang ia paksakan ini harus berakhir. Padahal harusnya tidak. Karena harus digaris bawahi sekali lagi, bahwa semua awalnya hanyalah main-main.
"Kamu nggak punya hak untuk memutuskan hubungan kita mau terus berlanjut atau selesai," ucap Eros pada akhirnya.
Ayun menoleh bingung, meminta penjelasan.
"Kamu lupa ... aku sudah kasih uang untuk pengobatan simbah." Eros menyeringai sinis. "Kamu menolak syarat pertama, dan sebagai gantinya kamu menerima syarat kedua. Jadi, aku yang berhak memutuskan gimana ke depannya hubungan kita, mau putus atau lanjut. Ngerti?"
Ayun meneguk ludahnya kasar, tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia lupa, hubungan mereka bermula dari sana. Tapi ia tak menyangka Eros akan menggunakan itu sebagai alat untuk menahannya.
"Emang belum bosen main-main sama cewek miskin kaya aku?" pancing Ayun, berharap menemukan jawaban dari keteguhan Eros masih bertahan dengannya. Sementara dengan yang lain, baru sebentar sudah putus.
"Emang aku pernah bilang kalau main-main?" sanggah Eros.
"Aku tahu, kok kamu cuma main-main. Atau mungkin penasaran aja. Iya, kan?" tebak Ayun jitu, membuat Eros tak berkutik.
"Tapi sekarang aku nggak main-main lagi. Gimana?"
Ayun menoleh, mencoba memahami kalimat yang Eros lontarkan. "Maksudnya?"
"Aku serius."
"Serius apa?"
"Serius sama kamulah ...." Eros menjawab tanpa ragu, yang ditanggapi Ayun dengan decihan juga tawa geli.
"Ada yang lucu?"
"Iya. Kamu lucu ...." Ayun masih tersenyum geli.
"Lucunya di mana? Aku serius, kok ...."
"Sana kamu pulang."
"Astaga ... orang lagi ngomong serius juga malah disuruh pulang." Gemas sendiri Eros dengan kelakuan cewek satu ini. Terlalu ajaib.