Berbagi Cerita

1031 Kata
"Apa main-main sama cewek jelek lebih menyenangkan buat kamu?" Ayun benar-benar penasaran dengan isi kepala Eros. Kenapa harus dirinya? Dirinya ... itik buruk rupa yang melarat? Namun belum sempat Eros menjawab pertanyaan itu, teriakan Simbah membuat dia sejoli yang sedang bersitegang itu sontak terlonjak kaget, beranjak nyaris bersamaan dan berlari ke belakang rumah. Karena sepertinya suara Simbah berasal dari sana. Ayun berlari lebih dulu, sementara Eros menyusul di belakangnya. "Simbah!" Ayun langsung histeris melihat wajah pucat simbah yang terduduk di lantai kamar mandi sembari memegang dadanya. "Si-simbah kenapa?" Perasaan Ayun seketika campur aduk tak karuan. Tangannya yang gemetar merangkul tubuh ringkih itu dan ia bisa merasakan bahwa tubuh Simbah sama bergetarnya seperti dirinya. "Simbah kenapa?" Eros mendekat khawatir. Apalagi wajah simbah benar-benar pucat seolah tak teraliri darah sama sekali. "Tadi simbah hampir kepleset, cuma kok ... sampai gemetaran begini, ya?" ucap simbah lirih, tangannya masih memegangi d**a, merasakan debaran jantungnya yang tak biasa. Ditambah tubuhnya tiba-tiba lemas seperti tak memiliki tenaga sama sekali. "Tadi simbah jatuh? Yang mana yang sakit? Ka-kaki simbah sakit?" Suara Ayun serasa tercekat. Kekhawatiran membuatnya tak mampu mencerna ucapan simbah dengan baik. "Cuma hampir, Yun ... cuma Mbah, kok sampai gemataran begini ...." Simbah menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dan mengatur degup jantungnya supaya normal kembali. "Sini, Eros bantu, biar simbah istirahat di rumah." Eros memberi kode pada Ayun untuk melepas rangkulannya. Ia lalu mengangkat tubuh tua itu dengan penuh kehati-hatian, membawanya ke kasur yang ada di ruang tamu. Karena memang tidak penyekat di ruang depan yang memang cukup luas itu. Dari belakang Ayun melangkah cepat membawa segelas air putih dan lekas memberikannya pada simbah. "A-apa kita ke dokter?" Ayun meremas tangannya yang masih gemetar dan berkeringat dingin. "Nggak usah," jawab Simbah lemah setelah menghabiskan setengah gelas air yang Ayun bawa. Wanita tua itu merasa sudah merasa sedikit lebih tenang. Bibirnya menyunggingkan senyum mencoba menenangkan sang cucu yang nampak begitu mengkhawatirkan dirinya. "Simbah cuma kaget ... nggak papa," ucapnya lembut. "Ya, udah simbah istirahat. Apa mau makan?" tanya Ayun sembari menggenggam tangan renta itu. "Enggak. Mbah istirahat aja sebentar. Nanti juga baikan ...." Wanita tua itu mulai memposisikan kepalanya dibantal. Ayun mengambil selimut dari dalam kamar dan menyelimuti tubuh tua itu hingga sebatas d**a. Cukup lama Ayun berdiri di sisi tempat tidur, memandang wajah Simbah yang nampak damai dengan mata memejam. Ketakutan demi ketakutan kembali datang menguasai. Bayangan perpisahan, kesendirian, kesepian, satu demi satu hadir menghadirkan kecemasan yang luar biasa. Ayun melipat bibirnya kuat-kuat, menahan isaknya agar tak sampai keluar dan mengganggu istirahat simbah. Detik berikutnya, ia tak kuasa lagi dan memilih berlari ke belakang, menuntaskan tangisnya yang semula berusaha ia tahan sekuat tenaga. "Ayun ...." Eros meremas pundak Ayun pelan. "Simbah baik-baik aja, dia cuma kaget ...," ucapnya berusaha menenangkan. "Aku takut ...." Ayun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Berusaha meredam suara tangisnya. "Aku cuma punya simbah di dunia ini," isaknya lirih. "Kamu punya aku, Ayun ...." Reflek saja Eros membawa Ayun dalam pelukannya. Tidak ada maksud lain selain hanya untuk menghibur. Ia paham apa yang Ayun rasakan, meski ada banyak pertanyaan yang selama ini belum sempat ia tanyakan. "Di mata kamu mungkin aku cuma seorang playboy yang nggak punya perasaan. Tapi perlu kamu tahu ... mungkin ini terdengar omong kosong. Sebelum masuk sekolah kita, aku tipe orang yang malas dekat sama cewek. Bahkan aku nggak punya teman dekat cewek sama sekali." "Semua yang aku lakukan di SMK kita, ke-playboy-an aku. Adalah bentuk protes dan rasa frustasi aku. Karena aku masih belum terima dipindah bokap untuk sekolah di sini dengan alasan takut anaknya jadi homo." Ayun menarik wajahnya menjauh, matanya yang basah nampak penasaran dengan penjelasan tentang alasan orang tua Eros memindahkannya bersekolah di SMK yang sebagaian besar muridnya siswi putri. "Aku punya kenangan buruk tentang seorang wanita dan aku benci banget sama wanita itu ... ibu aku sendiri ...." ucap Eros dengan sorot mata terluka. Bibir Ayun terkatup, untuk pertama kalinya ia melihat sorot mata itu dari seseorang yang selama ini ia nilai hanya tahunya memainkan perasaan orang lain. "Aku cuma mau bilang. Dari sekian cewek yang aku kenal ... cuma kamu yang buat aku merasa nyaman. Aku harap, aku juga bisa buat kamu nyaman. Aku bisa jadi apa aja buat kamu, bisa jadi teman, bisa jadi pacar juga bisa jadi keluarga kamu ... kamu nggak sendirian ... ada aku yang akan selalu ada di samping kamu ...." *** Hari ini memang kencan mereka gagal, tapi hari ini mereka banyak bercerita tentang banyak hal. Ayun menjadi tahu, Eros ditinggalkan ibunya sedari kecil, karena sang ibu lebih memilih pergi dengan pria selingkuhannya. Begitupun Eros, menjadi tahu kisah Ayun dan masa lalu ibunya. Keduanya memiliki kisah yang berbeda, tapi memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang wanita yang melahirkan mereka. "Aku pulang ...," pamit Eros menjelang siang. Sebenarnya inginnya ia di sini seharian, menemani Ayun yang masih terus dilanda kekhawatiran. Terlihat bagaimana gadis itu tidak bisa mengalihkan pandang dari simbahnya yang masih tertidur pulas hingga saat ini. Namun ia sadar bahwa tak baik bertamu lama-lama di rumah seorang gadis. Takutnya Ayun akan mendapat penilaian buruk nantinya dari warga sekitar. Ayun berdiri, mengantar Eros keluar. Untuk pertama kalinya ia ingin Eros tetap tinggal, menemaninya dan banyak bercerita lagi. Karena jujur saja, bersama Eros membuat ketakutan dan kecemasan yang menyiksanya sedikit berkurang. "Buat kamu ...." Eros menyodorkan bingkisan berukuran cukup besar. Berbentuk kubus dan dibungkus kertas kado dengan gambar bunga-bunga. "Happy birthday ...," ucap Eros dengan senyum tulus. Ayun menerima hadiah itu, ragu, bingung. Otaknya berusaha mengingat-ingat tanggal dan bulan apa hari ini. Remaja itu menatap Eros dengan pandangan tak percaya, Eros tahu hari ulang tahunnya. Sementara ia bahkan sama sekali tak mengingatnya. Tidak pernah ada yang spesial di hari jadinya selama ini. Tidak pernah ada perayaan, ataupun sekedar ucapan. Apalagi hadiah ulang tahun. Ini adalah yang pertama kalinya, jadi jujur saja Ayun merasakan perasaan haru luar biasa sampai rasanya tak bisa berkata apa-apa lagi. "Harus dipakai ... kalau nggak aku marah. Ngerti?" ancam Eros. Anehnya Ayun justru mengangguk patuh. Padahal harusnya ancaman itu tidak mempengaruhinya mengingat betapa inginnya ia terlepas dari jeratan Eros selama ini. Namun ternyata pembicaraan singkat mereka hari ini mulai membuatnya menilai Eros dari sisi yang berbeda dari sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN