Sinyal Positif

1037 Kata
Ayun memandang hadiah ulang tahun pertamanya dengan takjub. Ada perasaan haru yang sulit untuk ia lukiskan. Ini adalah hadiah pertama di sepanjang enam belas tahun hidupnya. Juga ucapan selamat ulang tahun pertama yang ia terima dari seseorang yang tak ia sangka dari orang yang ia nilai buruk sebelumnya. Bagi orang sepertinya, yang sedari kecil tak mendapatkan kasih sayang dan ketika besar tahu kehadirannya tak diharapkan oleh ibu kandungnya sendiri. Yang ketika menginginkan sesuatu tak memiliki keberanian untuk meminta, dan hanya bisa memendam semua keluh kesah dalam hati. Perhatian dan kebaikan sekecil apapun yang orang lain berikan padanya, terasa begitu berharga. "Dari Eros, Yun?" Ayun terperanjak kaget, tersadar dari lamunan panjangnya. Baru menyadari bahwa simbah sudah bangun dan duduk di tempat tidur tua itu tengah menatapnya. "Simbah? Gimana keadaan Mbah sekarang? Masih gemetaran, atau ada yang sakit?" Alih-alih menjawab, Ayun justru balik bertanya. Beberapa jam ini, ia terus dilanda rasa was-was, takut keadaan Simbah semakin memburuk ketika terbangun nanti. Maka tak heran, hal pertama yang ingin Ayun ketahui adalah keadaan wanita tua yang begitu ia sayangi itu. "Alhamdulillah ... sudah mendingan ...," jawab wanita tua itu dengan senyum lembut. "Kita ke dokter ...." "Nggak usah. Simbah cuma kelelahan aja tadi. Istirahat bentar udah enakan," potongnya cepat. "Yakin? Tapi tadi ...." "Udah ... Simbah udah nggak papa ini,Yun," potongnya lagi sembari tersenyum. Gadis itu balas tersenyum, begitu jelas tergambar kelegaan dari matanya yang berbinar penuh rasa syukur. Meski tentu saja, jauh di dalam hatinya kekhawatiran itu akan terus ada dan mengikuti setiap saat juga setiap waktu. "Hadiah dari Eros?" tanya Simbah lagi. Ayun mengangguk sembari melirik bingkisan di atas meja yang belum sempat ia buka. Bingkisannya berukuran sedang, membuatnya penasaran akan isi di dalamnya. Kira-kira apa yang Eros berikan untuknya. "Sepertinya Eros anaknya baik lho," ucap simbah kemudian. "Gimana perasaan kamu ke dia, Nduk?" Mata Ayun mengerjap, ini pertama kalinya simbah menanyakan tentang Eros. Sebelumnya, meski Eros sering datang, bisa dikatakan hampir setiap hari malah ke rumah. Tapi simbah tidak pernah membahas tentang seperti apa hubungan yang mereka jalani. Sesekali hanya menasehati, mengingatkan, supaya ia tidak mengulang kesalahan ibunya dulu. "Dekat boleh, tapi jangan sampai kebablasan. Kamu tahu sendiri akibatnya gimana." Nasehat simbah kala itu. "Ayun ... nggak tahu, Mbah," jawab Ayun bingung. Ya, secara fisik memang harus Ayun akui bahwa Eros memiliki daya tarik yang membuat para gadis mudah untuk jatuh hati. Namun karena kelakuannya yang menjengkelkan dan sesuka hati, sempat membuatnya kesal dan menilai buruk. Tapi hari ini, ia melihat sisi lain dari seorang Eros dan jujur saja hatinya mulai tersentuh. "Kalau memang suka ... bilang suka. Kalau nggak, tolak baik-baik, jangan kasar-kasar, ya, Yun sama laki-laki," ucap simbah memberi nasehat. Meski tak banyak bertanya, tapi diam-diam simbah mengamati bagaimana cucunya sepertinya masih bimbang dengan perasaannya sendiri. Ayun hanya mengangguk pelan sebelum kemudian mengalihkan pembicaraan. "Simbah mau minum? Atau makan?" "Ya ... ayo, kamu pasti juga belum makan, kan?" Simbah merapikan rambut Ayun yang berantakan. Perasaan bersalah terlukis di mata tuanya. Seberapapun ia berusaha untuk kuat, untuk sehat dan tidak membuat sang cucu terus khawatir dengan keadaannya. Namun nyatanya sulit untuk mengendalikan tubuh rentanya yang kian lemah dimakan usia dan penyakit, agar tetap terlihat baik-baik saja. "Ayun, ambil dulu, Mbah tunggu sini ...," pamitnya sembari lekas mengalihkan pandang dari wajah penuh kerutan juga gurat lelah itu. Setiap kali melihatnya, ada nyeri di sudut hati. Perasaan takut kehilangan yang begitu besar. *** Melangkah menaiki tangga menuju kelasnya. Mata Ayun tak lepas dari sepasang sepatu baru yang menghias kakinya. Awalnya ia ragu untuk memakai hadiah dari Eros itu hari ini. Namun ia pikir, tak ada salahnya, bukankah itu salah satu cara kita menghargai pemberian orang lain? Yakni dengan memakainya. "Cie ... sepatu baru ...." Celetukan itu seketika membuat kepala Ayun mendongak dan saat itu juga ia menemukan Eros yang berjalan mensejajarinya. Wajahnya bersemu merah. "Cantik banget hari ini ...." Jika biasanya Ayun akan melempar senyum sinis dengan bualan Eros yang menurutnya mengada-ngada dan tak sesuai kenyataan. Tapi kali ini berbeda, Ayun merasakan wajahnya memanas. Itu karena, cara Eros memujinya berbeda dari biasanya, yang selalu memasang wajah jahil bin usil. Ditambah lagi dengan kedekatan mereka kemarin. Semakin terbawa perasaanlah hati Ayun saat ini. "Sepatunya ... maksudnya, Neng." Tawa Eros meledak, wajahnya yang semula menampakkan keseriusan berubah kembali pada wujud aslinya yang iseng dan menyebalkan. Wajah Ayun memerah menahan malu. Bibirnya langsung memberengut dan bibirnya mendesis sebal. "Isshh ... Eros!" Tangan Ayun bersiap menghadiahkan cubitan, tapi Eros lebih cepat berkelit menghindar. Tapi Ayun tentu saja tak membiarkan Eros kabur begitu saja setelah mempermainkannya. Hingga akhirnya terjadilah drama kejar-kejaran dua sejoli itu hingga berakhir di dalam kelas. "Ciee ... kalian balikan lagi, ya?" Seru Indah melihat dua manusia yang sedang asyik memainkan drama penyiksaan di pojok kelas. Tepatnya di tempat duduk mereka. "Iya ...," jawab Ayun tanpa ragu setelah puas memukuli Eros dengan menggunakan tasnya. "Syukurin." Ayun menjulurkan lidahnya dengan tawa kemenangan, merasa puas setelah menyiksa Eros. Namun jawaban "iya" dari bibir Ayun lebih menarik bagi Eros dibandingkan tawa jahat Ayun yang nampak bahagia setelah puas menyiksanya. "Iya?" tanyanya memastikan. Karena selama beberapa minggu ini mereka cukup sukses memainkan drama backstreet yang Ayun mau. Namun dengan jawaban "iya" yang baru saja terucap, jelas drama yang sejujurnya berat untuk Eros lakoni itu tak perlu mereka lanjutkan lagi. Berarti ia bebas menunjukkan perhatiannya lagi. "Ya ... iya," jawab Ayun singkat. Wajahnya yang memanas kemudian mencari objek lain supaya Eros tak menyadari bahwa saat ini ia sedang salah tingkah. Setelah memikirkan nasehat simbah kemarin. Akhirnya Ayun mulai memberanikan diri untuk jujur dengan perasaannya sendiri bahwa Eros sebenarnya telah berhasil menyentuh hatinya yang semula terus meragu dan tak percaya diri. Eros mengulum senyumnya, berusaha terlihat cool padahal hatinya tengah bersorak gembira. Setelah sekian lamanya, ini adalah pertama kalinya si jutek yang selalu ketus padanya itu menunjukkan wajah malu-malu. Itu artinya ...? "Karena apa?" tanya Eros penasaran. "Sepatu," jawab Ayun asal, masih menghindari bersitatap dengan Eros. Masih malu. Duh, apa begini rasanya orang jatuh cinta? "Ya udah kamu mau apalagi?" Eros antusias. Ayun melotot, seolah mengatakan bahwa ia tidak serius dengan jawaban asalnya tadi. Eros justru tersenyum jahil. Akhirnya ia memilih menanggapi dengan kejahilan yang sama. "Ya udah ... aku minta ...." Ayun berpura berpikir. "Aku minta dibuatkan seribu candi dalam waktu semalam. Bisa?" Ayun tersenyum puas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN