Ayun memasukkan buku pelajarannya ke dalam laci. Saat itulah ia merasakan seperti ada sesuatu yang bergeser di laci mejanya. Tangannya merogoh lebih ke dalam dan menemukan sebuah bingkisan plastik di sana. Dengan rasa penasaran Ayun menarik plastik itu keluar, karena seingatnya ia tidak menyimpan apapun di dalam lacinya selain buku pelajaran.
Dahinya mengeryit ketika mengintip isi dari plastik hitam itu. Ada banyak jajanan, mulai dari kacang-kacangan, biskuit, roti juga minuman. Tangannya kemudian meraih sobekan kertas putih yang ada di antara jajanan itu.
Dimakan, ya, Nyonyah. Habisin, biar tambah sexy ...."
Dari calon suami idaman paling pengertian sejagad raya.
Tawa Ayun nyaris pecah membaca pesan ngawur yang ditulis Eros di sana. Namun untungnya ia berhasil menahannya. Oke, cukup dia yang tahu seberapa somplaknya calon suaminya itu. Eh, salah ... Ayun menutup mulutnya, merasa gila karena mulai ketularan virus sablengnya Eros.
"Jangan gila, Ayun ... kita masih anak sekolah, dua SMK ...." Pada akhirnya ia malah bersenandung lirih menyanyikan lagu Chrisye sembari membuka satu bungkus biskuit rasa coklat yang menarik perhatiannya. Lalu menyimpan kembali sisanya ke dalam laci.
Eros memang sering mengajaknya ke kantin. Namun ia selalu menolaknya, dengan alasan, tentu saja tak jauh-jauh dari uang sakunya yang pas-pasan. Meski ia tahu, Eros tak akan membiarkannya membayar makanannya sendiri. Tapi justru karena itulah, Ayun tak enak hati, juga ia tak ingin Eros sampai berpikir bahwa ia hanya memanfaatkannya saja.
***
"Kenapa nggak dimakan?" protes Eros ketika mengecek kantong plastik yang sengaja ia tinggalkan di laci meja Ayun nyaris masih utuh isinya.
"Tadi udah aku makan ...," jawab Ayun sembari menyiapkan buku untuk mata pelajaran berikutnya.
"Makan angin kali ah ...," dengus Eros dengan wajah masam. Selalu seperti ini, Ayun selalu menolak jika ia menawarkan makanan dengan alasan ini dan itu.
"Tadi aku makan biskuitnya, Eros. Serius ...." Ayun membela diri.
"Biskuit doang mana kenyang ...," gerutuan Eros berlanjut.
"Kenyang, kok ...."
"Apa susahnya sih tinggal dimakan juga?
"Itu kan juga udah dimakan," jawab Ayun tak mau kalah.
"Kalau dibilangin ... jawab terus, sekali-kali dengerin kek kalau suami ngomong ...."
Bukk!
LKS Matematika itu mendarat mulus membungkam mulut Eros. Ayun melotot galak, mengamati keadaan sekitar sembari berdoa tidak ada yang mendengar bualan tak tahu malu yang Eros lontarkan. Seketika ia menarik nafas lega. Karena riuhnya suasana kelas yang sedang membahas perayaan ulang tahun sekolah benar-benar menolongnya.
"Astaga ... takut amat, sih, Beb. Tinggal diaminin juga ...," ujar Eros enteng.
"Erosss ...," geram Ayun. "Kita ini masih kecil, jangan mikir yang nggak-nggak deh ...."
"Aneh-aneh gimana, sih? Kata orang ... omongan itu adalah doa, lho. Lagian kalau jadi beneran, kamu juga yang untung dapat suami ganteng, penyayang, setia ...."
"Stop!" Ayun kembali membungkam mulut Eros dengan buku LKS-nya. Tapi kali ini dengan gerakan pelan. "Tadi kamu bilang apa? Setia?" Ayun menarik ujung bibirnya. "Haha ... sepertinya Anda amnesia, Bapak?" Ayun tersenyum keki.
"Astaga ... masih aja ya kamu bahas itu lagi." Eros membuang nafas kasar. "Aku udah tobat, Beb. Memang kamu pernah lihat aku sama cewek lain setelah sama kamu?"
"Ya, aku nggak tahu, ya ... dan nggak mau tahu, tuh," jawab Ayun dengan ekspresi bodo amat.
"Aku cium, nih?" Mata Eros mendelik. Gemas sendiri dengan sikap Ayun yang kelewat cuek padanya. "Aduh ... astaga, Ayun ...." Eros meringis kesakitan setelah dengan teganya Ayun menginjak sepatunya.
"Makanya jangan m***m," tukas Ayun melengos sebal. Sebaliknya Eros justru tertawa terbahak.
***
Perayaan ulang tahun sekolah berlangsung begitu meriah. Ada banyak lomba yang diadakan, mulai dari pidato, dance, nyanyi, dan masih banyak lainnya. Halaman sekolah dijadikan panggung sederhana. Semua murid berkumpul, bersorak sorai gembira mendukung perwakilan kelas mereka yang ikut dalam lomba. Semua hanyut dalam keceriaan, tak terkecuali Ayun yang nampak antusias menikmati acara demi acara.
"Sana ikut joget." Eros menyenggol bahu Ayun jahil.
"Nggak mau," tolak Ayun mentah-mentah. "Kamu aja sana ...." Ayun balas mendorong Eros ke depan.
"Haishhh ... berdua aja, yuk." Eros menarik tangan Ayun untuk ke depan. Namun sekuat tenaga Ayun menahan bobot tubuhnya supaya tidak tertarik oleh tenaga Eros.
"Eros, ih ... aku marah, nih," ancam Ayun kesal. Apalagi setelahnya, sikap jahil Eros ini membuat mereka benar-benar menjadi pusat perhatian dan mendapat sorakan untuk maju ke depan.
Wajah Ayun merah padam dikuasai rasa malu luar biasa. Ditepis tangan Eros dan memilih menyingkir dari keramaian. Hingga suara sorakan kembali terdengar.
"Ayun!" Eros mengejar Ayun yang berlari menaiki tangga menuju kelas mereka. "Sorry ... sorry ... tadi aku cuma becanda ...." Eros berusaha memberi penjelasan. Namun Ayun malah semakin mempercepat langkah tanpa menanggapi permintaan maafnya.
"Ayuuun ... aku benar-benar minta maaf." Tanpa pikir panjang Eros memeluk tubuh mungil itu dari belakang demi menahan pergerakannya. Padahal jelas ia tahu tindakannya itu sudah pasti akan membuat Ayun semakin murka.
"Lepasin, Eros. Kamu gila, ya? Ini di sekolah ...." Ayun memberontak kuat.
"So-sorry ...." Eros mengangkat tangannya, menyadari sikapnya yang sudah melewati batas.
"Kamu itu ...." Gadis itu membuang nafas kasar. "Mending kita putus aja, deh ...."
"Pu-putus?" tanya Eros tak habis pikir.
"Masalah hutang, aku pasti bayar. Tapi nggak bisa sekarang ...."
"Ayun!"
"Sejak jadi pacar kamu, aku jadi nggak punya rasa percaya diri lagi. Aku jadi merasa jadi banyak musuh, aku jadi merasa banyak yang benci sama aku ... dan aku nggak tahu sebenarnya apa motif kamu jadiin orang kaya aku pacar kamu?"
"Kamu ngomong apa, sih? Motif apa? Orang kaya kamu gimana?"
"Aku itu terlalu biasa buat orang kaya kamu. Apa kamu nggak sadar juga? Banyak yang ngomongin aku di belakang."
"Buat apa pikirin omongan orang. Kita yang jalani, dan kita juga nggak bikin mereka rugi ini ...."
"Iya. Kamu gampang ngomong gitu. Tapi aku minder, Eros. Udahlah, kamu nggak bakalan ngerti perasaan orang jelek dan miskin kaya aku ...." Ayun berbalik menuju ke dalam kelas. Sudah tidak mood lagi untuk melanjutkan menonton acara perayaan ulang tahun sekolah.
"Dengar, Ayun. Nggak akan ada kata putus diantara kita. Sudah aku bilang, aku yang berhak memutuskan hubungan kita mau lanjut atau udahan. Kecuali kamu bisa bayar hutang kamu sekarang," tegas Eros ketika tangan Ayun hendak membuka handle pintu kelas.
Perdebatan itu mungkin akan berlanjut, jika Indah tak muncul menengahi dengan membawa sebuah kabar.
"Ayun ... suruh ke ruang guru," ucap Indah hati-hati.
"Kenapa?" Perasaan Ayun tak enak. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi?
"Aku nggak tahu, coba kamu turun dulu ... sekarang, ya. Soalnya ditunggu ...."