Begitu melihat Mas farhan, suami Mbak Asiyah yang berdiri di depan ruang guru. Perasaan Ayun mulai tak karuan. Sebuah prasangka buruk tentang simbah memenuhi kepalanya. Terlebih beberapa hari ini simbah memang kurang sehat dan nafsu makannya juga semakin berkurang.
"Mas Farhan?" Belum-belum mata gadis itu sudah berkaca-kaca dan tubuhnya melemas seolah tulang-tulangnya baru saja dilolosi. Detak jantungnya berpacu cepat, sementara dalam hatinya terus berharap bahwa bukan kabar buruk yang akan tetangganya itu bawa.
Sementara itu Eros mengikuti tak jauh dari belakangnya, perasaannya pun sama takut dan khawatir. Karena baginya simbah sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Setiap ia datang, wanita tua itu selalu menyambutnya ramah dan memperlakukannya dengan begitu baik, seolah ia juga adalah cucu kandungnya sendiri. Ia juga khawatir dengan nasib Ayun jika nantinya simbah benar-benar meninggalkan gadis itu sendirian. Sementara yang ia tahu orang tuanya tak bisa diharapkan.
"Simbah tadi pingsan, Yun ... dia nyariin kamu terus." Tangis Ayun pecah saat itu juga. Ada sedikit perasaan lega, karena sebelumnya ia sudah berfikir jauh tentang kemungkinan terburuk bahwa kabar yang akan Mas Farhan bawa adalah kabar yang paling tidak ingin ia dengar.
"Mas sudah ijin tadi sama guru kamu. Kamu ambil tas, ya ... kita pulang sekarang." Ayun hanya bisa mengangguk, bibirnya tak bisa mengucap apapun. Gegas saja ia berlari menuju kelasnya untk mengambil tasnya.
"Gimana keadaan simbah sekarang, Mas?" Eros mendekat, mencoba mencari tahu. Bagaimanapun tak mungkin Ayun sampai dijemput untuk pulang kalau keadaan simbah tidak mengkhawatirkan.
"Dokter sih, menyarankan rawat inap, tapi Mbahnya minta pulang terus. Ya ... kita sebagai tetangga gimana, ya ... kita mau diskusi dulu sama Ayun. Baiknya gimana nanti," terang pria berkumis tipis itu. Wajahnya nampak prihatin dengan nasib tetangganya itu. Karena ia pun paham apa yang telah dilewati remaja itu.
Eros mengangguk memaklumi. Tangannya bergerak bimbang dan menimbang, ingin ikut Ayun pulang. Tapi ia tak yakin akan diijinkan oleh pihak sekolah. Sementara dengan adanya perayaan ulang tahun sekolah ini, sudah pasti acara akan selesai sampai sore nanti.
***
Ayun benar-benar tak bisa melakukan apapun selain duduk, memandang wajah damai simbah yang masih terlelap setelah meminum obatnya tadi. Bulir demi bulir air mata terus menetes menemaninya dalam keheningan. Mungkin hanya dua suap bubur yang sanggup simbah makan tadi. Itupun dengan susah payah simbah menelannya dan tentunya atas bujukannya.
Jangan tanyakan lagi seberapa takutnya Ayun saat ini. Dunianya serasa gelap. Ketakutan demi ketakutan membayangi, lebih dan lebih dari apa yang ia rasakan sebelum-sebelumnya. Ia tidak pernah melihat kondisi simbah separah ini, dan hal itu membuatnya seketika kehilangan harapan.
Seseorang meremas pundaknya, pelan. Gadis itu menoleh pada kedatangan seseorang yang benar-benar tak ia sadari kedatangannya. Pikirannya terus melayang jauh, pada sebuah masa depan di mana tidak ada simbah di dalamnya. Di mana ia sebatang kara, kesepian dan kebingungan tak tahu arah. Bagaimana ia akan menjalani hidupnya nanti?
Air matanya kian menderas ketika mengetahui siapa yang datang. Eros. Seseorang yang selalu ada dan menemaninya akhir-akhir ini. Seseorang yang terus berada dan memaksa untuk terus di sampingnya, meski terkadang harus Ayun akui sikapnya sering tak ramah dan beberapa kali ia menginginkan Eros menjauh darinya.
"Simbah pasti baik-baik aja ...," bisik Eros lirih sembari menghapus air mata Ayun dengan jemarinya.
"Aku takut ...." Hanya sebatas itu Ayun sanggup mengatakannya, bibirnya tak memiliki keberanian sedikitpun untuk mengucapkan apa yang ia takutkan dalam bentuk kata-kata, dan Eros paham akan hal itu.
"Aku sudah pernah bilang, kan? Kamu nggak sendirian ... kamu masih punya aku. Apapun yang terjadi nanti, kamu harus ingat. Kalau kamu masih punya aku ...." Eros terus berusaha menguatkan.
Ayun melipat bibirnya kuat seiring tangisnya yang kian tak terbendung lagi. Sekuat tenaga nenahan suara isaknya agar tak sampai menggganggu tidur simbahnya.
"Maaf ...," ucapnya kemudian.
"Maaf ... buat?" tanya Eros tak mengerti.
"Aku ... sering marah-marah nggak jelas sama kamu." Meski malu mengakui, tapi memang Ayun sendiri menyadari sikapnya yang terkadang tak terkontrol jika menghadapi Eros. Ia hanya merasa bingung juga tidak percaya diri. Kenapa diantara banyak gadis di sekolah, Eros harus merasa nyaman dengannya, yang selalu bersikap tak ramah, yang bukan siswi populer, berpenampilan biasa juga miskin. Sehingga ia banyak menerima omongan dan perlakuan tidak menyenangkan dari banyak siswi lain di sekolahnya.
Ia juga takut dipermainkan. Mengingat bagaimana Eros selama ini berlaku tanpa perasaan pada gadis-gadis yang dipacarinya. Ia hanya berusaha menjaga hati untuk tidak mudah jatuh. Hidupnya sudah suram, ia tak ingin semakin terpuruk jika nantinya akan berakhir dicampakkan. Meski kini nyatanya ia merasa kalah. Sedikit banyak hatinya sebenarnya sudah mulai jatuh untuk Eros.
"Aku nggak masalah kamu marah-marah. Asal jangan pernah minta putus lagi ...." Eros tersenyum tipis. Ia justru lebih suka melihat Ayun yang jutek, yang galak, yang cerewet dibandingkan harus melihatnya bersedih dan menangis seperti sekarang. Karena jujur saja, hatinya ikut sakit melihatnya. Kisah mereka nyaris sama sebenarnya. Tapi setidaknya ia masih memiliki ayah, juga materi yang kecukupan. Ia jauh lebih beruntung jika dibandingkan Ayun.
"Aku juga sering ngerepotin kamu," imbuhnya.
"Dan aku lebih senang kamu repotin daripada kamu minta aku menjauh ...," ucap Eros sendu, menatap mata basah itu dengan penuh perasaan. Menyalurkan apa yang ia rasakan. Berharap Ayun menyadari bahwa ia sungguh-sungguh dengan apa yang mereka jalani.
"Mungkin sulit buat kamu percaya. Jujur ... awalnya aku memang cuma mau main-main sama kamu. Aku pikir kamu cuma pura-pura jual mahal. Tapi ternyata kamu beda dari yang lain, kamu apa adanya dan akhirnya aku sadar, kalau aku udah jatuh cinta sama kamu." Akhirnya Eros memiliki kesempatan untuk membuat pengakuan tentang apa yang sesungguhnya ia rasakan.
"Tapi ... setelah itu, aku bingung ... gimana caranya lagi supaya kamu juga bisa jatuh cinta sama aku?"
Mata basah itu melebar mendengar pengakuan Eros. Berkali Eros bicara tentang keseriusannya. Namun Ayun sulit untuk mempercayainya seratus persen. Ia merasa tidak ada yang istimewa dari dirinya. Sekarang saja banyak cibiran yang dilayangkan kepadanya dari murid-murid sekolah. Membuat perasaan minder juga kurangnya kepercayaan diri yang ia miliki kian bertambah. Sebegitu tidak pantasnya ia untuk menjadi kekasih Eros di mata orang lain.
"Apa karena dulu aku playboy?" Eros bicara lagi melihat Ayun masih membisu dan hanya diam menatapnya. "Aku serius. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu ...."