Semakin hari keadaan simbah kian memburuk. Sejak hari itu, Ayun tidak pernah berangkat sekolah lagi. Fokusnya sepenuhnya untuk merawat simbah. Lagipula ia sudah lama ingin menyerah dengan sekolahnya. Apalagi melihat bagaimana kondisi kesehatan simbah yang terus menurun. Feeling-nya mengatakan bahwa cepat atau lambat, ia harus mengubur mimpinya dalam-dalam untuk menyelesaikan pendidikan. Jangankan untuk biaya sekolah. Untuk makan sehari-hari saja sulit. Wali kelasnya juga beberapa kali datang ke rumah. Namun Ayun tak bisa berbuat apa-apa, keadaannya seperti ini. Tidak mungkin juga ia meninggalkan simbah seorang diri dalam keadaan lemah dan kesakitan sendiri. Baginya simbah adalah segala-galanya. Satu-satunya keluarga yang memberinya kasih sayang tulus. Memperjuangkannya tanpa peduli dengan

