Ayun diam tak bergeming di sudut tempat tidur tua itu. Hanya air matanya yang berbicara, menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Apa yang ia takutkan telah menjadi kenyataan. Simbah benar-benar telah pergi untuk selama-lamanya. Tepat setelah putri satu-satunya yang mungkin begitu ia tunggu kedatangannya, memeluknya untuk terakhir kali. Ayun tahu hari ini pasti akan datang. Namun tetap saja rasanya seperti mimpi. Sulit untuk menerima kehilangan ini. Simbah yang menyayanginya, selalu menguatkannya, menghiburnya, memberinya semangat, mendoakannya setiap waktu. Kini sudah tiada lagi di dunia ini. Ia benar-benar sendirian sekarang. "Ayun ... yang kuat ya, Nduk." Mbak Asiyah memeluknya. Saat itulah baru tangis Ayun benar-benar pecah. Gadis itu menumpahkan tangisnya dalam pelukan wanita ber

