Semalaman Ayun terus memikirkan, pilihan mana yang harus ia ambil. Hingga pagi ini matanya nampak membengkak, karena pada akhirnya ia tetap pada pilihan pertamanya untuk ikut ibunya kembali ke Jakarta. Itu artinya, semua benar-benar akan berakhir untuk dirinya juga Eros. "Kamu nangisin pacar kamu?" tanya Yani, yang diam-diam memperhatikan gelagat putrinya yang sebentar-sebentar mengusap matanya. Ayun menoleh sekilas, sebelum kemudian mengangguk mengakui. Ia rasa, ibunya juga pernah muda dan tentu saja pernah patah hati. Bahkan mungkin lebih dari patah hati. Ibunya hamil di luar nikah lalu terusir dari rumah. Ayun rasa, kini ia mulai sedikit bisa memahami perasaan ibunya dulu. Jadi mungkin wajar kalau ibunya tak menyayanginya dan menganggapnya anak pembawa sial. Atau mungkin, kehadirannya

