Putus?

1015 Kata
"Mbah, Ayun berangkat dulu." Gadis itu mencium tangan simbah, sebelum akhirnya berlari ikut naik angkot milik tetangganya, yang biasanya akan mengantarkan para penumpang dan pedagang ke pasar wage, pasar dekat sekolah Ayun. Berangkatnya lebih pagi memang jika dibandingkan angkot yang biasa mengantarkannya ke sekolah. Tapi justru itulah yang Ayun cari. Hari ini Anita piket, seperti biasa ia yang menggantikan jadwal piket teman sekelasnya itu. Tentu saja dengan imbalan uang. Lumayan, buat tambahan uang saku, tak apalah ia merendahkan dirinya seperti ini. Ayun tahu, beberapa teman ada yang membicarakannya di belakang. Namun ia memilih tutup telinga. Terserah orang mau bilang apa. Ia hanya ingin membantu meringankan beban simbah. Jadi apapun akan ia lakukan. Termasuk, mengerjakan PR teman, menggantikan piket mereka dan lain-lainnya. Apapun yang bisa jadi uang ia kerjakan tanpa merasa malu sama sekali. Toh, ia tidak merugikan orang lain. Sesampainya di pasar wage, Ayun segera turun. Angkot memang hanya berhenti sampai di sana dan ia harus berjalan kira-kira sepuluh menitan untuk mencapai gedung sekolahnya. Langkahnya ringan namun cepat, sekali lagi Ayun tidak bisa kalau harus berjalan ala-ala putri Solo. Karena itu bukan dirinya sama sekali. Sesampainya di sekolah, beberapa teman sudah datang. Biasanya mereka yang piket akan berangkat lebih pagi. Ayun gegas berlari mengambil ember dan pel, karena Mela yang sedang menyapu di kelas hampir menyelesaikan tugasnya. Ayun menyelesaikan tugasnya cekatan. Sejak kecil ia sudah terlatih melakukan hal-hal semacam ini. Peluh membasahi dahinya. Setelah mengembalikan pel dan ember pada tempatnya ia bergegas kembali ke kelas. Ingin segera mengipasi tubuhnya yang panas dan berkeringat. Kelas sudah ramai. Matanya memindai, si jumawa itu ternyata sudah datang juga dan sedang asyik bermain game di temani oleh Anita. Gadis itu mengeryitkan dahinya, merasa terheran. "Ada apa, nih? Bukannya manusia laknat itu kemarin sok-sokan jutek sama Anita. Kok sekarang ...? Aisshh bodo amatlah ... ngapain juga mikirin mereka? Nggak penting ...," batin Ayun. Menggelengkan kepala, merutuki jiwa keponya yang ingin tahu hal-hal yang tidak bermanfaat. Buat apa juga ia tahu mengenai ini dan itu dari murid baru songong yang tidak penting itu. Dengan cuek, Ayun menarik kursi dan duduk, seperti rencana semula dia mau kipas-kipas dulu. Sudah tidak betah merasakan gerah yang melanda tubuhnya. "Bisa nggak sih lo nggak nebar-nebar bau bangkai kemana-mana?" Eros melirik tajam, sama seperti kemarin. Ayun balas melirik sinis. "Ishh ... mulut kamu kali yang bau bangkai," ucap Ayun cuek dan malah mengangkat tangannya, mengipasi ketiaknya santai. "Makan tuh bau bangke!" batin Ayun puas melihat wajah murka teman sebangkunya itu. "Apa lo bilang?" Eros membelalak, lalu secepat kilat menutup hidungnya. Sinting nih cewek! Di saat cewek-cewek lain bersikap sok manis dan menjaga image di depannya. Cewek ini malah bertingkah absurd. Manusia langka bin aneh. "Wekkk." Ayun menjulurkan lidahnya keki. Nampak acuh dan memilih menyelesaikan membaca komik favoritnya sebelum bel masuk berbunyi. Ia mencuri-curi waktu untuk kenikmatan membaca satu ini. Sudah sejak semalam ia penasaran dengan kelanjutan manga Detektif Conan yang selalu sukses membuatnya menerka-nerka. "Kamu mau aku tukeran tempat duduk sama Ayun?" Anita menawarkan dengan lemah lembut, begitu menjaga image-nya, berbeda sekali dengan biasanya yang selalu bar-bar bersama gengnya. "Nggak usah." Jawaban ketus Eros membuat Anita kecewa tapi memilih diam. Laki-laki itu lalu kembali sibuk dengan gamenya. Tiba-tiba saja Eros mengajaknya pacaran sepulang sekolah kemarin. Tentu saja ia langsung mengiyakannya tanpa pikir panjang. Siapa yang bisa menolak makhluk sekeren ini? Hanya saja ia masih dibuat bingung dengan sikap Eros yang masih saja acuh dan ketus padanya. Padahal kemarin laki-laki itu bahkan mengajaknya ke rumahnya dan memperkenalkannya sebagai pacar kepada kakeknya. Cewek mana yang tidak melayang ketika diperlakukan seolah-olah ia begitu spesial. Padahal sebenarnya Eros melakukan itu karena ada alasan tersendiri. Ia ingin membuktikan pada ayahnya, bahwa ia normal tidak seperti yang dituduhkan. Seharusnya ia tidak di sekolah kampungan ini sekarang. *** Hari ini Ayun harus latihan lagi untuk Popda. Jika anak-anak yang akan mengikuti pelatihan untuk cabang-cabang yang lain akan makan siang di kantin sekolah, maka berbeda dengan dirinya. Ia makan sendirian di dalam kelas, menikmati bekalnya yang hanya berlauk sederhana dan seadanya, tempe kering pedas manis. Namun rasanya tetap luar biasa bagi gadis itu. Nikmat tiada tara ... masih bisa makan saja sudah begitu Ayun syukuri. Dulu, saat masih tinggal di kota. Seringkali ia menahan lapar, karena tak enak hati dengan sikap ayah tirinya yang seperti menganggap dirinya seolah beban yang memberatkannya. Selesai makan, Ayun membereskan tempat makannya. Meminum air dari botolnya sedikit, sepertinya hari ini ia harus berjalan delapan kilo lagi. Jadi bekal airnya harus diawet-awetin, untuk bekal nanti menemaninya jalan kaki. Trauma dirasanya, mengingat kemarin ia nyaris pingsan di jalan karena kehausan juga kelaparan. Untungnya ia bisa mencapai rumah dengan selamat meski fisiknya jangan ditanya lagi. Tubuhnya serasa gaj bertulang. Selesai berkemas, Ayun bergegas turun untuk bergabung dengan kawan-kawannya yang lain. Namun langkah ringan kakinya yang hendak berlari menuruni tangga terpaksa harus ia rem kuat-kuat hingga menimbulkan decitan. Matanya yang membelalak secepat kilat ia tutup rapat dengan kedua telapak tangannya. "Aku nggak lihat kok ... aku nggak lihat. Lanjutin aja ...." Ayun tertawa hambar sembari menurunkan perlahan tangannya, menatap Eros yang menatap nyalang padanya. Sementara Anita nampak menunduk dan tersenyum malu-malu. Tak menunggu lama, Ayun segera berlari melesat menuruni tangga tanpa menoleh lagi. "Ah gila ... mereka yang kepergok mau ciuman, kenapa aku yang malu, sih," sungut Ayun dalam hati. "Kita putus ...." Suara Eros, membuat langkah Ayun terhenti di depan toilet bawah tangga. Jiwa kekepoannya mengajak telinganya untuk mempertajam pendengarannya sepuluh kali lipat dari biasanya. "Maksudnya?" Suara Anita terdengar bingung. "Dasar murahan ...." Dengusan Eros meski lirih masih terdengar oleh telinga Ayun. Ia buru-buru masuk ke dalam toilet ketika suara langkah kaki Eros terdengar menuruni tangga. Malu jika sampai ketahuan menguping. "Benar-benar tuh manusia laknat nggak punya hati, nggak punya perasaan ...." Ayun bersungut-sungut lagi di toilet yang gelap. Karena terburu, ia lupa menyalakan lampu di tolilet bawah tangga yang sempit. Gadis itu menutup hidungnya sembari bersungut kembali menyesali kebodohannya. Dari dalam Ayun bisa mendengar suara tangis Anita yang baru saja diputuskan sepihak oleh Eros. Padahal baru juga sehari mereka jadian dan tadi bahkan laki-laki itu hampir saja menciumnya. Tapi tanpa Anita sangka Eros malah tiba-tiba memutuskannya tanpa memberikan alasan apapun padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN