Hujan

1004 Kata
"Gue bener-bener nggak ngerti sama pikiran bokap gue. Bisa-bisanya dia masukin gue ke sekolah yang isinya betina semua. Mana pada norak semua. Lama-lama gue bisa nggak waras sekolah di sini." Eros bersungut-sungut, menceritakan kehidupan sekolahnya yang baru pada Hari, sahabatnya di Jakarta yang malah menertawakan nasibnya di seberang sana. Mereka sedang bertukar kabar melalui sambungan telefon. "Bukannya enak ya dikelilingi cewek-cewek cantik. Jangan-jangan lo aja yang emang nggak normal sama kaya Ando." Tuduh Hari tanpa dosa. Alasan Papanya memindahkannya ke sekolah putri juga adalah karena kedekatannya dengan Ando yang memiliki penyimpangan seksual. "Sialan lo! Gue normal seratus persen!" sanggah Eros tak terima. Meski sampai kini, ia belum pernah menyukai makhluk bernama perempuan. Tapi bukan berarti ia memiliki ketertarikan pada sesama jenisnya. Ia hanya belum menemukan gadis yang tepat yang bisa menggetarkan hatinya, bukan karena dia homo seperti ketakutan sang ayah. Eros memang benci ibunya. Ibunya yang pesolek, murahan, rendahan, tidak pernah memberikannya kasih sayang, juga tega meninggalkannya demi laki-laki yang dicintainya. Hal yang lantas membuatnya membenci tipe-tipe wanita seperti itu. Tapi bukan berarti dia akan memilih laki-laki untuk ia jadikan kekasih atau pasangannya kelak. Eros merasa normal! Sangat sangat normal! "Kalau lo normal, masa sih nggak ada satupun dari mereka yang lo taksir gitu misalnya?" "Nggak ada yang cakep," jawab Eros malas sembari berjalan ke balkon rumah kakeknya. Menatap gerimis yang mulai turun rintik-rintik. "Cih ... masa sih?" Hari sangsi. Di sekolah yang lama pun, sahabatnya itu juga tidak sekalipun menunjukkan ketertarikan ke lawan jenis. Respon Eros selalu acuh jika dihadapkan pada cewek-cewek cantik. Lalu akan berubah sinis, jika melihat wanita yang menonjolkan keseksiannya. "Selera gue tinggi. Nggak levellah sama cewek kampung." "Bangke lu ...." Hari cekikikan. "Gue serius. Gue anti sama cewek gampangan. Gue kasih senyum dikit aja diajak ngapa-ngapain juga mereka nggak bakal nolak." Eros menampilkan muka jijik. Teringat lagi kelakuan ibunya dulu yang sering bergonta-ganti pasangan. "Parah lu!" "Kenyataan!" tukas Eros sewot sembari menatap ke jalan besar dekat rumah Kakeknya. Lagi-lagi ia melihat Ayun berjalan kaki tanpa alas dengan kaos olahraganya. Sesekali gadis itu berlari kecil lalu tak lama kembali berjalan normal. Sementara gerimis telah berubah menjadi hujan. "Nekat juga tuh cewek ...," gumamnya. "Tapi di kelas gue ada cewek nyebelin banget, sok jutek gitu sama gue. Padahal kalau gue deketin paling juga iya iya aja." Melihat Ayun membuatnya jadi ingin menceritakan teman sebangkunya yang menyebalkan itu. "Ke-PD-an lo! Coba aja lo deketin dia. Gue mau tahu gimana reaksinya." Hari tertarik mendengar ada gadis yang tak terpesona pada sosok Eros. Di sekolah yang lama pun, Eros merupakan idola para gadis di sekolahnya. Setiap hari ada saja yang memberinya hadiah, menyatakan perasaan tapi ditolak mentah-mentah. "Males," cetus Eros, masih memandang sosok Ayun yang semakin menjauh. "Kenapa? Jelek emang?" "Banget. Mukanya kaya curut," jawab Eros sembari membayangkan wajah Ayun yang sering menjutekinya di kelas atau saat tak sengaja berpapasan di jalan. "Hahahaha ...." Tawa Hari meledak. "Serius lo?" Namun Hari tak begitu saja mempercayai ucapan sahabatnya itu. Eros memang begitu jika sudah dibuat kesal orang. Mulutnya bisa lebih pedas dari cabe rawit. "Seriuslah." "Siapa sih namanya?" Hari semakin dibuat penasaran akan sosok gadis yang bisa membuat seorang Eros benci setengah mati seperti itu. "Ayunan." Eros menjatuhkan tubuhnya ke sofa di belakangnya. "Serius gue nanya nih. Masak namanya Ayunan?" "Emang itu namanya ... nggak tahu tuh emaknya ngimpi apa kasih nama anaknya Ayunan." Ayun. Kenapa nggak Ayu aja. Eros tak habis pikir dengan nama teman sebangkunya itu. "Ngomong-ngomong tuh anak kasian juga keujanan ...," batinnya. Eros kembali berdiri menatap ke jalan, namun sosok Ayun sudah tak mampu terjangkau indera penglihatannya. "Cepet juga tuh cewek jalannya. Gila! Hujan-hujan gini masih nekat aja diterobos. Paling-paling besok dia nggak masuk, bengek. Tapi bagus juga malahan. Gue nggak harus lihat mukanya yang nyebelin ...." Eros bermonolog dalam hatinya, mengabaikan Hari yang bicara panjang lebar di seberang sana. *** "Ya Allah, Ayun ... sana ganti baju dulu." Simbah langsung mengambil tas serta sepatu Ayun yang terbungkus plastik. Mengeluarkan isinya dan mengecek apakah ada yang basah atau tidak. Sementara Ayun segera mengambil pakaiannya dari lemari dan bergegas ke kamar mandi untuk mandi juga mencuci kaos olahraganya yang basah kuyup. Besok ia masih ada latihan lagi, mau tidak mau ia terpaksa memakai seragam olahraga SMP-nya kalau seragamnya ini tidak kering besok pagi. "Tadi kamu lewat mana, Yun?" tanya Simbah. Menghampiri cucunya yang sedang menjemur seragamnya di teras samping rumah. "Lewat kali situ, Mbah," jawab Ayun, sedikit bergidik karena angin yang menerpa tubuhnya. "Kenapa nggak lewat jalan besar aja, Nduk. Jembatannya, kan di situ sudah rusak, lho." Simbah terlihat khawatir juga tak tega melihat cucunya setiap hari harus berjalan kaki. Padahal jarak yang ditempuh teramat jauh. "Kalau lewat sana kejauhan Mbah. Ayun pengen cepet sampai rumah. Sudah lapar banget, pengen makan." Ayun nyengir. Segera bergegas ke dapur untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Dari belakang Simbah mengikutinya lalu ikut duduk di kursi menemani cucunya yang lahap menyantap makanannya meski hanya ada sayur bayam, tempe dan sambal yang menjadi menunya. "Kalau pakai motor jelek, kamu mau, Nduk?" tanya Simbah setelah beberapa saat merenung. "Maksudnya gimana, Mbah?" Kunyahan Ayun melambat. "Simbah mau jual Sapi," terangnya. "Sayangnya itu bukan Sapi Simbah, jadi nanti hasil penjualannya dibagi dua sama pemiliknya. Kalau buat beli motor bekas kayanya cukup, Yun. Biar kamu nggak jalan kaki terus ... Simbah nggak tega lihat kamu jalan kaki terus." "Ih ... nggak usah, Mbah. Sekolah Ayun masih butuh banyak biaya. Ayun nggak papa kok jalan kaki ... sehat juga, kan? Hehe ...." Ayun tak ingin semakin merepotkan simbahnya. "Kalau cuma dari kecamatan Simbah masih tega, Nduk lihat kamu jalan kaki tiap hari. Tapi ini dari kota ... Simbah mbayangin aja udah capek." "Kan nggak tiap hari juga, Mbah. Ini karena ada latihan aja buat Popda. Cuma sementara aja Mbah, mending uangnya buat yang lain." Ayun tetap bersikukuh, membuat Simbahnya tak bisa berkata apa-apa. Namun ia tetap akan menjual Sapinya dan membelikan cucunya sepeda motor supaya memudahkan kemana-mana. Supaya bisa seperti teman-temannya yang lain. "Yo wes ... terserah kamu." Simbah memilih mengalah, tak ingin berdebat. Rencananya ia akan memberikan kejutan untuk cucu kesayangannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN