Ternyata Eros salah menduga. Begitu tiba di kelasnya pagi ini, ia sudah mendapati Ayun tengah serius membaca komik dibangkunya, yang mengesalkan adalah si jutek itu sama sekali tidak menoleh pada kehadirannya. Padahal siswi-siswi lain saja masih sempat-sempatnya mencuri pandang kearahnya. Padahal mereka sedang dikejar waktu, sibuk menyalin PR dengan membentuk beberapa kelompok. Bukan hal aneh lagi bagi Eros menyaksikan pemandangan seperti ini. Karena di sekolah lamanya pun ia sudah biasa menjadi pusat perhatian. Hanya saja dulu ia bisa acuh dan sibuk bersama teman-teman laki-lakinya. Sementara disini ... di sekolah para betina ini dan di sekolah kampungan ini? Dia mau menyibukkan diri dengan apa?
Eros langsung membuang muka begitu matanya tanpa sengaja bertemu dengan Anisa yang diam-diam memandangnya dari kejauhan. Diliriknya teman sebangkunya itu, ingin tahu apa yang sedang dibaca si jutek itu sampai wajahnya sebegitu seriusnya.
"Apa liat-liat?" Ayun memasang muka juteknya begitu melihat Eros yang baru datang menamatinya.
"Cih ... PD banget lo ...," elak Eros sewot sembari menarik tubuhnya bersandar dikursi dan menatap bosan suasana kelas dengan menyedekapkan tangannya. "Kehidupan sekolah macam apa ini?" dengusnya dalam hati.
"Cih." Ayun ikut berdecih, memutar posisi tubuhnya supaya sedikit membelakangi Eros. Ia juga malas setengah gila melihat wajah teman sebangkunya yang super jumawa itu.
"Dasar curut," gumam Eros sembari melirik keki.
"Hei, ntar lama-lama jatuh cinta lho ...," goda Indah yang sering mendapati dua teman sekelasnya itu ribut hanya karena hal-hal yang sepele.
"Hadeehhh ... malesss ...." Ayun spontan memutar bola matanya tak sudi.
"Nggak level juga kali," cibir Eros tak mau kalah.
"Ih, sok keren ... sok cool. Padahal biasa aja, masih cakepan cowok aku kemana-mana," timpal Ayun tak kalah sengit, bahkan lidahnya terjulur meledek dengan menampilkan wajah sengak.
"Emang kamu udah punya cowok, Yun?" Indah mulai kepo. Karena setahunya di kelas ini hanya Ayun seorang yang masih menyandang status jomblo.
Iya! Hanya tinggal Ayun seorang.
Hal yang seringkali membuat gadis itu minder dan menyingkir jauh-jauh jika teman-temannya sudah mulai membahas tentang dunia percintaan. Bukan karena ia tak laku tapi Ayun tak punya waktu dan dana untuk memikirkan hal-hal semacam itu.
"Punyalah ...," jawab Ayun, dengan apik menutupi ketidakpercayaan dirinya didepan Eros. "Ganteng parah, keren gila pokoknya ... terus jago berantem juga ...." Mata bening Ayun berbinar-binar membayangkan visual kekasih idaman yang ada dalam khayalannya.
"Siapa, Yun? Kenalin dong ...." Pertanyaan dari indah mewakili rasa penasaran Eros yang masih melirik Ayun dengan wajah mencibir. Ia menyangsikan pernyataan teman sebangkunya itu. Di kota kecil ini, belum pernah ia menjumpai sosok yang lebih ganteng apalagi lebih keren dari dirinya. "Ngarang ...," batin Eros percaya diri.
"TAKEYA GENJI! Puas kalian ...." Ayun melengos, menebalkan rasa malunya, siap menerima hinaan apapun yang akan dilayangkan mulut Eros yang pasti akan mengancam kesehatan hatinya. Jadi ia lebih baik pasang kuda-kuda terlebih dahulu dengan membuka kembali komik ditangannya dan acuh melanjutkan membaca. Pura-pura tuli.
"Takeya Genji?" tanya Indah memandang Eros dengan wajah polosnya. "Kaya nama orang China, ya?" IQ Indah memang rendah. Satu kelas tidak ada yang meragukan hal itu. Karena memang fakta.
"Orang Jepang, Dodol. Bapaknya Miyabi masa nggak tahu ...," sahut Eros sengaja mengerjai.
"Miyabi? Maksudnya cowoknya Ayun udah bapak-bapak?" Indah melongo tak percaya.
"Tanya aja sama Pak Ibram noh, kali aja dia tahu." Eros menunjuk kedatangan guru berkepala botak dan berkumis lebat yang berdiri dipintu kelas mereka, sedang berbincang dengan beberapa murid.
"Serius Pak Ibram kenal cowoknya Ayun?" tanya Indah masih dengan kepolosannya yang hakiki. Ia malah hampir saja berteriak memanggil pria paruh baya itu untuk menuntaskan rasa ingin tahunya. Untung saja Ayun buru-buru mencegahnya, sehingga gadis itu untuk kali ini selamat dari bulian teman-teman sekelasnya.
"Jangan, Indah!" cegah Ayun cepat sebelum mulut gadis itu memanggil nama sang guru.
"Kenapa?" Indah melirik Eros yang sedang menahan tawanya. Ia semakin tak mengerti. Memangnya ada yang lucu gitu? Gadis itu berpikir keras.
"Udah nggak usah nanya. Miyabi itu temennya Mie ayam." Ayun terpaksa menjawab asal.
"Oh Miyabi itu nama makanan to ...." Indah mengangguk-angguk dengan senyum polos, seolah ia menemukan jawaban dari sesuatu yang ingin diketahuinya. "Pantesan kaya nggak asing, kayanya aku pernah makan, deh ...."
"Hehe ... iya aja, deh." Ayun tersenyum hambar. Astaga Indah ... indah ...
"Dasar m***m," ledek Eros seraya menjulurkan lidahnya puas.
"Ishh ... situ kali. Enak aja." Ayun balas menjulurkan lidahnya dan kembali duduk membelakangi.
***
Sepulang sekolah, Ayun bergegas ke ruang guru untuk menemui Pak Hadi, guru Olahraga yang biasa dipanggil anak-anak dengan sebutan Abah. Ia ingin meminta izin, hari ini ia tidak bisa mengikuti latihan karena seragam olahraganya belum kering karena kehujanan kemarin. Sementara seragam olahraganya waktu SMP yang diperuntukkan sebagai cadangan. Ternyata ada sedikit kerusakan yang belum sempat ia betulkan tadi pagi, karena berburu dengan waktu.
"Abah lagi keluar sebentar Yun, ada urusan katanya. Kamu tunggu aja, bentar lagi balik kok ...," jawab Bu Mirna ketika Ayun bertanya pada guru muda yang mengajar mata pelajaran Matematika itu.
"Oh gitu ... makasih, Buk." Ayun keluar dengan kecewa. Kalau langsung mendapat ijin, dia bisa langsung pulang dan masih belum ketinggalan angkot yang melewati desanya. Tapi kalau begini ceritanya, alamat dia ia harus berjalan kaki lagi. Capek deh ...
"Hei ... Ayun!" Panggilan seseorang yang suaranya terdengar tak asing itu membuat gadis itu menoleh ke sumber suara.
"Oh ... Mia," sapa Ayun ramah pada gadis berparas cantik itu.
"Kamu belum ganti?" tanyanya menatap Ayun yang masih mengenakan seragam pramukanya.
"Iya ... aku kayanya nggak bisa ikut latihan hari ini, deh. Seragamku belum kering, kemarin kehujanan soalnya," papar Ayun, melirik Eros sekilas yang duduk disamping Mia ikut mendengarkan obrolan mereka. Apa-apaan nih si manusia laknat deket-deket Mia?
"Mau pakai punyaku." Mia menawarkan sembari mengeluarkan seragam olahraganya dari dalam tas.
"Emang kamu nggak latihan hari ini?" Setahunya Mia lolos seleksi tim bola Voley waktu itu.
"Aku lagi dapet, perutnya nggak nyaman banget. Jadi hari ini aku cuma lihat yang lain latihan aja." Sebenarnya itu hanyalah alasannya saja supaya bisa memiliki waktu dengan Eros.
"Serius, nih?" Ayun menerima seragam itu dengan senang hati. Akhirnya ia tidak perlu harus membolos hari ini.
"Iya ... pakai aja."
"Ih, makasih ya. Kamu baik banget, sih." Ayun mencubit besar pipi Mia sebelum kemudian berlari ke toilet untuk mengganti seragamnya.
"Dia asli mana, sih?" tanya Eros yang sejak awal penasaran dengan logat Ayun yang berbeda dengan anak-anak yang lain.
"Setahu aku dia dari Jakarta." Mia memang tak sekelas dengan Ayun, mereka akrab karena sering bertemu saat ikut extra bola voley waktu kelas sepuluh dulu.
"Oh, pantesan ...."
"Kenapa? Kamu suka sama dia?" Mia tak bisa menutupi rasa cemburunya melihat Eros yang sepertinya tertarik pada gadis lain. Padahal mereka baru saja jadian beberapa jam yang lalu.
"Enggaklah, liat mukanya aja udah males." Wajah jutek Ayun langsung membayang dikepala Eros.
"Masak, sih? Padahal Ayun sebenarnya cantik lho kalau dilihat-lihat, orangnya juga asyik, ramah lagi ...." Mia sengaja memuji untuk melihat bagaimana reaksi Eros.
Eros sedikit termenung mendengar pujian Mia untuk Ayun.
Cantik?
Asyik?
Ramah?
Dari Hongkong!
Tunggu-tunggu ... jangan-jangan dia juteknya cuma sama aku doang?