Si Julid

1031 Kata
"Gimana? Kegedhean yah ..." tanya Mia begitu Ayun keluar dari toilet. "Nggak, pas, kok. Makasih, yah," ucap Ayun tulus sembari memasukkan seragam pramukanya kedalam tas setelah melipatnya rapi supaya tidak kusut nantinya. Karena besok masih harus dipakai lagi. "Iya santai aja, Yun." "Jangan lupa nanti abis dipakai ... direndem tujuh hari tujuh malem pakai kembang tujuh rupa, biar bau bangkainya ilang." Eros ikut menimpali, entah kenapa mulutnya gatal ingin julid jika berada didekat Ayun. Tidak tahu kenapa, Eros justru merasa terhibur melihat muka Ayun yang muncu-muncu, yang pasti si jutek itu pasti sedang misuh-misuh dalam hatinya saat ini. "Kaya ada yang ngomong ... setan kali ya ...." Ayun berbicara seolah Eros makhluk astral yang kasat mata. Sementara Mia hanya tertawa geli melihat dua manusia yang saling melempar tatapan permusuhan itu. "Oh iya, Yun, dapat salam dari Yogi." Mia baru teringat pada salah satu temannya yang meminta dikenalkan dengan Ayun. "Yogi siapa?" tanya Ayun sembari mengikat rambutnya membentuk kuncir kuda. "Yang waktu itu jemput aku, yang di Naomi Comic." "Ooohh ... yang pas sore-sore itu, iya inget ...." Kali ini Ayun berganti membenarkan ikatan tali sepatunya yang longgar. "Minta nomor kamu katanya ...." "Nomor apaan nih? Nomor sepatu? Bolehlah, sepatu aku udah kritis, nih ...." Ayun menanggapi dengan canda juga tawanya yang terdengar renyah, sembari menunjukkan kondisi sepatunya yang cukup memprihatinkan tanpa merasa minder atau malu sama sekali. "Yeee ... kasih nomor Hp kamu dulu. Siapa tahu nanti dia minta nomor-nomor yang lain. Kan lumayan rejeki ...." Mia terkekeh geli. "Ih, masalahnya aku nggak punya Hp, Mi." Ayun tak malu mengakui itu. Meski sekali lagi, satu kelas hanya dirinya yang tidak memiliki benda pintar itu. "Masak, sih?" Mia nampak tak percaya. "Serius. Ada juga nomor hp-nya Simbah, mau?" Ayun kembali tertawa renyah. Tawa yang tiba-tiba terdengar begitu menyenangkan ditelinga Eros. Aneh ... Eros buru-buru memeriksa telinganya, sepertinya ada yang salah dengan indera pendengarannya. "Yee ... terus Yogi suruh sms-san sama Simbah kamu gitu?" Membayangkannya saja sudah membuat Mia tertawa geli. "Ya kali bisa sms-san. Orang nggak pernah diisi pulsa juga ...." Tawa Ayun kali ini lebih keras dan lepas dari sebelumnya, membuat Eros kembali memeriksa telinganya. Kok bisa suara tawa Ayun terdengar begitu merdu ditelinganya? Sialan! "Masa nggak pernah diisi pulsa?" "Yaaa ... paling kalau mau telpon Ibu baru diisi." "Yahhh ... terus gimana, dong? Kalau ketemuan gimana? Nanti aku temenin, deh." "Aduh gimana ya ...." Ayun bingung. "Nggak deh, aku sibuk ...," tolak Ayun terang-terangan. Karena jujur saja, ia belum memikirkan untuk menjalin hubungan dengan siapapun saat ini. Karena fokus utamanya masih sekolah dan sekolah. "Sok iyes lo." Mulut Eros kembali gatal ingin menjulidi Ayun. "Ih, siapa lagi, sih yang ngomong, kok nggak keliatan yaa ...." Ayun kembali menganggap keberadaan Eros tak nyata alias halus. Hal yang mau tak mau membuat Mia kembali tak bisa menahan tawa gelinya. "Coba aja dulu siapa tahu cocok. Kan lumayan bisa jadi tukang ojek, daripada kamu tiap hari jalan kaki terus. Lama-lama betis kamu kaya talas Bogor ...," canda Mia masih dengan tawanya. "Enak aja ... nggak ya." Reflek Ayun menatap betisnya sendiri. "Udahlah aku mau gabung sama yang lain. Dah Mia." Ayun melambaikan tangannya seraya berlari ke lapangan untuk bergabung dengan kawan-kawannya yang sedang latihan Voley. Karena Abah belum datang, maka mereka masih dibebaskan untuk melakukan apapun. "Serius, nih ditolak?" Seru Mia, masih belum menyerah mengusahakan. "Seratus rius!" teriak Ayun dari lapangan Voley. Sementara dari tempatnya, Eros tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Ayun yang begitu lincah di lapangan. Si jutek itu melakukan passing, service, smash dengan begitu apik dan penuh semangat. Seolah terik matahari siang itu tak menyurutkan semangatnya sama sekali. Sebenarnya yang lain pun sama, bahkan permainan mereka jauh lebih bagus jika dibandingkan Ayun. Namun mata Eros entah kenapa hanya terpaku pada sosok itu. Pergerakannya membuat Eros selalu mengikuti kemana pun gadis berpindah posisi. "Gila kali gue ya ...," gumam Eros setelah tersadar. "Bisa-bisanya gue ngeliatin si curut," batinnya kesal. "Hemm ... kayanya dari tadi kamu ngeliatin Ayun terus?" sindir Mia mulai kesal. "Hah?" Eros sedikit salah tingkah. Bukan takut Mia cemburu dan memutuskannya. Tapi lebih kepada malu karena ketahuan memperhatikan si jutek yang tidak penting itu. Kalau Mia minta putus mah, dia bodo amat. Eros pacaran hanya untuk membuktikan kalau dia normal, tidak menyimpang dari kodratnya. Seperti yang dikhawatirkan oleh ayahnya hanya karena ia kebetulan berteman dengan seseorang yang memiliki penyimpangan seksual. "Bukannya gitu. Gue heran aja, itu anak maennya payah banget, kok bisa gitu lolos seleksi?" Eros mencoba mencari alasan. Permainan Ayun sebenarnya tidak terlalu buruk hanya mulut Eros saja yang susah mengakui dan berkata baik apapun itu tentang Ayun. Lebih tepatnya terlalu gengsi. "Menurut kamu payah?" Mia melirik Eros dengan sedikit kerutan didahinya. "Padahal menurut aku lumayan, lho ... tapi kalau dibandingin sama yang lain ya ... memang Ayun kalah. Karena memang bukan spesialisnya, dia, kan anak atletik," terang Mia. "Oh ...." Mulut Eros membola memgetahui fakta baru itu. "Terus kenapa dia ...." BUKKK!!! Belum selesai pertanyaan Eros terucap, benda bulat mendarat kencang mengenai pelipisnya. "Bang-sat!" Spontan Eros mengumpat sembari mengusap pelipisnya yang baru saja dicium si kulit bundar berwarna biru kuning itu. "Sorry ... sorry ...." Ayun mendekat untuk mengambil bolanya. Tapi wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali justru sebaliknya, sepertinya ia malah senang melihat wajah Eros yang dipenuhi emosi. "Sengaja lo ya pasti," tuduh Eros. "Enggak tuhh ... wekkk." Ayun menjulurkan lidahnya sebelum berlari kembali ke lapangan. Mengabaikan Eros yang terus saja mengumpatinya. "Kamu nggak papa?" tanya Mia khawatir. "Nggak." Eros menepis tangan Mia yang hendak menyentuh pelipisnya yang terkena bola tadi. "Serius?" "Iya. Ya udah yuk balik." Eros berdiri, meski kecewa Mia segera mengikuti langkah cepat Eros menuju ke parkiran sekolah. Padahal gadis itu masih ingin berduaan dan menghabiskan waktu dengan Eros. "Ke rumah aku dulu ya," ucap Eros sembari memakai helmnya. "Ke rumah ... kamu?" Mia melongo dengan helm ditangannya. Tak percaya Eros akan mengajaknya ke rumah. Apa ia tidak salah dengar? "Iya. Yuk ...." Eros meminta Mia untuk segera naik ke boncengannya. Gadis itu menurut, namun dibibirnya tersungging senyuman bahagia. Mia merasa bahwa Eros memperlakukannya dengan spesial. Padahal maksud Eros sebenarnya hanyalah untuk menunjukkan ke kakek dan neneknya bahwa ia normal. Dengan harapan ayahnya akan memperbolahkannya kembali ke ibukota dan melanjutkan sekolahnya disana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN