Seminggu berlalu. Hubungan Ayun dan Eros masih sama seperti Tom and Jerry yang sulit sekali untuk akur. Selalu saja ada hal yang membuat keduanya saling berdebat sengit tanpa ada yang mau mengalah. Sebenarnya memang Eroslah yang suka mencari-cari masalah. Ia sengaja melakukan itu dengan niat mengganggu dan akhirnya ia bisa bertengkar sengit dengan teman sebangkunya itu. Karena bagi Eros, bersilat lidah dengan Ayun merupakan sebuah hiburan tersendiri di sekolah yang menurutnya sangat membosankan ini.
Pagi ini Eros tiba di kelas beberapa saat sebelum bel berbunyi. Biasanya, begitu tiba, Ayun sudah mojok dikursinya sambil membaca komik atau kalau tidak gadis itu pasti sedang asyik mengobrol dengan Indah juga Ema. Namun kali ini, kursi itu nampak kosong tak berpenghuni.
"Kemana, nih si curut? Tumben belum dateng?" batin Eros sembari menarik kursi, meletakkan tasnya dan duduk bosan seperti yang biasa dilakukannya. Ia masih belum terbiasa dengan lingkungan sekolah barunya ini.
"Ndah!" Eros menendang kursi Indah dari belakang. Gadis yang tengah fokus memoles wajahnya dengan bedak itu nampak kaget bukan main. Karena Eros menendang kursinya tak main-main sampai bergeser jauhdari posisi sebelumnya.
"Ya ampun ... kaget, deh, ah. Kenapa, sih Eros?" tanya Indah kemayu. Untung ganteng, jadi emosi Indah langsung lebur begitu melihat wajah tampan Eros yang selalu bisa me-refresh matanya.
"Si Ayun kemana?" tanya Eros sok ketus supaya Indah tak menuduhnya macam-macam.
"Meneketeheee ...," jawab Indah cuek, sembari melihat riasannya melalui kaca kecil ditangan.
"Serius gue? Dia nggak masuk?" tanya Eros masih dengan nada ketus.
"Cieee ...." Indah mulai menggoda. "Kalau ada aja diajakin ribut terus, giliran nggak masuk dicariin ... uluh uluh dasar malu-malu meong ...," ledek Indah terkikik geli.
"Cih, apaan, sih lo? Gaje banget ... orang gue juga cuma nanya doang," elak Eros bersungut-sungut.
"Udah, sih ngaku aja ... Bilang syaja kalau kau mau, bilang syaja bila kau syuka ... katakan sejyujyurnya kepada dirinya ...." Indah malah semakin menggoda Eros dengan menyanyikan lagu Agnes Monica dengan suaranya yang super fals dipadu gaya centilnya yang super parah. Dan hal itu sukses membuat Eros mual-mual melihatnya.
"Stop! Please, Ndah ... kepala gue pusing dengerin lo nyanyi." Eros mengeryit jijik melihat tingkah norak teman sekelasnya itu.
"Eh Eros, aku udah cantik belum?" Indah mengerjapkan mata genitnya berulang.
"Iyaa ... cantik," puji Eros sembari memutar bola matanya malas. "Cantik kaya ondel-ondel ...," imbuhnya dengan muka sengak.
Indah manyun, sudah bisa menebak Eros akan berkomentar apa. Harusnya ia tahu bahwa bertanya soal penampilannya kepada Eros adalah kesalahan terbesar mengingat betapa pedasnya mulut si playboy selama ini.
"Nyesel, deh udah nanya sama kamu."
"Siapa suruh ... lagian lo pake bedak tebel banget. Tuh muka sama leher bisa kaya zebra cross begitu," ucapnya tanpa sensor sama sekali, itupun masih ditambahi dengan mimik jijik yang tidak ia tutup-tutupi sama sekali.
"Masa, sih?" Indah mengamati riasannya kembali melalui kaca kecil ditangannya. "Ah, bodolah ... biar dikata zebra cross yang penting laku," batin Indah menghibur diri, lalu tersenyum memandangi pantulan dirinya dikaca.
"Jadi si Ayun masuk nggak, nih?" Eros masih penasaran.
"Mau tau ajyah ... apa mau tau bangettt?" Indah kumat centilnya. Kapan lagi bisa menggoda si ganteng, begitu pikirnya.
"Ndah please ... jangan kecentilan didepan gue. Takutnya gue khilaf terus lo gue lempar beneran lewat jendela," ancam Eros tak main-main.
"Jahat banget, sih Eros." Indah kembali manyun. "Ayun nggak masuk, Mbahnya masuk rumah sakit," jawab Indah masih cemberut.
"Sakit apa?" Dahi Eros mengeryit.
"Nggak tahu, aku juga cuma denger dari Erna. Rumah kita, kan jauh," jelas Indah. "Oh, iya kebetulan Ema juga nggak masuk ... kita sebangku, yuhhh," ucap Indah semangat, kapan lagi bisa sebangku sama cowok ganteng satu ini.
"Nggak! Nggak!" Tolak Eros mentah-mentah.
"Eros jahat, ih." Indah kecewa, tangannya yang sudah hampir memboyong tasnya ke meja belakang terpaksa terhenti.
"Diem disitu! Kalau nggak gue lempar beneran lo lewat jendela," ancam Eros lagi.
"Iya ... iya ...." Gadis itu pasrah, kembali meletakkan tasnya ke kursi.
"Cie Indah ...." Melani, teman sebangku Anita menggodanya. Entah menggoda entah menyindir, Indah malah membalas dengan cengiran tanpa dosa. Anita tersenyum kecut dari tempat duduknya, ia masih sakit hati dengan perlakuan Eros. Ia merasa dipermainkan oleh laki-laki itu.
"Anita mau duduk sama Eros?" Indah masih nyengir dan malah menawari Anita dengan wajah tanpa dosa. Padahal sejak putus hari itu, semua tahu Anita sama sekali enggan bicara dengan laki-laki itu.
Dukkk!!!
Eros kembali menendang kursi Indah dari belakang. Dasar Pe-Ak nih bocah!
"Apa sih Eros?"
***
Hanya gara-gara makan buah nangka, itupun tak seberapa. Simbah yang memang mempunyai riwayat sakit asam lambung juga infeksi empedu itu, akhirnya harus berakhir diranjang rumah sakit lagi. Ya ... lagi. Karena setelah sekian lama diberikan kesehatan dan tak pernah kambuh lagi. Simbah harus kembali merasakan berada diruangan yang berbau obat ini.
Ayun terpaksa meliburkan diri dari sekolah hari ini demi mengurus Simbahnya. Sebenarnya ada Mbak Asiyah yang membantunya menjaga di rumah sakit. Tapi Ayun terlalu mengkhawatirkan kondisi Simbah yang masih lemah meski jika dibandingkan kemarin sudah lebih membaik dan ada kemajuan.
Bagi Ayun Simbah adalah segalanya. Simbah adalah satu-satunya keluarga yang menyayanginya dan satu-satunya keluarga yang peduli padanya.
Ditatapnya kerutan yang memenuhi wajah senja itu dengan mata memanas dan berkaca-kaca. Ayun begitu takut kehilangan, sangat takut. Itulah kenapa ia terus menggenggam tangan keriput yang sudah mengendur itu dan terus mengawasi lelap tidur wanita tua yang begitu disayanginya itu.
"Ayun, makan dulu." Mbak Asiyah datang bersama suaminya, Mas Farhan. Membawa kantung plastik berisi makanan juga teh hangat yang mereka beli dari kantin rumah sakit.
"Iya, Mbak." Kedatangan dua tetangganya yang baik hati itu, membuat Ayun tersadar dari lamunannya.
"Mas Farhan juga bawa seragam kamu. Besok kamu berangkat sekolah dari sini saja naik Bis. Biar Mbak yang jagain Simbah," ucap Mbak Asiyah sembari memberikan bungkusan makanan untuk Ayun. Sementara ia ikut bersama suaminya duduk dikursi plastik yang memang disediakan rumah sakit.
"Maaf ya, Mbak, Mas udah ngerepotin." Ayun merasa tak enak hati. Ia menyuapkan makanan ke mulutnya dengan tak berselera.
"Udah nggak usah nggak enak sama kita, Yun. Namanya juga tetangga ya, harus saling membantu." Kali ini Mas Farhan yang menyahut. "Oh iya ... Mas sudah kabarin ibu kamu, kalau simbah masuk rumah sakit," imbuhnya.
Kunyahan Ayun melambat mendengar ibunya disebut. Ia sempat terfikir untuk menghubungi wanita yang sudah melahirkannya itu, namun ia urungkan. Saat dulu ia masih tinggal di Jakarta, mendengar kabar Simbah yang berkali-kali keluar masuk rumah sakit saja. Ibunya terlihat enggan dan sama sekali tak berniat pulang menjenguk ke kampung. Bahkan mengirimkan uang pun tidak, itu karena suami ibunya yang melarang. Ayun tahu, karena rumah minimalis yang mereka tinggali membuat ia bisa mendengarkan perdebatan kecil apapun yang terjadi diantara orang tuanya. Dan selalu, ibunya akan selalu mengalah dan menuruti apa yang dikatakan oleh ayah tirinya.
Ayun terkadang mencoba memahami perasaan ibunya. Mungkin perempuan yang sudah melahirkannya itu merasa bahwa suaminyalah orang yang paling bisa menerimanya apa adanya. Saat dulu ibu terpuruk dan berada dititik terendah dalam hidupnya. Wanita single beranak satu yang hamil diluar nikah, diusir oleh Bapaknya sendiri. Sementara Simbah tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu, selain kadang diam-diam ia mengirimkan uang tanpa sepengetahuan sang suami yang memang berwatak keras. Ayun mengetahui cerita itu dari Simbah, mereka biasanya banyak bercerita sebelum benar-benar tertidur.
"Ibu bilang apa, Mas?" tanya Ayun ingin tahu. Selama ini ibunya sama sekali tidak pernah ingin tahu bagaimana kabarnya di desa. Selalu Simbah yang menghubungi lebih dulu, itupun jika ada uang lebih untuk membeli pulsa.
Dalam setahun bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka berkomunikasi melalui sambungan telefon, dan selama itu pula tak pernah Ayun mendengar ibunya menanyakan dirinya. Apakah ia betah tinggal didesa? Bagaimana sekolahnya? Sama sekali tidak pernah. Pembicaraan didominasi pembicaraan basa-basi saja dan tentang kesibukan ibunya mengurus adik tirinya yang lahir beberapa bulan setelah Ayun pindah ke desa.
"Ibu kamu bilang kalau dia nggak bisa pulang. Karena masih punya bayi, sama katanya nggak ada ongkos," jelas Mas Farhan. Ayun menunduk menyembunyikan matanya yang kembali berair, semakin menghilanglah selera makannya. Apa benar tak ada ongkos? Sepengetahuannya ayah tirinya bahkan baru saja membeli mobil, meski hanya mobil bekas dan harganya pun tidak bisa dibilang murah.
Apa sebegitu sulitnya mengeluarkan uang untuk anak haram sepertinya? Sampai harus membebankan biaya sekolahnya pada perempuan tua yang seharusnya sudah beristirahat dari pekerjaan berat.
"Ayun ...." Mbak Asiyah mendekat dan memeluk Ayun begitu mendengar isak lirih gadis remaja itu. "Sudah jangan menangis. Kamu punya Mbak yang sayang kamu." Wanita berjilbab itu mengelus punggung Ayun yang berguncang karena isakannya.
"Ayun takut kehilangan Simbah," lirih Ayun disela tangisnya, menyembunyikan wajahnya didada perempuan berusia awal tiga puluhan itu.
"Simbah pasti sembuh," hibur Mbak Asiyah dengan lembut. Air matanya menetes ikut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Ayun. Ia tahu semua yang terjadi dan ia paham apa yang dilewati gadis remaja ini.