Brisik dikelas

1085 Kata
Ayun berlari kecil mengejar Bus warna putih itu. Nafasnya sedikit terengah setelah akhirnya berhasil masuk dan mencari-cari tempat duduk kosong yang akhirnya ia pilih yang paling dekat dengan tempat sopir, menyamankan diri duduk disana dan membayar ongkos pada kernet. Sepanjang perjalanan remaja itu membuai dirinya dalam lamunan, memikirkan kondisi Simbah juga biaya rumah sakit. Darimana ia mendapatkan uang sebanyak itu? Semalam ia sempat menanyakan ke bagian administrasi dan mendapati tagihan perawatan simbah sudah mencapai Rp 1.350.000, sementara ia tak tahu sampai kapan simbah akan dirawat disana. Sudah pasti tagihan akan terus bertambah nantinya. Sedang Ibunya sudah jelas-jelas mengatakan tidak bisa membantu dengan alasan bahwa ia tak memegang uang sama sekali. Entah benar entah tidak, Ayun ingin mempercayainya meski sulit. Memang, sejak adiknya lahir ibunya sudah tidak bekerja lagi, tapi ada ayah tirinya sebagai kepala keluarga. Apa tidak ada sedikitpun kepeduliannya pada sang ibu mertua. Sementara untuk membeli mobil saja, ayah tirinya itu mampu. Apa ibunya tidak mengingat, bagaimana dulu Simbah sampai rela berhutang kesana kemari hanya demi bisa mengiriminya uang, supaya putri semayangnya itu tidak kekurangan saat terusir dari rumah. "SMK! SMK!" Teriakan kernet menyadarkan Ayun dari lamunan. Bergegas ia keluar bersama beberapa anak yang juga memakai seragam dengan atribut sekolahnya. Thin! Thin! Thin! Thin! Ayun beringsut ke pinggir begitu mendengar suara klakson bising mengganggu indera pendengarannya. Gadis itu menoleh ke samping dan ia langsung mendapati Eros dengan jumawa melenggangkan melewatinya. Biasanya Ayun akan terganggu dengan suara bising yang memekakkan telinga itu. Tapi kali ini tidak Tidak ada gerutuan atau umpatan yang keluar dari bibir mungil itu. Gadis itu sedang dalam mode malas bicara untuk saat ini. Banyak masalah yang mengganggu dan menguras pikirannya saat ini. Hingga tenaga yang ia miliki pun ikut berimbas karenanya. *** "Yeyy ... Ayun udah masuk! Nih ... Eros kemarin nyariin lhoo ...," seru Indah kegirangan. Tak peduli tatapan Eros yang seakan ingin menelannya hidup-hidup. Sialan si Indah! Tatapan kedua remaja itu bertemu, namun tidak ada ekspresi berlebihan yang Ayun berikan. Berbanding terbalik dengan Eros yang sangat jelas memberikan sanggahan dengan wajahnya yang nyata menolak "fakta" yang diungkap oleh Indah. Terlalu gengsi bagi Eros untuk mau mengakuinya, meski hal itu benar adanya. Yang melegakannya adalah, Ayun sepertinya menganggap hal itu seperti angin lalu dan tak begitu mempedulikannya. "Pagi," sapa Ayun dengan senyum tipis pada Indah dan langsung duduk dikursinya tanpa berkata apapun lagi. Keceriaan yang biasanya selalu melekat diwajah manis itu kini berganti dengan kemuraman. Sejujurnya, Ayun ingin bersikap biasa, ingin terlihat baik-baik saja namun nyatanya ia hanyalah remaja berusia 16 tahun dan ia tidak setegar itu menghadapi cobaan ini. Banyak masalah yang mengganggu pikirannya saat ini. Bukan hanya tentang sakitnya simbah,biaya pengobatannya, tapi juga tentang biaya sekolahnya. Terbersit perasaan takut jika nantinya ia tidak bisa lagi melanjutkan pendidikannya. Ayun tak ingin putus sekolah. Apalagi sudah setengah jalan seperti ini. Perjuangan simbah sejauh ini haruskah berakhir sia-sia? Eros dan Indah saling melempar pandang melihat kediaman gadis berkulit putih dengan rambut lurus sebahu itu. "Mbah kamu gimana keadaannya, Yun?" tanya Indah setelah mendapat kode melalui mata Eros. Untung saja disaat seperti ini otak lola Indah mampu mengertikan apa yang ia maksudkan. "Udah mendingan," jawab Ayun sembari memaksakan senyumnya. "Terus kok kamu kaya sedih gitu sih? Beneran udah mendingan?" "Beneran ... aku cuma ngantuk aja." Ayun beralasan, kembali memaksakan senyumnya. Meski tak sepenuhnya berbohong. Bagaimanapun rumah sakit bukan tempat yang nyaman untuk beristirahat, apalagi dengan banyaknya beban pikiran yang mengganggu, membuatnya sulit untuk memejamkan mata hingga nyaris terjaga sepanjang malam. Padahal sejujurnya ia lelah, jiwa dan raga. Meski yang dilakukannya seharian hanyalah duduk-duduk saja, tapi rasanya lebih melelahkan dibandingkan ia harus lari 100 m, 200 m atau bahkan 400 sekalipun. "Mau ke UKS? Yuk, aku temenin, jam pertama Pak Barata ini." Pak Barata adalah guru Seni Budaya yang menjadi idola para murid. Bukan karena wajahnya, tapi karena cara mengajarnya yang santai dan lebih banyak guyonannya ketimbang membahas pelajaran. Selama satu setengah jam lamanya, jangan harap kelas akan sepi apalagi ada yang mengantuk. Karena riuh tawa akan menghias sepanjang mata pelajaran itu berlangsung. "Pak Barata, ya? Pas banget, sepertinya aku butuh hiburan." Ayun sedikit bersemangat mendengar jam pertama bukan mata pelajaran yang membuatnya harus berpikir keras. *** Ayun membuka tasnya, mengeluarkan isinya satu per satu mencari buku LKS Seni Budaya. Mengeceknya lagi dan lagi, sampai ia yakin bahwa Mas Farhan lupa memasukkan buku itu ke dalam tasnya. Gadis itu menghembuskan nafas kecewa sembari melirik teman sebangkunya yang menyebalkan itu ... kenapa waktunya bisa tidak tepat begini? Ketika Pak Barata menyuruh mereka mengerjakan soal di LKS alih-alih membuat lawakan seperti biasa. Disaat ia tidak membawa buku mata pelajaran itu. Yah, mau bagaimana lagi, sakit gigi membuat guru bertubuh jangkung itu terduduk lesu sembari memegangi pipinya dengan wajah nelangsa. "Kenapa?" tanya Eros melihat kebingungan teman sebangkunya itu. Ayun melirik Eros, terlihat ragu untuk menjawab. Tapi hanya makhluk laknat satu ini yang bisa membantunya saat ini. "Buku lo ketinggalan?" Eros berkata pelan namun tetap dengan ciri khas ketusnya. "Iya ...," jawab Ayun pasrah. Mau bagaimana lagi? "Ya, udah barengan." Ayun sedikit mencebik tak percaya si manusia laknat itu berbaik hati menawarkan bantuan kepadanya. "Nggak mau?" Eros kembali menarik bukunya melihat Ayun mencibir mendengar tawaran kebaikannya. Padahal jarang-jarang dia peduli dengan kesusahan orang lain, terlebih yang baru dikenalnya dan spesiesnya cewek pula. "Dih, niat nawarin nggak, sih?" Ayun manyun, menarik buku itu kembali ke tengah-tengah mereka. "Cih, tadi nggak mau ...." "Kapan aku bilang gitu?" elaknya. "Muka lo yang sengak yang ngomong," ketus Eros. "Ya udah ... kamu kerjain duluan. Nanti baru gantian ...." Ayun menggeser LKS itu lagi ke hadapan Eros. "Dih, enakan di elo dong tinggal nyontek. Enak aja ... kita kerjain bareng-bareng." "Ya, udah ... tapi jangan deket-deket." "Kalau jauh-jauhan gimana ngerjainnya, Bocah. Dasar aneh ...." Kasak-kusuk dibangku pojok itu cukup menarik perhatian. Suasana yang hening membuat suara bisik-bisik mereka terdengar begitu jelas ditelinga murid-murid yang lain dan tentunya sampai juga ke tempat Pak Barata yang berada paling depan. Sayangnya rasa nyeri yang menyerang membuat guru muda itu hanya bisa diam seribu bahasa. Matanya menutup, mulutnya terkatup rapat, telinganya berdengung hingga menimbulkan nyut-nyutan dikepalanya. "Brisik ... buruan kerjain," ucap Eros malas mendengar ocehan Ayun. "Aku udah jawab lima soal, lho. Gantian kali ... masa aku terus. Sekali-kali otaknya dipake dong, jangan cuma bisanya mikirin cewek terus." "Isshh brisik. Gue cium juga lo lama-lama." Buukkkk!!! LKS Seni Budaya itu sukses melayang ke bibir Eros dari tangan Ayun. Eros melotot. Semua mata menyorot ke tempat duduk mereka tanpa terkecuali. Bahkan juga mata Pak Barata yang berusaha susah payah membuka. "Kalian kalau mau pacaran ... keluar sana."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN