Ribut Lagi

1345 Kata
Tiga hari kemudian, Dokter akhirnya mengijinkan simbah untuk pulang. Masalah administrasi dibayar menggunakan uang dari hasil penjualan sapi, yang awalnya direncanakan Simbah untuk membelikan Ayun sebuah sepeda motor. Tapi mau bagaimana lagi, manusia hanya bisa berencana, ternyata yang diatas belum mengijinkan keinginannya untuk membahagiakan sang cucu. Kini malah kondisinya lemah seperti ini. Meski dokter telah menyarankannya itu untuk tidak banyak pikiran demi kesehatannya. Namun tetap saja, wanita tua itu tidak bisa berhenti mengkhawatirkan pendidikan cucunya. Bagaimana ia bisa bekerja dan menghasilkan uang kalau kondisinya masih belum pulih sempurna seperti ini. "Mbah, Ayun berangkat dulu." Gadis itu salim, mencium tangan keriput yang mengendur itu dengan takzim. Tak tega sebenarnya Ayun meninggalkan Simbah di rumah sendirian dalam kondisinya yang masih lemah seperti ini.Tapi Simbah terus saja memaksanya untuk berangkat ke sekolah demi masa depannya kelak. "Hati-hati ya, Yun," ucapnya lemah. "Iya, Ayun udah masak. Simbah istirahat aja biar cepat sembuh. Obatnya jangan lupa diminum, kalau ada apa-apa bilang sama Mbak Asiyah. Harus," tegas Ayun tak bisa menutupi rasa khawatir yang terus menggelayutinya. "Iya ... ya, udah sana, nanti ketinggalan angkot ...." "Ya udah, Ayun pergi dulu ... Assalamuallaikum." "Wallaikumsalam," jawab Simbah sembari menatap langkah lincah sang cucu yang berlari kecil keluar rumah dan mampir sebentar ke warung Asiyah yang tepat berada didepan rumah mereka. Wanita tua itu tersenyum bahagia sekaligus haru. Betapa bangganya ia pada cucu kesayangannya itu. Ayun anak yang baik, penuh semangat, dan merawatnya dengan begitu telaten. Bahkan tak jijik sedikitpun saat membersihkan bekas muntahannya. Ia tahu, cucunya itu pasti sedang menitipkan pesan pada tetangga mereka itu untuk sesekali menengoknya. Baru, setelah Ayun tak terlihat lagi oleh pandangannya yang sedikit buram. Mata tua berwarna keabuan itu melirik laci meja tua disebelahnya. Susah payah tangan tuanya mengambil ponsel pemberian Yani, anaknya sekaligus ibunya Ayun. Wanita itu nampak termenung sejenak. Namun akhirnya setelah sekuat tenaga mengumpulkan kekuatannya. Kaki kurus itu berjalan tertatih ke warung depan, hendak mengisi pulsa dan meminta Asiyah menelfonkan anaknya untuk membicarakan biaya sekolah Ayun. Setidaknya, untuk sementara ini saja, sampai ia benar-benar sehat kembali. Ia ingin anak semata wayangnya itu mau membantunya untuk meringankan bebannya membiayai sekolah Ayun. *** Ayun menerima seragam Popda itu dari Abah dengan begitu bersemangat. Akhirnya dua hari lagi, hari pertandingan yang ia tunggu-tunggu akan tiba. Sedikit dag dig dug, mendebarkan tapi ia juga tak sabar ingin segera esok dan esoknya lagi. Ayun memeluk seragam berwarna orange yang masih terbungkus plastik itu. Dalam hati ia berdoa, semoga tahun ini ia bisa meraih kemenangan kembali dan tentunya melanjutkan pertandingan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni tingkat Propinsi. Jangan lupakan tujuan utamanya adalah hadiah uangnya. Ia sangat membutuhkan uang itu untuk membayar uang sekolahnya. Dengan kondisi Simbah yang lemah seperti sekarang, ia tahu semua akan semakin sulit untuk ke depannya. Disatu sisi ia ingin berhenti dan menyerah tapi disisi lain ia tidak rela melepas perjuangan yang sudah setengah jalan ini. Beriringan dengan Mia yang juga mengambil seragam sepertinya. Mereka menaiki tangga sambil mengobrol santai. "Yun, kamu tahu siapa pacar Eros sekarang?" tanya Mia lesu. "Hah? Emang udah nggak sama kamu lagi?" Ayun mengangkat alisnya. Ia justru baru tahu dan sebenarnya juga tak mau tahu urusan manusia laknat satu itu. Lagipula ia punya banyak masalah yang lebih penting yang harus dipikirkannya ketimbang memikirkan si playboy satu itu. "Aku cuma dipacarin sehari, abis itu diputusin." Gadis itu terlihat masih belum bisa move on. "Issh ... dasar Playboy." Geram juga Ayun mendengarnya. "Alasannya katanya bosan." Mia mencebik kesal. "Jahat banget yakin, emang aku orangnya ngebosenin ya, Yun?" "Enggak, kok. Dia aja yang saiko ... move on, Mia. Cowok j*****m model begitu buat apa, sih masih dipikirin? Buang-buang waktu ... mending fokus aja buat pertandingan besok," hibur Ayun riang, berusaha mengalihkan pikiran sang teman yang sedang patah hati itu. "Pacar Eros anak kelas tiga, deh kayanya sekarang." Rupanya Mia masih ingin membahas tentang Eros. "Masak, sih? Siapa?" tanya Ayun seolah dirinya tertarik dengan pembahasan tentang pacar baru playboy laknat itu. Padahal sebenarnya dalam hati, dia bodo amat lelaki itu mau pacaran sama anak kelas satu, dua, tiga, atau guru sekalipun. Ayun tidak peduli sama sekali. "Nanti aja lagi, deh curhatnya," ucap Mia begitu mereka sudah tiba didepan kelasnya. Sementara kelas Ayun sendiri persis disebelah ruang kelas Mia. "Ya, udah kalau gitu. Jangan galau terus!" serunya seraya kembali meneruskan langkah. Tak sempat melihat tangan Mia yang terangkat tinggi dan mengacungkan jempolnya ke atas sebagai jawaban. *** "Eh, kok isinya berkurang?" Ayun mengecek botol minuman berisi jamu godhog yang ia ambil tadi pagi dirumah sang peracik. Seorang pria paruh baya yang menyewa rumah tak jauh dari sekolahnya. Oleh karena itu tadi pagi Ayun sekalian mampir ke sana dan mengambil pesanannya. Jamu itu ia beli atas saran beberapa tetangga yang sembuh dari penyakit yang sama, yang diderita oleh Simbahnya. Eros seketika menghentikan permainan game-nya, melirik diam-diam sekilas ke samping. Sebelum kemudian berpura-pura tuli dan memasang wajah tanpa dosa. "Erosss." Ayun menggeram. "Pasti kamu, kan?" Laki-laki itu menoleh perlahan sebelum tersenyum kecut. "Ya elah ... dikit doang, cuma nyobain." Tetap saja ujung-ujungnya Eros memilih membela diri ketimbang meminta maaf dengan sukarela. Padahal jelas-jelas ia dalam posisi salah. "Nyobain kamu bilang?" Ayun meletakkan botol kaca itu ke meja hingga menimbulkan suara bedebam yang cukup keras. "Ini bisa satu gelas penuh kalau dituang. Terus kamu bilang apa tadi? Nyobain?" Ayun mencoba menahan emosinya. Kalau urusannya sudah menyangkut uang dan kesehatan Simbah, ia tak main-main. Harga sebotol jamu godhog lima puluh ribu rupiah, dan nominal itu tidaklah bisa dikatakan murah bagi dirinya yang melarat ini. "Ini bukan seratus persen salah gue. Lihat ...." Eros menunjuk tulisan Vodka dan Beer dibotol kaca itu. Ia masih berusaha untuk membela diri. "Siapa yang nggak penasaran, kalau lihat temannya ke sekolah bawa-bawa minuman beginian. Mana gue tahu kalau isinya jamu ...." "Lah terus kenapa kamu minum? Kan, bisa tanya dulu, kek sama aku?" Benar-benar alasan yang nggak masuk akal, pikirnya. "Ya lo kelamaan dibawah. Gue udah penasaran." "Penasaran ya penasaran ... tapi ya nggak segelas juga diminumnya. Itu namanya doyan." "Ya, siapa suruh rasanya enak. Gue, kan jadi penasaran buat mastiin lagi dan lagi ...." "Ihh, aku nggak mau tahu, ya. Pokoknya kamu harus ganti." "Yaaaa udah, gue ganti. Bawel banget, berapa, sih emang harganya?" Eros tak bisa mengelak lagi. Ia akui memang salah, lagian malu juga ia menjadi tontonan teman sekelas hanya gara-gara segelas jamu yang harganya paling juga tidaklah seberapa. Nanti dikiranya ia orang susah yang kurang mampu lagi. Jatuh pamornya sebagai playboy paling limited edition di sekolah ini. "Lima puluh ribu," ketus Ayun. "Ya elah, cuma segitu doang pakai ngajak ribut segala. Gue ganti dua kali lipat!" ucap Eros jumawa. "Ya udah." Mendengar kata dua kali lipat, suara Ayun melunak. Lumayanlah buat beli lagi nanti kalau jamunya habis. "Ya udah apa?" Eros memicingkan matanya. Menyelidik. "Katanya ganti dua kali lipat?" "Kemaruk juga lo ya?" "Kamu sendiri yang bilang, kok." Ayun membela diri keki. "Ributtt muluuu, Pak ... Buk?" seru Melani dari tempatnya. Sementara Anita seperti biasa, pura-pura acuh. Sampai detik ini, ia masih sakit hati dengan playboy satu itu. "Tahu nih orang, tiap hari selalu aja bikin masalah," dumel Ayun lirih yang langsung dihadiahi pelototan protes oleh Eros. "Ape lo? Oh, iya satu lagi." Ayun baru teringat sesuatu. "Apalagi?" dengus Eros ketus. "Kamu harus nganterin aku ke rumah tukang jamunya. Nungguin sampai jamunya selesai dibuat dan kamu harus nganterin aku pulang sampai rumah. Titik." "Heh ... gue cuma minum segelas bukan sebotol," protes Eros. "Sama aja. Mau satu gelas, kek mau satu botol, krk. Kamu udah bikin aku rugi waktu." Ayun menyimpan kembali botol itu dibawah meja bersama satu botol lagi yang masih utuh. "Coba kalau kamu nggak sembarangan minum tadi. Aku nggak harus capek-capek ke rumah tukang jamunya. Nggak harus nunggu proses bikin jamunya yang lama. Dua hari lagi aku mau pertandingan dan aku nggak mau kecapekan terus nanti pas pertandingan stamina aku turun terus kalah. Aku nggak mau tahu, kamu harus tanggung jawab," tegas Ayun panjang lebar. "Alasan aja lo. Bilang aja lo mau deket-deket gue." "Apa! Deket sama situ?" Ayun menarik sudut bibirnya, menyeringai sinis. "Sorry banget ya ... tapi aku tuh alergi sama playboy cap jamu godhog kaya kamu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN