Duduk dikursi rotan teras rumah berwarna biru langit, dua sejoli itu nampak menyesap teh manis hangat yang disuguhkan Pak Kancil. Entah siapa nama asli pria paruh baya itu, tetapi beberapa tetangga Ayun yang pernah membeli jamu disini, mereka terbiasa memanggilnya dengan panggilan yang terdengar aneh bagi telinga kedua remaja itu.
"Masih lama?" tanya Eros bosan, seperti biasa dengan nada bicara ketus yang menjadi ciri khasnya.
"Nggak tahu. Tadi pagi aku tinggal ambil soalnya sebelumnya udah pesen duluan. Gara-gara kamu, sih ... coba tadi nggak sembarangan kamu minum, udah pasti sekarang aku udah di rumah. Simbah aku sendirian tahu, masih belum pulih, kasihan ...," gerutunya Ayun menyun. Seharian ini ia tak tenang memikirkan kondisi Simbah dirumah.
"Kenapa tadi nggak pesen dulu?"
"Udah tahu aku nggak punya hp, apalagi nomornya. Itu juga dipesenin sama tetangga aku." Ayun menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi rotan itu. Menyedekapkan tangan dan memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang menyejukkan.
Eros menarik nafas panjang. Memandang ke hamparan sawah yang menguning tepat di depan rumah Pak Kancil. Memang indah pemandangan itu, namun wajah manis yang yang memejam itu terasa lebih menarik untuk ia perhatikan. Ayun memiliki kulit yang putih, hidung kecil yang lumayan mancung, bibir yang memiliki warna alami merah muda, rambut yang lurus, dan poninya ... yang bergerak-gerak karena hembusan angin. Entah kenapa, hal itu bisa menghadirkan senyuman dibibir Eros. Laki-laki itu sendiri tak mengerti kenapa ia harus merasa lucu hanya karena hal semacam itu.
Kruuukk ... kruuukkk ...
Senyum dibibir Eros terurai seketika demi mendengar suara tak asing itu. Berusaha memastikan dari perut siapa suara itu berasal. Ia memegang perutnya sendiri, mencoba merasai apakah ia merasa lapar atau tidak sekarang ini. Tapi sepertinya ... tidak! Sebelum mengantarkan Ayun tadi, ia sempatkan mampir dulu ke kantin sekolah dan mengisi perutnya. Eros melirik Ayun yang masih bersandar dikursi dengan mata terpejam.
Kruukkk ... kruukkk ...
Suara itu terdengar lagi.
"Lo laper?" tanya Eros. Ia tahu gadis itu masih terjaga, meski suasana sejuk didepan rumah Pak Kancil itu menghantarkan rasa kantuk yang luar biasa disiang menjelang sore ini.
"Menurut sam-pe-yan?" tanya Ayun dengan bahasa jawa yang kaku. Persis seperti orang mengeja. Karena meski sudah bisa mengerti bahasa Jawa tapi untuk mengucapkannya Ayun masih sangat kaku dan kagok.
Eros tersenyum kecil mendengar logat Ayun yang sangat aneh ditelinganya itu.
"Mau makan dulu?" Eros mencoba berbaik hati menawari. Ia tahu, di sekolah teman sebangkunya itu jarang sekali jajan, apalagi makan di kantin. Hampir tidak pernah sepertinya.
"Nggak punya duit. Kamu mau traktir?" Mata Ayun membuka, senyum jahilnya tersungging merekah. Sumpah mampus! Biasanya ia tahan menahan rasa laparnya. Tapi tidak dengan hari ini. "Aku bisa disini kelaparan ... gara-gara kamu lho ...." Ayun terus memprovokasi melihat wajah Eros yang mencemoohnya.
"Ck ... iya ... iya ...." Eros mengalah dan mengambil kunci motornya. "Ya udah ... ayo ...."
"Sebentar ... pamit dulu sama Bapaknya." Ayun masuk ke dalam rumah dan menemui Pak Kancil. Menanyakan apakah masih lama atau tidak jamu pesanannya.
"Ini udah jadi kok, Mbak." Ternyata Pak Kancil tengah menuang jamu godhog itu ke dalam botol bekas tempat sirup, tentunya yang sudah dibersihkan.
"Kirain masih lama. Tadinya mau keluar, mau makan dulu sebentar." Ayun menerima jamu dari tangan Pak Kancil, sembari mengambil uang lima puluh ribu dari saku seragamnya dan menyerahkannya pada pria paruh baya berkumis tipis itu.
"Udah ... udah selesai. Suwun nggih, Mbak." ( Terima kasih, Mbak )
"Sami-sami ( sama-sama)," jawab Ayun dengan logatnya yang aneh.
"Mbak orang Jakarta, ya?"
"He ... iya, Pak." Ayun mengiyakan biar cepat. Perutnya benar-benar lapar minta diisi. Ia sendiri bingung sebenarnya ia orang mana. Yang pasti ia lahir dan besar di Jakarta, meski ibunya orang jawa sementara Bapaknya ...? Mungkin juga dari belahan bumi yang sama tapi sekarang entah dimana rimbanya.
Setelah berpamitan. Ayun kembali membonceng Eros dengan susah payah, karena ia memakai rok sedangkan motor Eros begitu tinggi dan membuatnya tak nyaman. Dua botol jamu yang dijadikan satu dalam plastik warna loreng itu ia letakkan ditengah, untuk memberi jarak antara dirinya dan Eros.
"Jangan ngebut. Kalau nggak ... aku getok kepala kamu pake botol," ancam Ayun tak main-main. Ia benar-benar trauma dengan cara teman sebangkunya itu membawa motornya tadi.
"Hemm ... mau makan dimana?" tanya Eros setelah motornya melaju meninggalkan pekarangan rumah Pak Kancil.
"Ehmm ... nggak jadi, deh. Langsung pulang aja," jawab Ayun setelah berpikir sejenak. Lebih baik cepat sampai rumah, bertemu simbah dan segera mengetahui keadaannya. Masalah perutnya yang keroncongan masih bisa ia tahan, lagipula sebenarnya awalnya ia juga hanya iseng saja meminta Eros mentraktirnya.
"Katanya laper?"
"Gampanglah nanti di rumah."
"Tapi gue lapar. Mampir dulu, ya ...." Entah kenapa ia ingin menahan gadis itu lebih lama bersamanya dengan menggunakan rasa lapar gadis itu sebagai alasan. Padahal sejujurnya perutnya masihlah kenyang.
"Yaaa ... udah, deh." Ayun akhirnya mengalah. Meskipun ia sering kesal pada playboy satu ini, tapi ia bukan ratu tega yang bisa bersikap egois dan membiarkan seorang teman harus menahan lapar karena mengantarkannya. Sementara jarak ke rumahnya sangatlah jauh.
Akhirnya setelah mencari-cari, Eros menghentikan motornya disebuah warung makan lesehan. Ia memesan nasi rames sementara Ayun nampak canggung dan belum memesan apapun. Gadis itu belum pernah ditraktir siapapun sebelumnya. Jadi menerima kebaikan orang lain, sedikit membuatnya tak nyaman dan tak enak hati.
"Aku ... nggak, deh," ujar gadis itu akhirnya.
"Ck ...." Eros berdecak tak suka. "Soto ayam mau?"
Ayun terdiam, nampak menimang, membuat Eros yang tak sabaran akhirnya memutuskan sendiri pesanan makanan apa untuk gadis itu.
"Kenapa sih? Malu?" tanya Eros sembari duduk bersila ditikar yang tergelar disana. Begitupun dengan Ayun, tentunya dengan cara duduk yanh berbeda.
"Bukan ... nggak enak aja. Aku nggak biasa ditraktir begini," jawabnya jujur dan canggung.
"Ck ... dasar cewek aneh." Eros gumam-gumam lirih.
"Apa kamu bilang?"
"Nggak," elak Eros.
Tak lama minuman mereka datang, disusul kemudian makanannya. Saat tengah menikmati makanan mereka, telefon Eros berdering. Laki-laki itu menggeser ponsel merk Sony itu dan melihat nama pemanggil dilayar. Vita. Pacar barunya.
Eros memilih tidak menjawab panggilan itu, dan mengirimkan sebuah pesan. Sebelum kemudian membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja dan melanjutkan menyantap makanannya.
"Siapa?" tanya Ayun yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Eros sembari menyantap soto ayam yang begitu lezat tercecap indera perasanya.
"Kepo lu," cibir Eros dengan seringainya.
"Isshh ... pacar kamu pasti?" tebak Ayun tepat.
"Kalau iya kenapa?"
"Ya, nggak kenapa-kenapa. Cuma heran aja ... kayanya tiap hari kamu tuh ganti-ganti pacar terus ...." Sebenarnya Ayun enggan ikut campur, cuma kalau mengingat Anita dan Mia, hatinya ikut gondok melihat kelakuan playboy kota satu ini.
"Nasib orang ganteng," jawab Eros seperti biasa dengan gaya jumawanya. Membuat gadis itu mau tak mau membuang nafas sebal sembari memutar bola matanya malas.
"Emang kamu nggak kasihan gitu sama mereka. Cuma kamu jadiin mainan ... terus abis itu dibuang gitu aja."
"Gue maininnya nggak pakai perasaan," jawab Eros enteng.
"Dasar manusia laknat," gumam-gumam Ayun kesal. Semudah itu Eros mengatakannya, padahal gadis-gadis yang ia sakiti perasaannya pada patah hati karea ulahnya.
"Lihat aja ... aku doain, suatu saat kamu dapat karma." Ayun merapalkan doa dalam hati.
"Kenapa lo? Doa' in gue jelek, ya?" Eros menelisik melihat wajah masam Ayun yang menamatinya.
"Iya." Lugas Ayun menjawab tanpa tedeng aling-aling. "Aku doa' in supaya kamu kena karma suatu saat nanti ...," lanjut Ayun lantang.
"Amiinnn." Eros mengaminkan doa Ayun tanpa beban sama sekali. Malahan dari sudut bibirnya terbit seringainya yang menyebalkan itu.
"Ck ... lihat aja. Aku bakal jadi orang pertama yang bakal tertawa atas keterpurukan kamu nanti," ujar Ayun sebal.
"Siaaap." Tawa Eros berderai begitu mengesalkannya.