"INI kopinya, Pak." Secangkir kopi hitam diletakkan Bi Wati ke hadapan Pak Mahmud. "Nah, lha ya ini yang namanya top markatop. Ada pisang goreng, ada wedang kopi. Matur nuwun, Bi," ucap Pak Mahmud semringah, lalu mulai mencomot satu pisang goreng yang juga baru ditiriskan Bi Wati. "Ati-ati, masih panas, Pak." "Iya, Bi." Sebentar kemudian, Bi Wati ikut mengambil tempat duduk bersama Pak Mahmud di kursi kosong lain depan meja kitchen island. Di tangannya sudah ada sebuah kemeja PDL berwarna cokelat muda serta kotak peralatan menjahit. "Jahit opo toh, Bi?" Pak Mahmud bertanya kepo. "Ini, mau benerin kancing baju seragam Pramuka-nya Den Kenzie yang lepas," jawab Bi Wati sambil memicing-micingkan matanya ketika ujung benang belum masuk-masuk juga ke lubang jarum, padahal sudah dibasa

