Hari yang kutakutkan akhirnya datang. Hari ini adalah hari penentuan nasibku ke depan. Aku jelas tidak bisa tidak cemas. Sejak semalam, aku nyaris tidak bisa memincingkan mata sedetikpun. Aku takut, gelisah, cemas, namun sekaligus merasa bersemangat dan mulai punya setitik harapan di saat yang sama. Aku berusaha mengenyahkan semua perasaanku saat aku berdiri dari tempat dudukku untuk mengikuti dua sipir penjara yang bertugas mengawalku. Kakiku bergetar hebat saat dua sipir penjara itu mulai membawaku memasuki ruang sidang. Aku mencoba tenang, tapi hatiku sama sekali tidak dapat diajak bekerja sama. Setiap kali aku menemukan tatapan mata sinis dari orang-orang yang memadati ruangan itu, aku dapat merasakan keteganganku meningkat tanpa bisa kucegah. Aku berusaha tidak menatap s

