”Hai, Kira.” Kirana yang tengah memunggungiku sambil melamun menatap langit senja, tampak tersentak kaget sebelum menoleh sambil tersenyum saat melihatku. Sambil membalas senyumannya, aku melangkah mendekati Kirana dan akhirnya duduk di samping wanita yang menjadi pusat pikiranku beberapa waktu terakhir ini. “Bagaimana kabar kamu dua hari ini? Baik?” tanyaku benar-benar ingin tahu. Kirana mengangguk sambil tersenyum manis. Dan begitu melihat senyumannya, aku berdesir. Selama beberapa detik, aku hanya bisa terpana melihatnya tanpa bisa bicara atau bahkan bergerak. Ketika Kirana membuka suaranya untuk menyapaku, baru kesadaranku pulih sedikit demi sedikit. “Kabarku baik. Di sini sangat menyenangkan,” kata Kirana jujur. Aku tersenyum penuh syukur. Aku ikut senang

