Keajaiban yang kutunggu bersama Salsa tidak kunjung muncul. Saat aku pulang dari Rumah Sakit, aku kembali menemukan Salsa terkapar di rumah. Aku sadar sakitnya sudah amat sangat parah. Tanpa banyak berpikir, aku membawanya kembali ke Rumah Sakit. Sekalipun tidak mempunyai uang sama sekali, pihak Rumah Sakit tidak keberatan memberi kamar pada Salsa. Aku dan Dio menunggu semalaman di kamar itu. Aku memegang tangan kanan Salsa, dan Dio tangan kirinya. Saat tengah malam Salsa terbangun, aku dan Dio menghabiskan malam itu dengan berbincang bersama. “Dio, Mama punya satu permintaan padamu, kamu mau menurutinya?” tanya Salsa dengan suara lemah. Dio mengangguk dengan tidak bersemangat. Aku tahu Dio sedang sedih melihat keadaan Ibunya. “Dio, kalau suatu saat nanti

