Aku sangat terkejut ketika sipir penjara itu membangunkanku pagi itu. Tanpa diberitahu, aku tahu bahwa sipir ini membangunkanku bukan untuk melakukan tugas rutin yang harus kulakukan tiap harinya.
Aku bangun dengan cepat. Aku sudah terbiasa untuk sadar cepat dari tidurku, jadi aku tidak merasa kesulitan dalam beradaptasi dengan cahaya yang masuk ke dalam mataku begitu aku membuka mata.
”Cepat bangun, ada yang mau bertemu denganmu!” kata sipir penjara itu.
Sekalipun aku heran, aku mengikuti sipir penjara itu.
”Boleh aku ke kamar mandi sebentar?” tanyaku pelan.
”Lima menit!” jawab sipir itu dengan nada suara yang sama sekali tak ramah.
Aku berterima kasih padanya, lalu bergegas ke kamar mandi yang keadaannya jauh dari standar itu.
”Boleh aku tahu siapa yang ingin bertemu denganku pagi-pagi begini?” tanyaku penasaran saat aku digiring ke tempat yang biasa digunakan para napi untuk bertemu sanak saudara mereka.
”Nanti kau akan tahu! Jangan banyak tanya lagi!” kata sipir itu.
Aku pun berhenti bertanya. Sekalipun masih penasaran siapa yang akan menemuiku mengingat aku sama sekali tidak mempunyai keluarga, aku memilih diam daripada memancing kekesalan sipir yang bertugas menjagaku hari ini. Pasrah, aku hanya berjalan mengikuti sipir itu sambil mengira-ngira siapa yang ingin bertemu denganku.
*
Ternyata Dokter itu lagi!
Aku menatap jengkel pada Dokter yang mengaku sebagai paman dari pria yang katanya ingin membelaku itu. Aku lupa siapa namanya, tapi yang jelas, aku benci sekali pada pria itu.
Bagaimana mungkin aku tidak benci padanya. Selain tidak percaya padaku, rupanya dia juga menganggapku gila. Terbukti dengan tindakannya mengirim Dokter ini padaku.
Aku duduk dengan terpaksa di kursi yang telah disediakan untukku. Kali itu aku baru sempat memperhatikan pria lain yang ada dengan Dokter kemarin. Wajahnya bersih. Sekilas, tampak begitu tegas. Aku membuang muka, lalu menatap tekel ruangan, seperti yang biasa kulakukan bila ada yang ingin bertemu denganku.
”Hai, Kirana. Apa kabar?” tanya Dokter Sam ramah.
Aku sengaja tak menjawab. Untuk apa? Dia dan keponakannya telah menganggap aku gila, padahal aku tidak gila! Jadi, untuk apa aku ramah pada mereka?
”Hari ini aku membawa seorang teman, maukah kau berbicara dengannya?” tanya Dokter Sam sabar.
Aku masih tak menjawab, tapi aku tersenyum sinis. ”Untuk apa? Untuk memastikan apakah aku gila atau tidak?” jawabku ketus.
Dokter itu tersenyum menenangkanku. ”Aku tidak pernah menganggapmu gila, anakku. Aku hanya ingin mengenalkan temanku padamu,” jawab Dokter Sam ramah. ”Apa kamu marah karena itu?” lanjut Dokter itu tak terpancing nada ketusku.
Aku menatap pria itu dengan tidak percaya. Jika memang bukan untuk memastikan aku gila atau tidak, buat apa dia mengenalkannya pada temannya?
”Untuk apa Anda membawa teman ke sini? Mengenalkanku pada teman Anda? Yang benar saja. Satu-satunya alasan hanyalah untuk mendukung pertanyaan Anda yang telah menganggapku gila bukan?” cecarku curiga.
Dokter itu bicara, tapi tidak menjawab pertanyaanku. ”Ini Dokter Heru. Dia teman seperjuanganku waktu aku belum menjadi Dokter seperti saat ini. Kau bicaralah dengannya, nanti kau juga tahu bagaimana perannya dalam membantumu kelak.”
Aku tidak mengerti apa yang Dokter itu katakan. Aku sama sekali tidak mengerti. Tapi satu hal yang dapat kupegang, paling tidak, aku tahu Dokter ini bisa dipercaya.
”Hai, Kirana. Benar kan itu namamu?” tanya Dokter yang katanya bernama Heru itu.
Semula aku tidak ingin menjawab, tapi entah mengapa saat melihat Dokter ini aku mempunyai keinginan aneh untuk merespon pertanyaannya.
”Ya, aku Kirana,” jawabku singkat.
”Berapa umurmu?”
Aku berpikir sejenak. Berapa ya umurku? Aku sendiri tidak begitu ingat. ”Entahlah, aku sendiri tidak begitu ingat, tapi mungkin, 22 tahun,” jawabku hampir pasti.
”Aku juga mempunyai seorang putri, tapi usianya jauh lebih kecil darimu. Aku harap kelak kau bisa berteman dengannya,” kata Dokter Heru sungguh-sungguh.
Dokter Heru tersenyum padaku. Aku terpana. Aku mungkin juga hampir menangis. Pertama kali melihat Dokter Heru, aku pikir dia hanya seorang Dokter yang tidak peduli pada pasiennya. Wajahnya yang tegas dan keras tidak menunjukkan keramahannya sama sekali.
”Tapi aku tidak pantas—” kataku pelan.
”Kenapa tidak?”
”Aku pembunuh—”
”Benarkah?”
Aku menatap Dokter Heru. Sekali lagi aku terpana. ”Anda percaya aku tidak membunuh orang itu?”
Dokter Heru tersenyum lagi padaku.
”Kau mau bercerita padaku tentang kejadiannya?” kilah Dokter Heru manis.
Aku suka pada Dokter ini. Sekalipun dia tidak menjawab pertanyaan terakhirku, aku menghargai niatnya.
Aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi pada hari itu. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, aku hanya dapat mengulang apa yang telah aku ceritakan pada polisi, pria menjengkelkan yang kutemui beberapa hari yang lalu, juga pada paman pria itu.
”Aku tidak bisa mengingatnya. Yang aku tahu, aku sedang membereskan kamarku saat Mami masuk tiba-tiba dan memberitahuku ada orang yang ingin menyewaku bahkan membawaku ke Surabaya selama beberapa hari. Aku ketakutan. Selama aku di sana, aku memang sering disuruh melayani pria, tapi aku sama sekali tidak bisa mengingatnya. Sebelum aku melayani mereka, semua gelap. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Seperti juga hari itu. Begitu Mami berkata seperti itu, aku tiba-tiba tidak ingat lagi apa yang terjadi.”
Dokter Heru mengangguk mengerti sebelum mulai berbicara kembali.
”Tidak bisakah kau mengingatnya kembali? Apakah kau tidak ingin berusaha mengingat kembali tentang semua itu?”
Aku memejamkan mataku. Aku sudah mencobanya berulang kali, Dok, jawabku dalam hati. Tapi aku selalu gagal untuk mengingatnya. Pernah aku mencoba bertanya pada seorang temanku tentang apa yang terjadi pada orang yang menyewaku, kenapa mereka batal menggunakan ’jasa’ku, tapi mereka hanya menatap heran padaku. Mereka malah menceritakan hal aneh padaku. Mereka bilang, tiap pelangganku mengaku puas pada Mami. Katanya aku hebat dalam permainan ranjang. Padahal aku tidak melakukan apa-apa!
Aku sempat merasa diriku gila! Aku sungguh tidak bisa mengingat apa-apa. Dan aku selalu tertekan tiap kali melihatnya. Air mata kini mendesak keluar dari mataku. Aku benci kalau mengingat keanehan tubuhku. Dan sebelum aku membuka mataku lagi, sebelum aku menceritakan perasaanku pada Dokter Heru, aku merasakan sekitarku gelap kembali.
”Kenapa Anda ingin tahu?” tanya Lira yang tiba-tiba menggantikan Kirana.
Dokter Heru maupun Dokter Sam tidak begitu terkejut dengan perubahan itu. Dokter Sam telah mengalaminya berulang kali pada pertemuan pertamanya dengan Kirana, sedangkan Dokter Heru, dia bisa dibilang agak terbiasa dengan situasi seperti ini, itulah sebabnya Dokter Sam memutuskan untuk memanggil temannya yang satu itu.
”Siapa namamu?” tanya Dokter Heru tenang.
”Bukankah tadi sudah kau tanyakan?” jawab Lira memancing.
”Aku belum pernah bertemu denganmu, bagaimana aku bisa bertanya padamu?” tanya Dokter Heru sabar.
Lira menatap Dokter itu dengan takjub. Selama ini, belum ada yang bisa begitu yakin dalam membedakan dia, Kirana atau Gadis.
”Anda tahu?” tanya Lira penasaran.
Dokter Heru tersenyum.
”Tergantung apa yang kaumaksud dengan pertanyaan itu,” jawab Dokter Heru sabar.
”Anda tahu kalau saya bukan Kirana?” tanya Lira mulai tidak sabar.
”Kalau itu, ya, saya tahu!”
”Bagaimana bisa?”
”Kau lupa kalau saya ini Dokter?”
Lira mendengus tidak percaya. ”Ah, tidak semua Dokter bisa,” sindir Lira sambil melirik terang-terangan pada Dokter Sam.
Dokter Heru mengerti benar siapa yang dimaksud oleh Lira. Dia tersenyum menenangkan.
”Memang tidak semua Dokter bisa. Hanya Dokter yang telah mengambil spesialis atau paling tidak yang pernah mendalami tentang hal ini yang bisa,” kata Dokter Heru mantap. ”Tapi kalau yang kau maksud tadi adalah sahabatku, Dokter Sam, kau salah, anak muda. Justru karena dia tahu, aku bisa berada di sini sekarang!”
”Kira benci padanya. Dia mengira Kira gila. Dia dan keponakannya yang sok itu!” kata Lira lagi.
Dokter Sam tidak marah atas kesinisan Lira. Dia juga tersenyum pada Lira lalu memandang Lira lekat-lekat.
”Sebelum bertemu dengan kalian, aku mengaku sempat mengira kalian gila. Namun begitu aku keluar dari pintu ruangan ini tiga hari yang lalu, aku tahu kalian tidak gila,” kata Dokter Sam sabar. ”Dan tolong jangan membenci keponakanku. Dia serius ingin membantu kalian.”
Lira mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin terlalu mempedulikan Dokter Sam.
”Baiklah, jadi, siapa namamu?” tanya Dokter Heru mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tidak kondusif.
Lira menatap Dokter Heru dengan pandangan menantang.
”Kalau aku tidak mau memberitahu kalian?” tanyanya senang.
”Ah, sudahlah, kami tahu jelas sebenarnya kau ingin diketahui. Bahkan mungkin diakui.”
Lira tersenyum tipis. Tanpa banyak berpikir, dia menyebutkan namanya.
”Lira. Namaku Lira...”
Dokter Heru dan Dokter Sam berpandangan sejenak sambil tersenyum. ”Nama yang bagus,” puji Dokter Heru yang diangguki oleh Dokter Sam.
”Boleh saya kembali menanyakan beberapa hal?” sambung Dokter Heru.
”Coba saja...”
”Baiklah, selain ada kau dan Kirana, ada siapa lagi dalam tubuh itu? Apakah kau tahu?”
Lira tertawa mencemooh. ”Tentu saja aku tahu. Aku kan tidak bodoh seperti Kira yang hanya diam saja mengetahui banyaknya waktu yang hilang dari dirinya,” kisah Lira. ”Aku berbeda. Aku mencari tahu, dan sekarang aku tahu.”
Dokter Heru tampak tertarik dengan pengakuan Lira. ”Saya percaya kau pandai. Sekarang, bisakah kau menceritakan tentang siapa-siapa lagi yang ada di tubuh itu?”
Lira menyeringai sinis. ”Apa imbalannya untukku?”
”Kesembuhanmu, anakku...”
Lira tiba-tiba memucat. ”Siapa yang bilang aku mau sembuh? Aku senang dengan keadaan sekarang. Daripada harus membiarkan Kira yang menguasai tubuh ini!”
Dokter Heru menatap Lira dengan agak prihatin. Dengan matanya sendiri, dilihatnya Lira mulai tampak tidak fokus, bergidik lalu menjadi seseorang yang lain.
”Hai, saya Dokter Heru. Boleh saya tanya siapa namamu?” tanya Dokter Heru pelan.
Kali ini, Gadis yang muncul. Gadis tersenyum ramah pada Dokter Heru dan Dokter Sam. ”Hai juga, Dokter. Saya tahu tentang Dokter Heru dan Dokter Sam. Saya tahu walau bukan saya yang berbicara dengan Dokter sebelumnya.”
Dokter Heru mengangguk mengerti. Dia tahu jelas hal ini mungkin terjadi pada Kirana.
”Nama saya Gadis. Pertama, izinkan saya meminta maaf atas kelakuan Lira. Dia memang agak liar. Dan Dokter Sam, jangan terlalu mengambil hati tentang apa yang dikatakan Lira tentang keponakan Anda. Kira memang jengkel padanya, tapi itu hanya karena keponakan Anda, Rama, menganggap Kira gila. Saya pikir, itu adalah reaksi normal dari manusia. Maafkan dia juga ya, Dok. Tapi saya yakin Kira akan segera melupakan hal itu. Dia bukan pendendam,” jelas Gadis panjang lebar.
Kedua Dokter mengangguk mengerti. Sebelum sempat menanyakan hal lain, Gadis buru-buru memotong.
”Dokter, maafkan kelancangan saya, tapi bolehkah saya meminta izin untuk tidak melakukan percakapan ini dulu? Sebentar lagi saya harus kembali ke pos. Saya tidak ingin dihukum karena terlambat,” kata Gadis sambil tersenyum minta maaf.
Dokter Heru dan Dokter Sam berpandangan lagi, lalu mengangguk bersamaan. Sementara ini, pertemuan dengan Kira, Lira dan Gadis sudah cukup menguatkan keyakinan mereka.
”Satu pertanyaan lagi sebelum kau pergi, Gadis. Adakah individu lain yang menetap di tubuh itu selain kau, Lira dan tentu saja, Kirana?” tanya Dokter Heru.
Gadis tersenyum manis, lalu menggeleng anggun.
”Tidak ada,” katanya singkat. ”Hanya kami bertiga,” sambungnya sebelum dibawa oleh sipir penjara.
***