Chapter 7 - Rama

1576 Kata
    Ruangan ini terlalu sempit!     Aku kembali beranjak dari tempat dudukku. Kali ini, entah yang keberapa kalinya. Seperti kali sebelumnya, aku berjalan ke sana kemari mengitari ruangan ini. Dan kesimpulanku hanya satu, ruangan ini terlalu sempit!     Aku merogoh kantong celanaku, kukeluarkan sebungkus rokok dari sana. Baru saja akan mengambil sebatang untuk mengurangi stresku, kulihat dua sosok yang kutunggu sedari tadi tengah berbincang serius sambil mendekat ke ruangan ini.     Kuselipkan kembali rokokku di kantong celanaku sebelum Paman Sam ataupun Dokter Heru melihatnya. Yah, sebenarnya aku tidak tahu apa pendapat Dokter Heru, tapi kalau Paman Sam, aku tahu benar apa yang akan dilakukan atau dikatakannya.     Pertama, Pamanku tercinta itu pasti akan mengerutkan wajahnya. Kedua alisnya bisa tiba-tiba bertemu dan bibirnya akan berkedut tak senang. Setelah itu, dia akan menguliahiku dengan materi betapa bahayanya merokok bagi kesehatanku. Kalau aku sedang benar-benar sial, setelah itu Paman Sam akan mogok bicara padaku setidaknya selama dua hari!     Sebelum Paman Sam dan Dokter Heru sempat membuka pintu ruangan, aku mendahului mereka. Dengan tidak sabar, kupersilahkan mereka duduk ke bangku yang memang sudah disediakan untuk mereka.     ”Bagaimana hasilnya?” tanyaku antusias. ”Apa Kirana gila?” sambungku lagi.     Baik Dokter Heru maupun Paman Sam menatapku dengan bingung. Mereka berpandangan sendu sebelum akhirnya Paman Sam membuka mulut.     ”Ini kasus langka. Paling tidak, kasus seperti ini bisa dihitung dengan jari, apalagi di Indonesia. Jujur, mulanya paman tak yakin juga, makanya paman memutuskan untuk memanggil Dokter Heru. Dan kini, kami berdua bisa benar-benar yakin tentang keadaan Kirana,” beber Paman Sam.     Aku menunggu informasi selanjutnya. Aku mulai tak sabar, tapi baik Paman Sam maupun Dokter Heru tidak langsung menceritakan padaku tentang apa yang mereka ketahui.     ”Her, kau saja yang jelaskan pada keponakanku,” kata Paman Sam singkat yang direspon dengan sebuah anggukan setuju oleh Dokter Heru.     Aku menunggu lagi. Dokter Heru sepertinya butuh waktu untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan padaku tentang apa yang terjadi pada Kirana. Ketika Dokter Heru menunjukkan tanda-tanda akan bercerita, diam-diam aku menarik nafas lega.     “Apa kamu pernah mendengar tentang DID?” tanya Dokter Heru serius.     Aku mencoba mengingat-ingat informasi tentang kata-kata itu. Begitu ingatanku menemukan apa artinya, aku mengerutkan kening dalam-dalam.     ”Kepribadian ganda?” tanyaku sangsi.     ”Kepribadian majemuk tepatnya,” ralat Dokter Heru cepat.     "Apa hubungannya dengan kasus ini?" tanyaku mulai merasa tidak enak.     Dokter Heru menatapku serius sebelum memberiku informasi yang membuatku terhenyak. "Kirana menderita DID," kata Dokter Heru lirih.     Aku menghela nafas panjang. Ada apa lagi ini? Aku menatap Dokter Heru dengan serius. ”KIrana menderita DID?" ulangku meyakinkan diriku sendiri. "Saya pernah mendengar tentang DID, tapi saya tidak punya bayangan sama sekali tentang kondisi itu. Bisa dijelaskan lebih dalam lagi tentang penyakit itu?” tanyaku mau tak mau mulai menerima keadaan.     ”Tentu saja,” kata Dokter Heru sebelum menjelaskan panjang lebar.     ”DID adalah kondisi di mana bukan hanya satu pribadi yang berada dalam satu tubuh yang sama. Pribadi asli akan disebut sebagai pribadi inti atau tuan rumah, sedangkan pribadi yang lain akan dinamakan alter. DID biasanya bermula sejak kecil dan diakibatkan karena individu mengalami trauma, yang kebanyakan karena kekerasan seksual yang parah. Kekerasan tersebut yang akhirnya menyebabkan terbentuknya individu lain yang dinamakan alter sebagai pelarian dari trauma. Biasanya DID lebih sering dialami wanita daripada pria,” beber Dokter Heru.     ”Saya masih belum bisa memastikan berapa alter yang dimiliki Kirana, tapi untuk saat ini, saya yakin ada dua alter yang ada di tubuhnya. Orang yang menderita DID sering tidak dapat mengingat apa yang telah dilakukannya dalam periode waktu tertentu. Itulah yang menyebabkan dirinya merasa kehilangan waktu. Waktu yang hilang inilah yang digunakan oleh alter untuk menguasai individu. Alter yang dimiliki terkadang bisa saling tidak mengenal, tapi juga bisa sebaliknya. Mengenai sifatnya pun, terkadang alter-alter tersebut mempunyai sifat yang saling bertolak belakang. Saya kira, Anda juga telah melihat sendiri kemarin,” lanjut Dokter Heru.     Aku terhenyak mendengar informasi itu. Aku sama sekali tidak mengharapkan situasi ini.     ”Jadi dia tidak gila?” ulangku pelan.     Dokter Heru menjelaskan lebih dalam dengan kesabaran yang luar biasa. ”DID tidak bisa disamakan dengan gila. Individu yang mengalami DID, dalam hal ini Kira, tetap memiliki kewarasan yang sejajar dengan kamu, saya ataupun Sam. Yang berbeda antara kita dan dirinya hanyalah masalah ingatan. Pada orang biasa, kita bisa mengingat semua hal yang kita lakukan, tapi tidak demikian dengan Kirana. Dalam beberapa hal, ada kalanya Kirana akan tidak dapat mengingat apapun yang telah dia lakukan dalam periode waktu tertentu. Hal itu dapat terjadi karena pengambilalihan tubuh Kirana oleh alter-alternya. Selebihnya, Kirana sama normalnya dengan kita.”     Aku menggeleng tidak percaya. ”Dan kutebak, Kirana belum tahu tentang hal ini?” tanyaku agak yakin dengan jawaban yang akan dilontarkan Dokter Heru.     ”Sayangnya, gadis malang itu memang tidak tahu. Tapi itu cukup normal. Ini bukan hal yang mengherankan. Kebanyakan dari penderita DID memang tidak pernah menyadari tentang keberadaan alternya sebelum diberitahu oleh psikiater.”     ”Apa DID ini bisa disembuhkan?”     ”Tentu saja. Walaupun untuk prosesnya sendiri jelas akan membutuhkan waktu yang relatif panjang. Bisa tahunan, kalau kamu mau tahu.”     Aku terdiam. Informasi yang baru kudapatkan tidak menyenangkan seluruhnya.     ”Jadi, ada kemungkinan alter Kiranalah yang membunuh Bobby?” tanyaku setelah terdiam cukup lama.     Dokter Heru tidak langsung menjawab pertanyaanku. Kulihat, dia dan Paman Sam berpandangan sejenak.     ”Sayangnya, kemungkinan itu tetap ada. Kirana mungkin tidak membunuh, tapi alternya, kami belum bisa memastikannya.”     ”Dokter, jika Kirana sedang dikuasai alternya, apakah dia benar-benar tidak sadar sama sekali?”     ”Kemungkinan besar dia sadar dia telah kehilangan waktu, namun apakah dia tahu tentang keberadaan alternya, belum bisa kuberikan pasti jawabannya saat ini. Namun dari hasil pengamatanku selama pertemuan tadi, aku tidak yakin dia tahu. Yang jelas, saat dikuasai alternya, Kirana tidak bertanggungjawab terhadap apa yang dia lakukan.”     Aku mengangguk mengerti. Aku tahu jelas apa maksud Dokter Heru barusan. Yang tidak aku mengerti sekarang hanyalah cara untuk membebaskan Kirana dari penjara ini!     “Jangan sedih seperti itu, Ram. Kamu kan belum mendengar berita baik dari pertemuan hari ini.”     Aku mengerutkan keningku dalam-dalam. Masih adakah berita baik hari ini? Aku tidak seberapa yakin...     ”Dokter Heru telah setuju merawat Kirana. Sepulangnya dia dari pertemuan di Afrika, yang berarti tiga hari lagi, Dokter Heru akan menangani Kirana sepenuhnya. Bahkan Beliau bersedia menerima Kirana di rumah sakit khusus miliknya,” lanjut Paman Sam sambil tersenyum.     Baiklah, kuakui ada sedikit kabar baik. Namun kabar baik itu hanya bisa terlaksana jika aku bisa mengeluarkannya dari sini.     ”Kalau aku bisa mengeluarkannya dari sini!” kataku reflek.     Paman Sam tersenyum lagi padaku. ”Jadi kau sudah memutuskan untuk membelanya?”     ”Apa lagi yang bisa kulakukan. Aku tahu dia kemungkinan tidak bersalah, jadi mana mungkin aku membiarkannya membusuk di penjara.”     ”Paman setuju denganmu. Sepertinya, dia memang gadis yang baik.”     ”Tapi aku tetap butuh bantuan Paman dan Dokter Heru. Bisakah kalian berdua mencarikan beberapa psikiater andal yang bisa memberi kesaksian yang mendukung DID?”     Baik Dokter Heru maupun Paman Sam menyanggupi hampir dalam waktu yang bersamaan.   *                 Aku bekerja gila-gilaan hari ini. Sejak pertemuanku dengan Dokter Heru dan Paman Sam tadi pagi, aku sudah menjelajahi semua informasi hukum tentang DID. Aku tidak tahu kenapa, tapi ada dorongan dalam hatiku untuk menyelamatkan gadis ini. Ada sesuatu dalam diri Kirana yang membuat aku tidak bisa melupakannya dengan mudah walaupun aku tahu posisinya sebagai pembunuh atau PSK.     ”Kau gila kalau sampai menaruh perhatian lebih padanya, Rama!” kataku pada diriku sendiri.      Aku ingin berkonsentrasi pada barisan kata yang terpancar dari laptopku, namun hanya sempat membaca satu dua baris, ingatanku kembali melayang pada Kirana.      Aku ingat kepolosannya, aku kasihan dengan nasibnya. Mengeluarkannya dari penjara adalah keinginan terbesarku sekarang. Kurasa aku mulai melamun. Paling tidak, sampai dering ponselku menghempasku ke alam nyata.      ”Rama Kuncoro,” sahutku otomatis tanpa membaca ID orang yang meneleponku.      ”Aku tahu, tidak perlu seformal itu,” sapa suara renyah di seberang.      Aku menghela nafas sepelan mungkin.      Beberapa hari yang lalu, aku mungkin akan menanggapi penelepon ini dengan semangat empat lima. Kuanggap umpan yang kuberikan pada gadis ini telah mengenai sasaran. Tapi.... Beberapa hari yang lalu sudah terasa ratusan abad sekarang. Aku sudah sama sekali tidak menaruh minat pada gadis yang selama ini selalu jual mahal padaku ini.      Aku lebih tidak berminat lagi saat pikiran bahwa Ratu sengaja jual mahal padaku untuk membuatku semakin getol mengejarnya, menghantuiku.      ”Jadi, kau sudah tidak marah padaku?” tanyaku malas.      ”Marah? Untuk apa? Kuanggap masalah itu hanyalah wujud kestresanmu menghadapi klien anehmu!” katanya pongah.      Aku menggeleng sambil tertawa sinis. Dasar wanita.... Selalu saja punya alasan untuk semua hal! Sebenarnya aku ingin memprotesnya karena telah menghina Kirana, namun aku lebih sayang waktuku. Bila aku mulai bertengkar dengannya, itu bisa membuatku kehilangan lebih banyak waktu daripada berbasa basi sejenak dengannya.      ”Ratu, aku tersanjung karena ini teleponmu yang pertama kali padaku, tapi kurasa, waktunya kurang tepat. Masih banyak yang harus kulakukan sekarang. Bagaimana kalau kita lanjutkan lain waktu?” kataku sambil mencoba membaca lagi barisan kata di laptopku yang sempat kutinggalkan tadi.      Ratu terdiam sejenak. ”Seingatku, klienmu hanya tinggal pembunuh itu. Bukankah kamu sudah menghibahkan seluruh klienmu pada orang sekantor dan menolak klien baru sebelum masalah pembunuh itu selesai? Lalu, apakah waktu sebegitu banyaknya masih belum cukup hingga kau perlu mengurangi jam tidurmu?”      ”Kalau begitu, kurasa aku harus menambah jam tidurku sekarang. Malam, Ratu. Bangga sekali menjadi orang yang menerima telepon darimu. Sampai besok!” kataku sambil menutup hubungan teleponku.      Lebih ekstrem lagi, kumatikan seluruh ponsel yang kupunyai. Aku harus mulai mengumpulkan fakta-fakta pendukung yang kuat untuk menyelesaikan masalah yang tidak biasa ini. Aku tidak bisa main-main karena ini menyangkut masalah Kirana!      ”Astaga! Kalau tidak berhati-hati, aku bisa benar-benar jatuh cinta pada Kirana!” kataku sambil berjanji dalam hati untuk tidak mempunyai perasaan sekonyol itu.   ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN