Chapter 8 - Kirana

1132 Kata
    Aku sudah cukup terbiasa dengan penjara ini. Mulanya, aku memang agak kesulitan beradaptasi. Apalagi dengan keadaan penuh luka saat pertama kali aku terdampar di sini. Namun sekarang, aku sudah bisa menerima tempat ini dengan lebih baik.     Aku sedang mengantri untuk mengambil jatah makan siangku ketika aku tiba-tiba teringat pada pengacaraku. Aku tersenyum sinis. Ternyata pria itu tidak benar-benar berniat membelaku.     Setelah menyodorkan kedua Dokter yang tidak jelas itu, pengacaraku tiba-tiba menghilang. Tapi aku juga tidak bisa terlalu meyalahkannya. Dia toh tidak kubayar untuk membelaku!     Sambil berusaha melupakan kekesalanku yang muncul tiba-tiba pada pengacara itu, aku melongok ke antrian panjang di depanku. Astaga, aku sudah mulai sangat bosan. Aku tidak terlalu lapar. Seandainya tidak ada penjaga yang akan memaki jika kita tidak makan sesuai dengan jam yang ditentukan, aku pasti sudah keluar dari barisan ini!     Aku mulai melamun. Kurasakan aku mulai mengantuk. Sekelilingku secara tiba-tiba menjadi gelap. Aku mencoba meraih sesuatu untuk dipegang, tapi terlambat, aku sudah jatuh ke dalam kegelapan yang dalam.     Gadis tersentak. Dia tidak tahu mengapa tiba-tiba dia memegang baki kosong dan berada dalam antrian pembagian makanan yang masih sangat panjang itu. Tanpa memprotes, Gadis mengantri dalam diam. Sambil menunggu, Gadis memilih memperhatikan sekelilingnya.     Gadis melihat narapidana yang setahunya baru masuk sel tiga hari yang lalu itu tampak agak sempoyongan. Wajahnya pucat, bahkan bisa dibilang hampir memutih. Nafasnya terlihat tersengal-sengal. Keringat pun tampak membasahi wajahnya. Padahal udara hari ini tidak sepanas itu! Gadis terdiam cukup lama. Tak dihiraukannya dorongan dari napi lain yang menyuruhnya maju dari barisan antri makan siang itu.     Gadis menoleh sekilas ke napi yang mendorongnya lalu maju tanpa mengalihkan pandangannya ke napi baru tadi. Dan hanya sekian detik setelah mengerjapkan matanya, apa yang ditakutkan Gadis terjadi. Napi baru itu tiba-tiba roboh dan membuat napi di sekitarnya berteriak panik.     Dengan sigap, Gadis meletakkan nampannya sekenanya dan berlari menerobos kerumunan sembari berteriak agar para napi yang lain menyingkir untuk memberi ruangan kosong bagi napi yang roboh tadi.     “Beri dia ruang untuk bernafas, mundurlah ke belakang sekarang!” kata Gadis tegas, tanpa kepanikan sedikitpun.     “Salah satu, angkat kakinya, dan yang lain, tolong carikan selimut baginya!” seru Gadis sambil mencari diafragma napi tersebut. “Dan tolong cepat panggilkan Dokter!” tambah Gadis saat melihat sebagian besar napi hanya bengong menatapnya.     Gadis terus menyerukan perintah-perintah sambil berusaha memompa d**a wanita itu. Gadis mencoba mengukur denyut nadi wanita itu. Ketika dirasakan nafasnya masih terlalu lemah, tanpa ragu Gadis memberikan pernafasan buatan.     Seruan jijik dari sebagian napi sama sekali tidak dihiraukan oleh Gadis. Beberapa petugas yang sudah muncul mendengar keributan inilah yang akhirnya menyuruh napi-napi tadi untuk diam.     Suasana pun kembali hening. Semua kini memperhatikan Gadis. Gadis kembali mengulang tindakannya beberapa kali. Saat Gadis sadar denyut nadi wanita itu perlahan mulai menguat, barulah Gadis terduduk dan mngeusap peluhnya dengan lega.     Kelegaan gadis makin bertambah saat melihat Dokter dan beberapa napi terpilih berlari ke arahnya.     “Ada apa ini?” tanya Dokter itu sambil membungkuk ke napi baru itu.     “Sepertinya serangan jantung, Dok. Tadi denyut nadinya sangat lemah, hanya empat puluh detak semenit, tapi kini sudah membaik,” kata Gadis memberi informasi.     Dokter itu melirik Gadis sekilas lalu mengangguk mengerti. “Bagus sekali kerjamu!” katanya sebelum menyuruh asisten-asistennya untuk mengangkat napi itu ke tandu.     Sekalipun agak lelah, Gadis buru-buru berdiri dan membantu mengangkat wanita itu.     “Nanti sore, datanglah ke rumah sakit penjara. Kami sedang membutuhkan orang-orang sepertimu!” kata Dokter itu sambil memberikan senyumannya pada Gadis.     Gadis mengangguk bersemangat. Wajahnya sumringah seketika. Rasa lelahnya tiba-tiba raib entah ke mana.     “Tidak akan ada yang menghalangiku untuk ke rumah sakit sore ini!” janji Gadis dalam hati.   *       Aku sangat bingung saat hampir semua napi berkumpul di dekatku. Mereka seakan berebutan untuk menepuk pundakku atau hanya untuk mengucapkan selamat padaku atas apa yang baru saja kulakukan. Aku sama sekali tidak mengerti dengan semua ini. Aku sangat tidak mengerti! Terakhir kuingat, aku sedang mengantri dengan bosan di barisan napi untuk mengambil jatah makan siangku, tapi tiba-tiba, aku sudah berada di sini tanpa bisa kuingat kapan atau bagaimana caranya aku sampai di sini!     Aku mulai pening saat napi-napi itu terus mengelilingiku. Ketika penjaga penjara menyuruh semua napi untuk bubar, aku baru merasa sedikit lega.     “Kamu beruntung! Hampir semua napi mendambakan posisi di rumah sakit, sebuah tempat yang bersih dan nyaman dibandingkan dengan yang lain, dan baru beberapa hari di sini, kamu sudah menempati posisi itu! Tapi kurasa, kamu memang pantas mendapatkannya setelah menyelamatkan si tua Nanti itu dari kematian,” kata seorang penjaga yang entah bagaimana telah ada di dekatku.     Kepalaku kembali berputar. Tidak satu kalimat pun yang aku mengerti dari perkataan sipir penjara itu! Aku menyelamatkan orang? Benarkah? Kapan? Di mana? Dan dengan apa?         Aku terhenyak. Hanya ada satu hal yang bisa menjawab semua kebingunganku. Tampaknya, seperti yang dulu-dulu terjadi, aku telah kehilangan waktuku. Tidak di lokalisasi, tidak di penjara, aku tetap kehilangan waktuku!     “Jangan lupa ke Rumah Sakit nanti sore! Ingat, kesempatan tidak pernah datang dua kali,” ingat sipir itu sambil tersenyum.     Untuk menghargainya, aku mengangguk, tapi dalam hati aku berjanji tidak akan melakukan hal itu!   *       Aku tidak tahu darimana datangnya pakaian bersih yang sepertinya milik Rumah Sakit penjara itu. Tanpa kusadari, pakaian itu telah tertata rapi tepat disamping kepalaku. Aku reflek beranjak dari posisi tidurku.     “Aku tidak ke Rumah Sakit hari ini, tapi kenapa pakaian ini ada di sini?” tanyaku pada diriku sendiri.     Aku memandang berkeliling. Suasana sel ku sudah cukup gelap. Hanya diterangi sebuah lampu koridor yang nyalanya pun remang-remang. Aku kembali menebak apa yang terjadi padaku, dan begitu jawabannya muncul di otakku, aku mencelos!     Bau obat langsung tercium olehku saat aku menangkupkan kedua tanganku ke wajahku. Aku cepat-cepat menjauhkan tanganku. Sekalipun telah mengalaminya ratusan kali, aku tetap tidak bisa mengerti kenapa ini semua dapat terjadi padaku.     “Sial!” umpatku sambil melempar pakaian bersih tadi ke lantai.     “Hei, kau kenapa?”     Sapaan napi yang selnya tepat di depanku membuatku luar biasa terkejut. Aku menatap tidak bersemangat padanya, namun tiba-tiba aku sedikit mendapat titik terang. Dengan cepat, kudekatkan diriku ke dinding jeruji besi dan menatapnya lekat-lekat.     “Kau lihat orang yang membawakan baju-baju itu padaku?” tanyaku penasaran.     Napi di hadapanku itu menatapku dengan heran. “Kau gila ya? Bukankah kau sendiri yang memakainya waktu kembali ke sel? Kau juga yang melipatnya berulang kali sebelum kau tidur sambil memegang baju kebesaranmu itu. Masa kau lupa?”     Aku mencerna info itu dengan hati mencelos. Jadi dugaanku benar. Sekali lagi aku telah kehilangan waktu!     “Jadi tadi aku benar-benar ke Rumah Sakit?” tanyaku lebih ke diriku sendiri.     “Tentu saja iya! Malah wajahmu kelihatan begitu puas begitu kau kembali kemari!” tambah napi tadi.     Aku menggeleng tak percaya lalu kembali duduk bersandar di tembok. Aku tidak bisa lari dari keadaan ini, aku tahu itu. Tapi aku takut. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi lagi kalau aku terus-terusan kehilangan waktu seperti ini! Aku takut akan ada Bobby-Bobby lain! Aku takut membunuh orang lagi!     Aku menelungkupkan kepalaku pada kakiku. Aku mulai menangis. Bagaimana kalau aku sampai membunuh lagi?     “Ah, kau memang sudah gila! Padahal kau baru beberapa hari di sini! Sudah, sekarang diam, aku mau tidur!”     Aku tidak menghiraukan omongan napi itu. Namun ada satu kata-katanya yang cukup meresap di hatiku. Kurasa dia agak benar tentang hal ini! Mungkin aku memang agak gila….   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN