Chapter 9 - Rama

1706 Kata
    Aroma kopi itu menggoda hidungku. Semula, aku ingin menunggu Dokter Heru dan Paman Sam sebelum memesan salah satu jenis minuman di sini, namun kini aku berubah pikiran. Kini, di tanganku telah ada segelas kopi panas yang mengepul di dekat wajahku. Tepat pada saat aku mau menghirupnya, aku terpaksa meletakkannya lagi.     “Teruskan saja, Rama. Maaf kami agak terlambat,” kata Dokter Heru sambil mengambil tempat duduk tepat di hadapanku.     Paman Sam menyusul dan duduk di sisi meja yang lain. Kami bertiga berhadapan sekarang. “Ada berita apa sampai kamu menyuruh kami kemari?” tanya Dokter Heru tanpa basa-basi.     “Kirana,” jawabku pendek. “Aku perlu sedikit berkonsultasi.”     Dokter Heru memperhatikanku sementara Paman Sam memesankan minuman untuk mereka berdua.     “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya serius.     “Aku sudah berpikir masak-masak tentang kasus Kirana. Kukira, satu-satunya cara untuk membebaskannya dari penjara adalah membuat alter Kirana muncul saat persidangan,” kataku pelan.     Dokter Heru dan Paman Sam menatapku dengan serius.     “Bukti-bukti menunjukkan pembunuhan itu pasti dilakukan oleh Kirana. Maksudku, mungkin alternya. Mulai sidik jari, tas tangan, darah di pakaian Kirana, semua merujuk ke pelaku tunggal. Rasa-rasanya tidak mungkin ada orang yang menjebak wanita itu. Apalagi pintu hotel dalam keadaan terkunci saat kejadian berlangsung. Tapi, seperti kata Dokter Heru, saat alter berkuasa, Kirana tidak betanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Kita harus memastikan semua orang yakin tentang hal ini sebelum memaksa alter Kirana untuk muncul. Jika tidak dengan cara ini, Kirana pasti akan membusuk di penjara,” kataku melanjutkan.     “Lalu apa yang bisa kami bantu?” tanya Paman Sam.     Aku menatap Paman Sam dan Dokter Heru bergantian. “Membujuk alter Kirana agar mau muncul pada saat sidang.”     Dokter Heru berpikir sejenak. “Kalau memang hanya itu cara satu-satunya, tentu saja kita harus melakukannya. Hanya saja, perlu kamu ketahui sebelumnya kalau proses itu mungkin tidak akan mudah. Sekalipun saya akan berusaha maksimal untuk itu, kamu tetap harus mencari alternatif lain jika saja saya tetap gagal membujuk para alter Kirana."     "Satu lagi, Ram. Bagi kami para psikiater, kasus DID cukup mudah kami percayai. Tapi bagi orang awam, belum tentu begitu. Kamu juga harus memikirkan hal itu. Jangan sampai kamu lengah dalam persidangan karena kamu yakin semua orang akan langsung percaya begitu alter-alter Kirana muncul," tambah Paman Sam.     Rama mengangguk pelan. Kekhawatiran Paman juga sempat kupikirkan. Jangankan orang awam, para psikiater saja tidak semua mempunyai pandangan yang sama dengan Dokter Heru maupun Paman Sam.     "Aku mengerti, Paman. Aku pasti akan memikirkan hal itu juga," kataku tegas.     "Baiklah, kalau begitu saya dan paman kamu akan mulai mengatur waktu dan cara yang paling tepat untuk memberitahu Kirana tentang keberadaan alter-alternya," kata Dokter Heru meyakinkan.     Aku mengangguk senang. “Terima kasih, Dok," kataku sungguh-sungguh. "Sementara itu aku akan mencoba bicara pada Hakim Bernard yang akan mengepalai persidangan Kira. Aku akan mengatur pertemuan enam mata dengannya dan jaksa penuntut Kirana nanti. Kalau aku beruntung, dan ini hanya kalau aku beruntung, kita tidak perlu melewati sidang untuk membuat Kira bebas dari penjara,” kataku mantap.     “Akan kudoakan kau,” sambung Dokter Heru yang diamini Paman Sam.     “Dan satu lagi. Beberapa hari yang lalu Kepala Penjara menghubungiku. Katanya, Kirana telah menyelamatkan seorang napi yang terkena serangan jantung. Sekarang Kirana bekerja di Rumah Sakit penjara,” kataku ikut bangga.     Dokter Heru dan Paman Sam tampak gembira dengan informasi itu. Aku sama gembiranya dengan mereka. Aku mengangkat gelasku dan mengajak mereka bersulang.     “Untuk kebebasan Kirana,” kataku sambil tersenyum.     Paman Sam dan Dokter Heru ikut mengangkat gelasnya. “Untuk kebebasan Kirana!” kata mereka hampir bersamaan.   *       “Kupikir kamu sudah kabur entah ke mana.”     Aku membalikkan tubuhku, tidak lagi menatap dinding ruang tunggu penjara itu tapi menghadap tepat ke arah Kirana.     Kirana sedang berjalan memasuki ruangan dan mengambil tempat duduk yang memang disediakan untuknya.     “Kenapa aku harus kabur?” tanyaku heran sambil menduduki tempat dudukku.     “Mungkin, karena kau takut berhadapan dengan klien yang gila? Sampai-sampai kau perlu membawa dua dokter untuk memeriksaku!” sindir Kirana manyun.     Aku tersenyum melihat tingkahnya. Jika sedang marah seperti ini, dia semakin menggemaskan. Tanpa sadar aku tersenyum sambil terus menatapnya.     “Kenapa lagi menatapku seperti itu?” tanya Kirana galak.     Aku tersentak, aku terkejut bisa melamun semudah itu. Tapi aku cepat-cepat mengendalikan diri.     “Aku tahu aku salah, maafkan aku!” kataku singkat.     Kirana menatapku seakan ikut lega. “Jadi aku tidak gila?” tanyanya pelan.     Aku tersenyum lagi. Aku mengerti ke mana arah pembicaraannya. “Ya, Kirana, kamu tidak gila.”     “Untunglah,” gumam Kirana pelan.      “Kamu sendiri hampir percaya kalau kamu gila, lalu kenapa kamu begitu marah padaku?” kataku sengaja menggodanya.      Kirana mendelik gusar padaku. Itu membuatnya terlihat lebih menggemaskan di mataku.      “Kudengar, kau bekerja di rumah sakit sekarang. Itu adalah tempat terbersih di sudut penjara ini, kau beruntung.”      Wajah Kirana tiba-tiba sendu. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa.      “Ada masalah?” tanyaku pelan.      Kirana mendongak menatapku, lalu segera menggelengkan kepalanya. “Tidak.”      Dan aku tahu dia bohong. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dan membuatnya tertawa. Aku berhasil. Dia bisa terlihat sedikit gembira.      “Oh ya, pengacara, ngomong-ngomong, sebenarnya apa tujuanmu kemari?” tanya Kirana heran.      Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Kirana. Jujur, aku sendiri tidak tahu apa tujuanku ke sini. Mau mencari informasi dari Kirana, aku tahu tidak akan banyak berguna. Aku sudah mendapat informasi dari polisi tentang apa yang dialami Kirana dari awal hingga sekarang. Aku sendiri pun tidak mendapat keterangan apa-apa saat menanyainya pertama kali.     Untuk kali ini, aku sebenarnya bisa menghindari kontak langsung hingga Kirana tahu kalau dia menderita DID. Tapi… Ada sesuatu yang mendorongku, dan kali ini, emosiku mengalahkan akal sehatku.     Kirana sedang menunggu jawabanku. Sambil tersenyum, aku mengangkat bahu. “Kurasa, ada seseorang yang sedang merindukan diriku di sini, jadi aku terpanggil kemari!” jawabku asal.     Kirana tiba-tiba salah tingkah.     “Aku tidak merindukanmu!” katanya cepat.     Aku menatapnya heran, namun melihatnya salah tingkah dan agak malu seperti itu, aku pun merasa agak salah tingkah. Tapi aku lebih pintar menyembunyikannya!      “Apa aku pernah bilang itu kamu?” kilahku cepat.      Kirana semakin malu. “Aku kembali saja. Tidak berguna bersamamu di sini!”      Kirana bangkit dan keluar dari ruangan itu. Sambil berjalan di samping sipir penjara yang bertugas menjaganya, Kirana mencaci dalam hati. Apa kubilang, dia menjengkelkan kan, pikir Kirana sebelum kembali ke selnya. Aneh, gila, sinting, omel Kirana dalam hati, tapi juga dengan sedikit senyum tak sadar di bibirnya.      Aku sendiri tak mampu menahan Kirana. Aku mulai ketakutan dengan perasaanku sendiri. Kuakui aku peduli padanya. Kuakui aku tertarik padanya walaupun aku tidak pernah membayangkan aku bakal tertarik dengan wanita semacam Kirana. Tapi kalau jatuh cinta…. Apa mungkin aku sudah jatuh cinta padanya?   *       Aku memasuki ruangan Hakim Bernard dengan langkah mantap. Hari ini juga, aku harus bisa membantu Kira untuk lepas dari jeratan penjara. Aku menatap sekelilingku. Saat menatap Roy, penuntut yang akan berhadapan denganku nanti, aku tersenyum tipis.     Sebelum sempat berbasa-basi pada Roy, Hakim Bernard sudah memasuki ruangannya.     “Apa pernyataan Anda?” tanya Hakim Bernard tanpa basa-basi.     “Tidak bersalah karena ketidakwarasan,” kataku tenang. “Saya mohon Kirana dapat dibebaskan dengan jaminan.”     Hakim Bernard mengerutkan kening. Roy pun tampak tidak terima.     “Tidak bisa, Pak Hakim. Wanita itu telah membunuh seseorang dengan cara yang luar biasa biadap, kita tidak mungkin membiarkan wanita seperti itu berkeliaran di jalanan!”     Aku berusaha tetap tenang. “Aku tidak bilang dia akan dibiarkan berkeliaran di jalanan! Akan ada seorang Dokter yang menanganinya di sebuah Rumah Sakit pribadi miliknya. Keamanannya akan kujamin 100%.”     “Permohonan Anda ditolak, pengacara. Kirana akan tetap disidang tiga bulan dari sekarang. Selama menunggu masa sidang, dia akan tetap mendekam di penjara!”     Aku mengeluh dalam hati. Kalau seperti ini, nyaris tidak ada gunanya bagi Kirana!     “Pak Hakim, klien saya menderita suatu penyakit yang tidak bisa ditangani oleh sembarang orang. Yang dapat menghadapinya hanyalah orang yang telah berkonsentrasi dalam hal ini, maka itu, saya sangat mengharapkan dia diperbolehkan dirawat di Rumah Sakit Bakti Bunda sampai masa persidangan.”     “Tidak bisa, Pak Hakim. Menurut saya, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk memindahkan gadis itu ke rumah sakit jiwa. Ini akan membentuk opini publik yang negatif bagi kita! Sampai wanita itu terbukti benar-benar gila saat sidang, kurasa tidak ada gunanya bila memindahkannya ke manapun kecuali ke tempatnya sekarang!”     Kalau sedang tidak ada Hakim Bernard, aku mungkin akan menghajar Roy. Sikapnya lama-lama membuatku jengkel dan ingin mengerjainya.     “Saudara penuntut, saya telah menjadi Hakim lebih dari 20 tahun, jadi saya rasa, saya tahu apa yang harus saya putuskan tanpa campur tangan atau nasehat-nasehat dari Anda!”     Aku tersenyum kecil.     “Tapi, Saudara Pembela, saya tetap tidak bisa mengabulkan permintaan Anda untuk memindahkan gadis itu ke Rumah Sakit Bakti Bunda atau Rumah Sakit manapun saat ini. Saya hanya bisa mengizinkan seorang atau beberapa psikiater secara berkala mengunjungi terdakwa dan menjaga kewarasannya.”     Keputusan Hakim Bernard membuatku kecewa. Namun sejujurnya, jauh di dasae hatiku, aku sudah menduga hal ini. Tak punya pilihan lain, aku mengangguk mengerti dan menerima keputusan Hakim Bernard.             *       Aku melangkahkan kakiku dengan agak lemas ke kantorku. Hakim Bernard dan keputusannya yang membuatku mengalami hari yang tidak menggembirakan. Sekalipun sudah menduganya, aku sadar aku tetap merasa jauh lebih kecewa dari yang sempat kuperkirakan sebelumnya.     “Kenapa wajahmu suntuk begitu?” tanya Ratu yang tiba-tiba sudah masuk di ruang kerjaku.     Akhir-akhir ini, dia agak getol mendekatiku. Jujur aku agak heran dengan perubahan sikapnya yang luar biasa. Bahkan setelah agak sering kutolak pun, dia masih tidak putus asa mendekatiku. Sepertinya posisi kami berdua mulai terbalik. Tapi untuk saat-saat sekarang, aku sedang tidak berminat memikirkannya. Aku masih mempunyai banyak urusan yang jauh lebih penting daripada mengurusinya.     “Tidak apa-apa!” jawabku malas.     Ratu menatapku terus. Kata-katanya berikutnya membuatku ingin mengusirnya dari kantorku saat itu juga!     “Kurasa kau terlalu keras bekerja untuk p*****r itu! Dia membuat hidupmu berantakan. Andai kau menuruti kata-kataku dulu, tentunya kau tidak akan mengalami hal-hal buruk seperti ini. Kau jauh lebih kurus daripada sebelumnya, Ram!”     Aku menahan diri untuk tidak mengasarinya.     “Ratu, aku masih banyak pekerjaan, biasakah aku menyelesaikannya terlebih dahulu?” tanyaku sambil memberi tatapan ‘silakan keluar dari sini’.     Ratu memandangku dengan kaget. Sepertinya tersinggung juga… Tapi aku malah bersyukur kalau dia benar-benar tersinggung. Dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot mengusirnya lagi kelak! Bukan karena aku jahat atau merasa telah bisa menaklukkannya, tapi aku tidak bisa mentolerir sikap menghinanya utamanya pada Kirana!   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN