“Kamu cukup pintar mengelabui Harvest yang lain dengan memberikan aroma perempuan pada pemuda ini, tetapi hidungku terlalu peka untuk dibohongi. Aku tahu kalau dia adalah seorang laki-laki hingga aku bisa memikatnya untuk melawanmu. Kamu pasti lupa kalau keahlian utama kami adalah memikat lawan jenis?”ejek pemimpin Harvest.
Tangan Wanda berayun-ayun untuk menggerakkan air dengan mantra hingga air itu berada diantara leher dan tanaman rambat. Air itu berubah bentuk menjadi es yang tajam seperti mata pisau dan memotong tanaman yang melilit leher Wanda.
Tubuh Wanda terjun bebas menuju bumi, tapi masih sempat mengucap mantra untuk membuat balok es yang mengurung dan membekukan Xonxo.
“Kamu boleh juga sampai berhasil mengatasi orang yang kami pengaruhi. Kami tidak akan tinggal diam sekarang, serang!” perintah pemimpin Harvest.
“Bukan aku yang akan menghadapi kalian tetapi merekalah yang akan berhadapan denganmu,” kata Wanda sambil menyingkir untuk memberi jalan.
Suara gonggongan anjing terdengar semakin mendekat membuat para anggota Harvest ragu-ragu. Mereka takut pada anjing tetapi kalau mereka lari maka kesempatan yang sudah lama ditunggu akan hilang dan mereka akan berpuasa lebih lama lagi.
Kawanan anjing liar sudah ada di hadapan Harvest, mereka menyalak ribut siap menerkam jika ada perintah dari Velia. Para Harvest gemetar saat memandang mata lawan yang begitu bernafsu menyerang, satu demi satu mereka balik badan dan lari tunggang langgang. Kawanan anjing mengejar mereka seperti ada dendam kesumat diantara dua jenis hewan ini.
“Wan, lepaskan Xonxo. Kasihan, dia sudah mulai membiru,” pinta Velia yang sudah ada di depan Xonxo.
Wanda menggerakkan tongkat sihir, “Mencair!”
Balok es yang mengurung Xonxo sedikit demi sedikit mulai mencair, airnya mengalir kembali ke sungai. Velia menangkap tubuh Xonxo yang terkulai lemas lalu membaringkannya ke atas permukaan tanah.
“s***s kamu, Wan. Teman sendiri dibuat beku seperti ini, bagaimana kalau dia mati? Meskipun kadang menyebalkan tapi dia sering membantu kita,” protes Velia yang khawatir melihat bibir Xonxo yang bergetar karena kedinginan.
“Refleks, Vel. Lagian siapa suruh menyerangku hingga aku hampir mati.” Wanda membela diri sambil mengelus bagian lehernya yang terlihat bekas jeratan.
“Sekarang kamu harus tanggung jawab.” Velia mendesak Wanda agar segera bertindak agar nyawa Xonxo tidak melayang akibat hipotermia.
"Gampanglah," ujar Wanda ketika memegang tangan Velia dan Xonxo lalu menyatukannya hingga saling bersentuhan kemudian mencubit lengan Velia keras-keras hingga gadis itu mengaduh kesakitan sambil memaki Wanda.
“Panas! Kalian berniat membunuhku? Yang satu membekukanku dalam balok es, sedangkan yang satunya membakar tanganku seolah-olah aku ini kayu bakar.” Xonxo melompat bangkit berdiri dengan kondisi sehat seperti semula, sudah tidak sepucat tadi. Xonxo mengibaskan tangan yang panas karena terbakar.
“Siapa yang membakarmu?” tanya Velia yang dibalas dengan pelototan mata Xonxo.
“Aku? Maksudmu, aku? Tidak, tidak mungkin, aku tidak bisa mengeluarkan api.” Velia menggoyangkan kedua tangan untuk menegaskan kalau bukan dia pelakunya.
“Kamu bisa,” ujar Wanda dengan santai.
“Tidak, tidak, jangan bercanda denganku.” Velia menggelengkan kepala masih berusaha mengelak.
“Apa kamu tidak sadar kalau selalu mengeluarkan percikan api saat marah?” tanya Wanda.
Velia lalu menunjuk dirinya sendiri dan kembali menggelengkan kepala. Dia tidak pernah merasa melakukan hal itu, lagipula Wanda tidak mungkin mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya.
“Kamu mau bukti?” Wanda mendekati Velia dan tanpa segan-segan menampar pipi cubbynya.
Velia mengepalkan tangan menahan marah, benar-benar tidak mengerti maksud Wanda menamparnya. Tak ada seorangpun yang pernah melakukan hal itu, tak juga kedua orang tuanya.
“Lihat tanganmu,” pinta Wanda.
Velia melihat tanggannya yang mengepal, terlihat ada kobaran api yang menyelimuti kedua tangan. Jubah yang bersentuhan dengan tangan pun terbakar, tapi Velia sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Dia hanya terpaku menatap tangannya yang tidak terbakar walaupun diselimuti oleh api, dia bahkan tidak menyadari kalau api yang membakar jubahnya telah dipadamkan oleh Wanda.
“Sejak kapan?” tanya Velia tanpa mengalihkan pandangan mata dari kedua tangan.
“Sudah sejak lama, bukankah kita musuh? Aku tahu semua kelebihan dan kelemahanmu, kecuali masalah berjalan dalam tidur karena aku baru mengetahui itu sekarang," ucap Wanda sambil nyengir.
“Adakah yang bisa mengobati tanganku yang melepuh?” Perkataan Xonxo membuat kedua gadis yang ada di depannya berlari mendekat.
Tangan Wanda bergerak lincah untuk mengeluarkan salep yang ada di dalam ransel. Wanda menyerahkan pot obat yang isinya berupa cream dengan warna tanah pada Velia.
Velia kemudian menarik tangan Xonxo, tapi cowok itu menarik tangannya dengan ketakutan.
"Tenang saja, aku nggak bakal bakar kamu," ujar Velia dengan tangan menengadah.
"Siapa yang bisa menjaminnya? Kamu saja masih belum bisa mengontrol kekuatanmu." Xonxo masih meniup telapak tangannya yang terasa seperti sedang menggenggam bara api.
Namun Velia langsung lengan Xonxo kemudian memegangnya erat-erat agar dapat mengoleskan obat untuk luka bakar itu.
“Maafkan aku, aku tidak tahu kalau begini jadinya.” Velia menyesal sudah membakar tangan Xonxo. Dia kemudian meniup tangan Xonxo untuk menebus kesalahannya.
Xonxo terpana memandang wajah Velia dalam jarak sedekat ini. Apalagi cewek itu sudah bersikap sedemikian lembut hingga lukanya kini terasa lebih sejuk.
“Bukan salah Velia, aku yang menyebabkan kamu kedinginan sekaligus kepanasan.” Wanda juga tidak kalah menyesal.
“Aku maafkan, ini juga salahku karena mudah terpedaya oleh Harvest. Bukan menyerang musuh malah sekali lagi aku menyerang kawan,” ujar Xonxo dengan kepala tertunduk.
“Bisakah kita lupakan ini dan melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat beristirahat? Hari sudah mulai gelap dan kita butuh mantra pelindung Velia. Jangan sampai Harvest memanfaatkannya untuk menyerang kita saat tidur,” pinta Xonxo.
Mereka bertiga berjalan menuju ke arah taman Merah untuk mencari tempat istirahat sekaligus mendekatkan jarak ke tempat tujuan.
"Bagaimana kalau di sana saja?" Velia menujuk ke arah pohon Willow yang ada di dekat aliran sungai.
Segera saja mereka membangun kemah dan makan malam menggunakan ikan yang sudah ditangkap oleh Xonxo.
Keesokan harinya, mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju ke taman Merah. Karena petunjuk selanjutnya dari buku kuno menunjukkan tempat itu.
"Konon katanya, tidak ada orang yang memasuki taman Merah karena di dalam taman ada sesuatu yang membuat anggota tubuh memerah dan perih hingga orang tidak tahan untuk melanjutkan niat datang ke sana," ujar Xonxo.
"Tidak bisa atau tidak mau?" tanya Velia.
"Beberapa dari yang sudah masuk bukannya mendapatkan obat untuk menyembuhkan sakit malah semakin sakit karena memakan tanaman obat yang salah. Dengar-dengar ada yang sampai meninggal karena tertusuk duri," tambahnya.
Matahari bersinar terik saat Xonxo melihat ada kota di ujung jalan yang mereka lalui. Mereka bergegas menuju ke sana agar dapat melepas lelah setelah seharian berjalan.
Suasana kota tampak sepi seperti kota yang sudah lama ditinggalkan oleh penduduknya,bangunan-bangunan juga sudah banyak yang rusak. Tidak terlihat ada kehidupan, mereka bertiga memutuskan untuk berpencar untuk menyelidiki kota itu.
Satu jam kemudian Velia dan Wanda bertemu di gedung yang tampaknya seperti bekas sekolahan, mereka tidak menemukan satu orangpun. Ini mencurigakan, rasanya seperti berada di hutan kesunyian. Mereka berdua bahkan berbicara melalui telepati.
“Tidak ada seorangpun di sini,” ujar Xonxo.
“Bahkan di sini.” Velia menengok ke dalam rumah yang pintunya sudah terlepas dari engselnya.
“Di sini juga.” Xonxo melanjutkan ke tempat berikutnya
“Bagian ini juga kosong.” Wanda juga tidak melihat ada orang di situ.
Velia dan Wanda kemudian berkumpul di lapangan, mereka terpaku pada empat sosok Xonxo yang berjalan mendekati mereka. Keempat Xonxo juga saling berpandangan dengan curiga. Mereka berempat mengeluarkan tongkat sihir untuk diarahkan pada orang yang ada di dekatnya.
“Xon, kamu bisa membelah diri?” tanya Velia dengan kagum.
“Tidak,” jawab mereka berempat bersamaan.
“Lalu, ini apa?” tanya Wanda dengan curiga.