Kuncup Teratai Hitam

1069 Kata
Sedapat mungkin Wanda berlari menjauhi gua menuju tenda. Dia harus secepatnya memperingatkan Velia untuk membuat pelindung atas kuncup teratai hitam. Sepertinya Wanda masih punya sedikit waktu sebelum kuncup itu mekar dan berwarna putih sempurna. Satu orang yang bisa melawan pengaruh kuncup  hanya diri Velia sendiri. Sesekali Wanda menoleh ke belakang untuk memastikan kalau tidak ketahuan tetapi harapannya musnah saat melihat Xonxo keluar dari gua dengan mengacungkan tongkat sihir. “Jangan lari!” Xonxo berlari mengejar Wanda sambil mengucap mantra. "Sulur pembelit!" serunya. Wanda melompati akar tanaman yang menjulur hendak membelit kaki dan bahkan mencoba membangun mantra pelindung bagi dirinya tapi sayangnya gagal karena memang sama sekali belum bisa menggunakan mantra itu, andai ada Velia di sini. “Kamu tidak akan bisa lepas dariku,” teriak Xonxo di kejauhan. "Apel, apel, tumbuhlah membesar hingga memenuhi jalan!" Xonxo menumbuhkan pohon apel menjadi empat kali lipat dari ukuran semula. Wanda yang sedari tadi menoleh ke belakang tidak menyadari kalau ada pohon apel besar yang menghalangi jalannya hingga terjengkang setelah menabrak pohon. Pandangannya menjadi ganda karena kepalanya terasa pusing tapi tetap saja memaksakan untuk bangkit untuk melawan. Mereka pernah bertarung dua kali jadi sedikit banyak Wanda mengetahui kelemahan Xonxo. “Mengapa kamu melakukan ini? Bukankah kamu mencintainya?” tanya Wanda. “Aku memang mencintainya tapi dia lebih memilih Harlan. Dia sama sekali tidak menganggapku ada. Tadinya aku hendak mencari target lain saat sudah kembali ke masa yang sebenarnya tetapi kata-kata Velia sudah membuatku sakit hati, dia menganggapku tidak sebanding dengan Harlan," tutur Xonxo dengan geram. “Cinta tidak pernah menyakiti.” Wanda berusaha menyentuh hati Xonxo agar membatalkan niat buruk untuk Velia. “Aku tidak mau dia dimiliki oleh orang lain,” balas Xonxo. “Sebentar lagi kalian akan berpisah, kalian tidak akan bertemu lagi.” Wanda mencoba mengingatkan kalau perbuatannya akan sia-sia. “Dia akan mencariku dan aku juga akan mencarinya, pasti ada jalan untuk kembali bertemu karena dia akan mencintaiku. Percayalah, itu akan terjadi.” Xonxo mengatakannya dengan yakin. “Aku tidak akan membiarkan temanku dipermainkan!” Wanda menyiapkan tongkat sihir dan mulai menyerang Xonxo. “Akui saja kalau kamu senang Velia bisa lepas dari Harlan. Kamu mencintai Harlan kan?” sindir Xonxo. “Kamu salah sangka, aku tidak pernah mencintai Harlan. Hubungan kami berdua murni sebagai hubungan sahabat," balas Wanda. “Tapi kamu membenci Velia dan berusaha menjauhkannya dari Harlan, kamu hanya memanfaatkan Velia agar Harlan terlepas dari Lupois. Ternyata kamu lebih licik dari aku,” kata Xonxo dengan sinis. “Kamu salah sangka, aku tidak seperti itu.” Wanda menjadi naik darah mendengar tuduhan Xonxo, dia mengacungkan tongkat sihirnya. “Balok es!” teriak Wanda. “Sulur pembelit!” Xonxo mengarahkan serangan ke kaki Wanda. Mereka berdua sama-sama mengerahkan mantra masing-masing. Xonxo bersalto ke samping demi menghindari serangan Wanda sedangkan Wanda membekukan sulur-sulur yang melecut mendekat sambil berjalan mundur. "Aaa.. .." Namun sayangnya Wanda tidak menyadari kalau di belakangnya ada jurang yang dalam, saat hendak berhenti dia malah terpeleset hingga jatuh ke jurang. "Akhirnya hilang satu pengganggu." Xonxo mendekat ke tepi jurang untuk memastikan kalau Wanda benar-benar sudah jatuh. Dia tertawa penuh kemenangan, sekarang sudah tidak ada lagi yang menghalangi rencana untuk membuat mekar kuncup teratai hitam. Dalam perjalanan Xonxo teringat harus mengambil air untuk Velia jadi dia mulai berjalan santai menuju sumber air untuk mengisi air dan kembali ke tenda. Di sepanjang jalan dia tersenyum membayangkan dapat melihat wajah ibunya lagi. Dia hanya harus membuat Velia tidur lebih lama hingga semua kenangan indah dapat dihisap oleh kuncup teratai hitam sekaligus untuk menghilangkan Harlan dari pikiran Velia. Xonxo bergegas memasuki tenda saat mendengar suara Velia dan Pixie bercakap-cakap. Dia harus bergerak lebih aktif karena waktu sudah tinggal sebentar lagi. Xonxo menampakkan wajah tersenyum penuh kelegaan di hadapan Velia. “Mana Wanda?” tanya Velia, dia memandang pintu masuk tenda untuk mencari Wanda yang mungkin berada di belakang Xonxo. “Wanda? Memang dia kemana?” tanya Xonxo berpura-pura tidak tahu sambil ikut menoleh ke belakang. “Lho, bukannya Wanda menyusulmu?" kata Pixie dengan heran. Dia kemudian terbang keluar tenda untuk mencari Wanda. "Wanda cemas dengan keadaanmu karena tidak kembali setelah satu setengah jam mencari air," ujar Pixie setelah masuk lagi ke dalam tenda. “Aku sama sekali tidak melihatnya, atau gara-gara tadi ketiduran jadi tidak melihatnya datang? Jangan khawatir dia pasti kembali, bukankah Wanda itu cewek yang tangguh. Setelah ini aku akan keluar untuk mencarinya. Minumlah dan makan obat ini. Ini adalah obat langka untuk memulihkan tenaga.” Xonxo menyodorkan sebuah pil yang sebenarnya adalah obat tidur dan juga botol minuman lalu membantu Velia untuk duduk. “Terima kasih atas bantuanmu, perhatianmu membuatku makin jatuh cinta.” Velia memandang penuh cinta. “Aku lebih mencintaimu,” kata Xonxo sambil mencium punggung tangan Velia hingga membuat gadis itu tersipu malu. "Sejak kapan kamu jadi cinta Xonxo?" tanya Pixie dengan bingung. "Ah, Pixie. Cinta itu tidak harus selalu diucapkan dengan kata-kata. Selama ini kami sudah begitu dekat. Apa kamu tidak menyadarinya?" Terlihat semburat pink muda di pipi pucat Velia. “Hari ini aku harus pergi, tapi jangan takut karena apapun yang terjadi aku akan mencarimu dimasa yang seharusnya.” Xonxo memeluk Velia erat-erat, enggan melepas gadis itu. Namun dia sudah hampir kehabisan waktu. “Aku akan menunggumu.” Velia mengelus pipi Xonxo dengan lembut setelah mereka melepas pelukan. Xonxo memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan Velia yang sangat diinginkan. Kecerobohan Velia saat pertama kali bertemu sudah membuatnya jatuh cinta. Dia hampir saja mengurungkan niatnya, tapi bayangan ibu membuat dia memantapkan hati. Apapun yang terjadi ibunya harus sembuh walaupun harus mengorbankan cewek yang disukainya. “Tidurlah.” Xonxo kembali membantu Velia untuk berbaring saat melihat gadis itu beberapa kali menguap. Velia menuruti perkataan Xonxo, lagipula dia sangat mengantuk setelah minum obat. Dia harus beristirahat lebih banyak agar cepat pulih, lagipula Wanda pasti akan kembali sebentar lagi jadi dia tidak perlu mencemaskan gadis itu. Xonxo menyempatkan mengelus-elus rambut Velia hingga cewek itu tertidur dengan lelap kemudian mengecup lembut keningnya untuk yang pertama dan terakhir. "Vel, Vel," bisiknya lembut sambil menggoyang tubuh perlahan untuk memastikan kalau Velia sudah tidur. "Sulur pembelit!" Xonxo membalik badannya sambil mengarahkan mantra pada Pixie. Peri Wanda itu mencoba berontak tetapi sulur semakin kencang membelit, rasanya seperti lilitan ular yang mengencang untuk merespkn gerakan korban. Pixie segera menghentikan perlawanan ketika menyadarinya. “Mengapa kamu melakukan hal ini? Mereka sudah begitu baik padamu?"  tanya Pixie sedih. “Aku memang harus melakukan ini, lagipula sekarang tidak ada majikan yang akan melindungimu.” Xonxo menyerigai. "Jangan-jangan kamu juga meyerang Wanda? Teganya kamu!" Pixie menangis, kembali peri itu berusaha lepas dari ikatan tetapi ikatan itu semakin kencang. “Wanda sudah mati.” Xonxo mengatakannya dengan mudahnya.  “Bohong, aku masih di sini itu berarti dia masih hidup," bantah Pixie.  “Tinggal tunggu waktu saja sampai tubuhmu juga menghilang,” ujar Xonxo dengan kejam. “Lepaskan aku, lepaskan. Kamu harus bertanggung  jawab akan nyawa nona Wanda.” Wajah Pixie mengeras pwnuh tekad untuk balas dendam.  “Silahkan, kalau kamu mampu melakukannya," tantang Xonxo. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN