Xonxo tertawa keras, menertawakan ketidak berdayaan Pixie. Sihir peri dan pemiliknya saling berhubungan, bila pemilik meninggal atau terluka maka peri juga akan mengalami kesakitan yang hampir sama. Xonxo mendekati tempat tidur Velia, membelai pipi Velia sebelum mengecupnya lembut.
“Jangan sakiti Nona Velia, aku akan membalas dendam bila kamu melukainya.” Pixie berteriak-teriak putus asa.
“Memangnya kamu mampu melakukannya, hah? Sebentar lagi tubuhmu menghilang. Tapi tenang saja, aku tidak akan menyakitinya terlalu dalam. Cukuo diam dan lihat saja!”
Xonxo lalu mengeluarkan kuncup bunga teratai, “Bahagia diganti sedih, hitam berganti putih.”
Setelah mengucap mantra, kucup yang ada dalam genggamannya melayang dan bersinar. Sementara itu Velia bergerak-gerak gelisah dalam tidur, mulutnya tak henti-hentinya meneriakkan kata-kata yang tidak jelas.
Pixie menangisi keadaan Velia, tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolongnya. "Nona, tolong bertahanlah."
Kuncup teratai sudah berwarna putih seluruhnya, perlahan-lahan kucup itu terbuka. Velia mengalami kejang-kejang yang hebat sampai tempat tidur pun ikut bergetar.
Tubuh Velia sedikit terangkat saat kuncup hampir mekar sempurna, sesaat kemudian terhempas dengan keras.
"Akhirnya semua selesai." Xonxo segera mengemasi barang-barangnya karena semua tujuannya sudah tercapai.
Dia harus bergegas sebelum terjebak dalam pengembaraan waktu.
Xonxo berhenti sejenak untuk mencium kening Velia, “Maafkan aku, sebentar lagi kamu akan pulih. Jaga dia, Pixie.”
"Tanpa diminta pun akan tetap kujaga. Lepaskan aku!" pinta Pixie.
Xonxo mengeluarkan timer kemudian memencet tombol untuk kembali. Sebuah berkas cahaya menyelubungi Xonxo. Sebelum sepenuhnya menghilang ke dalam perjalanan waktu, dia menarik mantra yang mengikat Pixie.
Pixie jatuh terduduk lemas menahan sakit yang ditimbulkan oleh lilitan sulur.
“Nona, Nona, Nona Velia. Saya mohon, bangunlah.” Pixie terus meratap.
“Nona!” Pixie berteriak keras saat merasakan tubuhnya mulai menghilang, dia sangat takut kalau Wanda sudah meninggal. Peri juga akan menghilang kalau pemiliknya meninggal, kalaupun peri bertahan maka kekuatannya tidak sama seperti sebelumnya.
“Selamat tinggal, Nona Velia. Jaga diri anda.” Pixie membungkuk sebelum benar-benar menghilang.
Sehari kemudian Velia tersadar dari pingsan, dia mencari Xonxo ke seluruh ruangan tenda tetapi tidak bisa menemukannya.
“Kamu pasti sudah pulang, aku akan segera menyusulmu.” Velia mengusap tato peri hingga Yelzi muncul.
“Hanya tinggal kita berdua, Yelzi. Aku ingin segera pulang,” ucap Velia.
“Bagaimana dengan Nona Wanda?” tanya Velia.
“O iya, Wanda. Kita harus mencarinya. Bagaimana bisa aku melupakannya dan malah berniat untuk pulang." Velia menepuk dahi setelah menyadari hal itu. Mungkin karena semalam tidurnya tidak nyenyak akibat sakit yang dideritanya.
Velia lalu mengemasi tenda dan menyimpan dalam ransel, beruntung Velia sudah belajar mengeluarkan dan menyimpan tenda dari Wanda sehingga bisa melakukannya dengan cepat. Velia menyuruh Yelzi mencari jejak Pixie.
“Sebelum aku pingsan, Pixie masih ada di sisi ranjang untuk menjagaku. Kalau sekarang Pixie menghilang itu berarti ada dua kemungkinan, Wanda memanggilnya atau Wanda sudah meninggal. Apapun itu, kita harus bergegas,” kata Velia.
Yelzi mengikuti jejak Wanda sampai di gua dan keluar lagi, “ Ada jejak pertarungan di sini. Wanda sudah di serang.”
Velia menjadi panik saat mendengarnya, “Cepat temukan jejaknya. Jangan sampai Wanda terluka, kita harus pulang bersama.”
“Jejak Pixie berakhir di tepi jurang ini.” Yelzie melayang mengamati jurang yang terlihat dalam.
“Jurang ini sangat dalam, aku rasa ada aliran air di bawah sana. Jejak Pixie langsung menghilang, itu berarti Wanda masuk dalam air,” kata Yelzi.
Velia mundur menjauhi jurang lalu mengambil ancang-ancang untuk berlari cepat dan melompat ke jurang. Namun Yelzie menahan Velia sekuat tenaga agar Velia tidak melakukan tindakan nekat itu.
“Lepaskan aku!” Velia menghardik Yelzie.
“Jangan lakukan, kamu akan celaka kalau nekat. Jurang ini sangat dalam.” Yelzi tetap mencegah Velia.
“Andaikan Xonxo masih di sini, dia pasti bisa menolong kita.” Velia berjongkok di tepi jurang sambil terisak-isak.
“Apa ada yang bisa kubantu?” Napas hangat menerpa tubuh Velia.
Velia menoleh ke asal suara, “Deq.”
Velia kemudian loncat kegirangan untuk menyambut kedatangan Deq yang sedang mendarat. Dia memeluk leher Deq dan menciumnya.
“Apa yang terjadi sampai kamu menangis seperti itu?” tanya Deq ramah.
“Aku butuh bantuanmu, untuk mencari Wanda. Dia terjatuh dalam jurang.”
“Naiklah ke punggungku.” Deq merendahkan tubuhnya agar Velia mudah naik.
Deq terbang di belakang Yelzi yang mengikuti jejak Pixie. Jurang ini sangat dalam tepat seperti perkiraan Yelzi, angin juga bertiup kencang hingga membuat Deq kesulitan mengatur keseimbangan. Sementara itu Velia memeluk leher Deq seerat mungkin agar tidak terlepas, gadis itu sedih membayangkan kondisi Wanda.
Satu jam kemudian mereka berhenti tepat di atas aliran sungai yang mengalir deras, Velia kembali terisak membayangkan kalau Wanda tidak selamat.
“Jejak Pixie berakhir di sini, dia pasti berubah menjadi tato saat Wanda menyentuh air,” kata Yelzie.
“Kita ikuti aliran sungai ini,” ujar Deq memberi saran.
Mereka terbang menyusuri sungai sambil mengamati tepian sungai, berharap dapat menemukan tubuh Wanda. Mereka masih berharap Wanda selamat. Sudah setengah jam mereka menyusuri sungai tapi tidak melihat keberadaan Wanda. Suara air terjun terdengar jelas membuat mereka semakin panik, Deq terbang cepat menuruni air terjun agar mereka segera sampai di dasar. Beruntung angin bertiup tidak sekencang waktu menuruni jurang.
“Wanda!” Velia berteriak kencang saat melihat sobekan jubah Wanda tersangkut di salah satu batang pohon tumbang tak jauh dari dasar air terjun.
Beberapa jam sebelumnya.
Wanda tadi menyadari kalau di belakangnya ada jurang yang dalam jadi saat hendak berhenti dia malah terpeleset hingga jatuh ke jurang.
Tangan Wanda memang sempat menggapai ranting pohon yang tumbuh di sisi tebing, tapi tubuhnya malah tersangkut pada batang pohon.
Wanda mengaduh kesakitan ketika ketika perutnya menghantam dahan pohon. Dia kembali meluncur turun akar pohon tercabut gara-gara hantaman tubuh Wanda. Itu karena pohon memang berada tepat di pinggir jurang.
"Tolong!" Wanda berteriak sekeras mungkin untuk mencari pertolongan walaupun rasanya itu sia-sia saja.
Tubuh Wanda terhempas di tanah yang sedikit menjorok, remuk sudah tubuhnya kini. Sudah beberapa lama gadis itu merintih karena merasakan sakit yang teramat sangat di kaki kiri, tangannya bergerak hendak memanggil Pixie kembali tetapi dia mengurungkan niat saat melihat sebuah burung rajawali terbang menungkik kearahnya.
Mata Wanda memindai sekitar untuk mencari tempat berlindung tetapi tidak ada yang dapat dijadikan tempat untuk sembunyi. Wanda kemudian merangkak sambil menahan rasa sakit, dia harus mengambil resiko daripada tercabik di sini.
“Gelembung pelindung!” teriak Wanda sebelum menjatuhkan diri ke dalam jurang. Tubuh Wanda sekarang ada di dalam sebuah gelembung besar. Wanda sedikit lega karena dia bisa juga merapalkan mantra pelindung paling sederhana.
"Semoga ini bisa menahan serangan," pinta Wanda sepenuh hati.
Burung itu menungkik tajam langsung menuju ke arah Wanda. Paruh burung itu sudah mulai mematuk gelembung,berusaha untuk memecahkannya.
Wanda mengirimkan serangan jarum es melalui lapisan luar gelembung, serangan itu berhasil membuat burung rajawali melepaskan gelembung Wanda.
Rupanya sayap burung itu terluka oleh jarum-jarum es hingga membuat burung rajawali terbang menjauhi Wanda.
Namun Wanda belum bisa bernapas lega setelah melihat ada aliran air di bawahnya, kali ini dia tidak membawa jamur kancing bergelembung yang bisa membuatnya bernapas dalam air. Wanda menutup mata dan mengambil udara sebanyak-banyaknya sebelum gelembung pelindung meletus karena bersentuhan dengan air.
Tubuh Wanda meluncur masuk ke dalam aliran air yang deras. Sesekali tangannya menggapai keluar dari air ketika tubuhnya timbul tenggelam karena aliran air ini bergelombang.
Wanda merasakan air ini semakin kuat menyeretnya membuatnya berpikir kalau ada air terjun yang semakin dekat.
Dugaan Wanda benar karena tak berapa lama dia melihat ada air yang berbuih-buih dengan bunyi gemuruh yang semakin keras, gadis itu teringat akan nasib Velia yang ada dalam genggaman Xonxo. Baik Wanda ataupun Velia tidak akan selamat kali ini. Wanda menangis meratapi keadaan mereka. Harlan juga tidak akan tertolong lagi, dia akan selamanya diperbudak cinta oleh Lory.
Mata Wanda menutup pasrah, mau berenang sekuat apapun pasti tidak akan bisa melawan aliran sungai yang menuju air terjun. Jubah yang dipakai Wanda terlepas karena tersangkut dahan yang menjorok saat dia terjun terbawa aliran air terjun.
Tiba-tiba Wanda merasakan tubuhnya terlilit oleh tali tambang, Wanda menyentuh tali itu dan menggenggamnya dengan kuat saat merasakan tubuhnya ditarik. Gadis itu ditangkap oleh seorang yang memakai jubah merah, hal ini mengingatkan Wanda akan pertemuan pertamanya dengan Xonxo.
Namun karena sudah kehabisan tenaga, Wanda malah pingsan saat orang itu melepaskan ikatan dari tubuh Wanda. Akhirnya cewek itu dibawa terbang menjauh menggunakan sapu terbang. Laki-laki itu memeluk erat tubuh Wanda agar tidak terjatuh.
Sapu terbang menuju sebuah gua yang dihuni oleh lelaki itu. Dia lalu membaringkan Wanda di atas tempat tidur dan meminumkan suatu ramuan setelah mereka mendarat di dalam salah satu ruangan gua.
“Cepatlah sadar,” katanya sambil membelai rambut Wanda penuh sayang.
Lelaki itu mengusap tato peri untuk memanggil peri Huan, peri itu muncul dengan pendar merah darah. Huan menunduk untuk memberi hormat.
“Tolong jaga Wanda, aku hendak mencari daun obat agar luka-lukanya cepat sembuh.”
“Baik, Tuan.” Kembali Huan membungkukkan badan sebelum bergerak menuju sisi ranjang.
Laki-laki itu terbang kembali menggunakan sapu terbang menuju hutan untuk mencari bahan obat. Dia mencari menyisir setiap semak dan pohon agar cepat mendapatkan obat.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, dia bergegas kembali ke gua. Jujur dia sangat cemas dengan keadaan Wanda.
Gadis yang selama ini dilindunginya secara diam-diam sudah terluka sedemikian parah, harusnya dia dapat mencegah niat Velia dan Wanda sejak awal.
Hatinya terasa sakit saat melumuri kaki Wanda yang terluka, dia bahkan menitikkan air mata waktu membebat luka itu. Semoga ini semua belum terlambat karena dia bahkan tidak pernah menunjukkan perhatian secara langsung pada Wanda. Kalau kali ini Wanda selamat, dia berniat menjadikan gadis itu menjadi miliknya.