Velia kembali pingsan sesaat setelah melihat jubah Wanda tersangkut di salah satu batang pohon. Tubuhnya terjatuh di sungai tanpa Deq sempat mengejarnya. Yelzi juga langsung menghilang saat tubuh Velia tersentuh air. Deq melihat ada seseorang berjubah merah yang melompat masuk ke air dan berenang menuju Velia.
Orang itu berhasil menangkap tubuh Velia dan membawanya ke tepi sungai. Lelaki itu berusaha mengeluarkan air yang terminum oleh Velia. Velia terbatuk beberapa kali sebelum mengeluarkan air yang sempat tertelan, Velia kembali jatuh pingsan. Kondisi gadis itu belum benar-benar pulih saat memutuskan mencari Wanda.
Orang itu mengangkat tubuh Velia dan membawanya terbang menggunakan sapu terbang menuju ke gua seperti saat dia menolong Wanda. Deq terbang mengikuti Velia, dia tahu kalau orang itu berniat menyelamatkan Velia.
Deq berjaga-jaga di mulut gua karena dia tidak cukup kecil untuk memasuki gua sementara sapu terbang yang membawa Velia masuk semakin dalam. Laki-laki itu membaca mantra untuk mengeringkan tubuh dan pakaian Velia agar dia tidak terkena demam akibat kedinginan.
Velia dibaringkan bersebelahan dengan Wanda, Huan masih setia menjaga Wanda. Laki-laki itu menggenggam tangan Velia sambil terus mengucapkan kata maaf, dia merasa tidak becus menjaga kedua gadis itu hingga terlibat dalam bahaya.
“Velia!” panggil Wanda dengan terkejut saat menemukan dirinya terbaring bersama Velia.
Tangan Wanda terulur untuk mengecek napas dan nadi Velia. "Syukurlah."
Dia merasa lega saat mengetahui Velia masih bertahan. Namun seingatnya, dia tadi berada di dalam air. Kenapa bisa ada di sini.
“Siapa anda? Terima kasih sudah menolong aku dan sahabatku ini,” ucap Wanda saat melihat sesosok laki-laki berjubah merah duduk membelakangi mereka.
Mata Wanda membulat terkejut bahkan sampai menahan napas saat melihat orang itu berbalik, laki-laki itu tersenyum hingga menampakkan lesung pipi yang membuatnya terlihat tampan.
“Kak Rain,” Wanda menangis saat mengucapkan nama itu.
“Sudahlah jangan menangis, kalian berdua sudah aman sekarang.” Rain memeluk Wanda untuk menenangkannya.
“Tolong Velia, kak,” pinta Wanda.
“Kakak sudah memberikan pertolongan pertama, dia akan sadar tak lama lagi," jawab Rain.
“Bukan pertolongan itu yang Wanda maksud, Velia terkena pengaruh kuncup teratai hitam.” Wanda memegang tangan Velia dengan lebih erat, air matanya tak henti mengalir.
Sebenarnya Wanda menyayangi Velia sebagai seorang sahabat walaupun sikap mereka terlihat seperti dua orang yang bermusuhan.
“Apa? Bagaimana bisa?” Rain sangat terkejut mendengarnya kemudian buru-buru mengecek kondisi Velia terutama warna kukunya.
"Kukunya masih berwarna kuning pucat. Kita masih ada waktu untuk menyembuhkannya," tutur Rain.
“Ini karena perkataan Velia yang sempat menyinggung Xonxo hingga laki-laki itu menjadikan Velia sebagai tumbal.” Wanda menjelaskan pada Rain.
“Bagaimana bisa kalian bertemu dengan Xonxo? Aku tidak percaya kalau dia yang melakukan hal ini.” Rain menolak mempercayai perkataan Wanda.
“Kakak mengenalnya?” Gantian Wanda yang terkejut.
“Dia sahabatku,” ujar Rain.
“Jadi yang meminjami timer penjelajah waktu adalah Kak Rain?” tanya Wanda yang dijawab dengan anggukan kepala.
“Apa Velia sudah sangat menyinggung Xonxo sampai Xonxo setega itu pada Velia?” Rain berusaha mengorek informasi.
“Xonxo menyukai Velia sejak dari pertama bertemu tetapi Velia secara tidak sengaja mengatakan kalau Xonxo tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Harlan. Velia tidak tahu perasaan Xonxo padanya.” Wanda menjelaskan duduk perkara.
“Ini sangat sulit, yang bisa melepas pengaruh kucup teratai hitam hanya Velia sendiri. Kalau Velia sudah jatuh terlalu dalam maka dia tidak akan mempercayai perkataan kita. Aku tidak tahu apa yang sudah ditanamkan Xonxo dalam pikiran Velia saat mengambil kenangan indah Velia." Rain menyentuhkan jari telunjuk ke dahi ketika berpikir.
“Dia menanamkan pikiran kalau Velia juga mencintainya,” ujar Wanda.
“Kami sempat bicara saat dia menyerangku,” tambah Wanda.
“Bagaimana dengan bahan Hearteak? Apa sudah dapat semua?” tanya Rain.
“Masih kurang beberapa, Kak. Namun yang baru terpecahkan adalah daun semanggi berhelai empat. Tapi sekarang kita ada di mana?" Wanda ingin memastikan rute perjalanan.
Rain berjalan mondar mandir sambil berpikir, dia lalu mengingat nama tempat yang terdapat daun semanggi berhelai empat. Konon daun ini sangat langka dan membawa keberuntungan bagi yang menemukannya.
“Kebun bunga Resi.” Rain dan Wanda berteriak bersama-sama lalu tanpa sadar mereka berdua berpelukan karena merasa senang sudah mengetahui lokasinya.
“Ehm.” Wanda melepas pelukan Rain dengan muka memerah karena malu.
Rain kembali menarik Wanda dalam pelukannya, “Terima kasih karena sudah bertahan.”
“Eh, Kak Rain.” Wanda semakin tersipu, dia tidak berani berharap lebih dalam mengartikan pelukan Rain.
“Gimana dengan Velia?” tanya Wanda sambil menengok pada cewek yang masih berbaring dengan lemas.
“Kita akan memberitahukan pelan-pelan.” Rain memandangi Velia yang masih tertidur pulas.
“Semoga dia mau percaya pada kita.” Wanda kembali duduk di tepi ranjang untuk mengawasi Velia.
Wanda dan Rain makan malam berdua karena Velia masih belum sadar, padahal mereka sudah memberikan ramuan untuk memulihkan tenaga Velia. Rupanya pengaruh kucup teratai hitam begitu kuat, obat-obatan hanya bersifat sementara saja.
“Terima kasih sudah menolongku, wahai penyihir berjubah merah.” Velia memaksakan untuk duduk bersandar ketika terbangun dan melihat orang yang sudah menolong duduk membelakanginya.
“Sama-sama adikku yang cantik dan ceroboh,” balas Rain.
“Adik?” Kening Velia berkerut saat mendengar ucapan Rain, dia masih belum tahu siapa sebenarnya penyihir berjubah merah yang sudah menolongnya.
Rain membalikkan badan menghadap Velia, ekspresi Velia sama seperti Wanda saat melihatnya tadi. Rain melangkah mendekati Velia sambil membentangkan kedua tangan hendak memeluk adik semata wayangnya.
Velia berlari sambil membentangkan kedua tangan, dia hanya melewati Rain begitu saja. Rain terheran-heran karena Velia mengacuhkannya, ternyata Velia menyongsong Wanda yang berdiri di belakangnya.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Velia.
“Seperti yang kamu lihat, Kak Rain yang sudah menyelamatkan kita berdua.”
“Bagaimana Kak Rain bisa ada di sini?” Velia mendekati Rain untuk kemudian memeluknya.
“Aku mencoba mencari kalian saat menyadari kalau timer-ku menghilang dan berganti dengan selembar surat yang membuatku kuatir.” Rain berkacak pinggang dengan wajah serius.
“Menghilang? Bukankah kamu bilang kalau Kak Rain meminjamkannya padamu?” Nada suara Wanda mulai meningkat.
“Itu, uhm. Aku sudah meminta ijin lewat surat saat meminjamnya.” Velia berlindung di belakang punggung Rain saat Wanda sudah mulai tersulut amarah.
“Sudah, sudah, sudah. Lebih baik kamu makan dulu lalu kalian berdua kembali beristirahat.” Rain memisahkan mereka.
“Kita harus kembali besok pagi, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Xonxo. Kita baru berpisah selama beberapa saat tapi aku sudah kangen saja.” Pipi Velia merona membuat Wanda dan Rain saling berpandangan.
“Ada yang kakak ingin bicarakan mengenai Xonxo,” ujar Rain sambil menggenggam kedua tangan Velia.
“Apa dia terkena masalah? Dia sakit? Katakan padaku, apa yang sudah terjadi?” Velia mulai diserang rasa panik.
“Dia sudah memanipulasi otakmu, kamu jadi merasa kalau sangat mencintai Xonxo padahal orang yang kamu cintai itu Harlan," tutur Wanda.
“Harlan? Siapa dia? Aku tidak pernah mendengar nama itu.” Velia berusaha mengingat nama Harlan tetapi dia sama sekali tidak mengenalnya.
“Dia sahabatku, teman sekelas kita. Kamu mencintai Harlan sejak dia membelamu saat kamu gagal menjalani latihan pertamamu,” tutur Wanda.
“Kalian pasti berbohong. Aku dan Xonxo saling mencintai. Jangan-jangan kamu juga suka padanya dan hendak merebut Xonxo.” Velia mulai mencurigai Wanda.
“Itu tidak benar, ada orang lain yang aku sukai,” jawab Wanda.
“Benarkah itu?” Rain memotong ucapan Wanda.
“Benar, Kak.” Wanda menunduk tidak berani memandang Rain yang sedang memperhatikan dengan pandangan tajam.
“Aku patah hati. Siapa orang yang beruntung bisa kamu cintai?” Rain bangkit dari duduk dan hendak meninggalkan mereka, dia tidak sanggup menahan rasa kecewa karena terlambat menyatakan isi hati pada Wanda.
“Dia adalah kakak,” kata Wanda lirih.
“Kakaknya siapa?” Rain kembali membalikkan badan, meskipun merasa sakit hati tapi dia ingin tahu siapa yang sudah menawan hati Wanda.
“Kakaknya Velia,” jawab Wanda.
“Velia yang mana?” Rain masih belum tahu orang yang dimaksud.
“Aduh Kakak, masa orang sepintar Kak Rain tidak tahu maksud Wanda sih? Velia jadi gemes pengen cubit pipi kakak.” Velia menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan kakaknya yang tiba-tiba jadi bodoh.
“Siapa dia?” Rain kembali bertanya.
“Dia adalah kakak sendiri, Kak Rainendra Wirya.” Velia berteriak tepat di telinga Rain.
“Benarkah itu? Apakah yang dikatakan oleh Velia itu benar?” Rain mendekati Wanda yang semakin menundukkan kepala.
“Angkat kepalamu dan pandang wajahku. Jawablah dengan jujur, apakah itu benar?” Rain memegang bahu Wanda.
“Benar, Kak. Jangan marah padaku, aku tidak berharap Kakak membalas perasaanku. Hanya jangan menjauhiku setelah Kak Rain tahu perasaanku.” Wanda memohon pada Rain.
“Tentu saja tidak, dengan satu syarat.” Alis Rain terangkat saat mengatakannya.
“Apapun itu syaratnya aku terima,” jawab Wanda dengan mantap.
“Yakin?” Rain kembali meminta kepastian.
“Yakin,” jawab Wanda.
“Syaratnya adalah, kamu jadi pacarku.” Rain menyerigai.
“Apa?” Velia tersedak saat hendak menelan makanannya.
“Apakah kamu bersedia?’ Rain mengacuhkan keterkejutan Velia, pandangannya hanya tertuju pada Wanda.
“Iya, aku bersedia,” jawab Wanda dengan mata berbinar, dia tidak menyangka akan seperti ini jadinya setelah sekian lama dia memendam rasa. Penantiannya terbayar sudah setelah mendengar permintaan Rain.
“Aku mencintaimu.” Rain memeluk Wanda.
“Aku juga,” bisik Wanda agar tidak terdengar oleh Velia, dia tidak ingin diolok-olok oleh calon adik iparnya.
“Ehm ... ehm.” Velia memberi kode agar tidak menjadi obat nyamuk diantara mereka.
“Jadi ingin cepat-cepat menemui Xonxo,” ujar Velia.
“Jangan!” teriak Wanda dan Rain bersamaan.
“Aku mau tidur.” Velia marah pada mereka berdua, “aku tidak mau mendengar kalian memfitnah Xonxo lagi.”