Keesokan harinya mereka bertiga bersiap-siap menuju ke taman bunga Resi untuk mencari daun semanggi berhelai empat, walaupun Velia tidak memahami tujuan mereka tapi dia bersedia membantu agar cepat-cepat kembali ke masa yang sebenarnya.
Taman bunga Resi tidak begitu jauh dari gua yang mereka tempati, ada satu kendala yang harus mereka hadapi jika ingin masuk ke taman itu. Mereka harus menghadapi ketakutan terdalam saat melewati jalan setapak menuju taman bunga.
Velia menghentikan langkahnya tepat di depan batas desa dengan jalan setapak ketakutan terdalam, “Aku akan menunggu di sini.”
“Kamu harus ikut,” kata Wanda sambil mendorong Velia agar bergerak maju.
“Aku tidak mengenal Harlan jadi aku tidak harus masuk.” Velia bergeming karena tetap tidak mau masuk.
“Masuk!” perintah Rain dengan mata melotot.
“Iya, iya, aku masuk.” Velia terpaksa menurut karena sudah diperintah kakaknya.
Rain berjalan di tengah-tengah karena diapit oleh dua gadis yang sudah ketakutan sebelum melintasi jalan setapak. Rain sendiri merasa yakin dapat melewati dengan mudah karena dia hampir tidak mempunyai ketakutan.
Velia semakin mendekatkan diri pada Rain saat melihat di kanan kirinya terdapat pohon pisang yang berbuah lebat. Wajahnya pucat pasi, dia bahkan bisa mencium bau pisang matang yang membuat mual. Susah payah Velia menahan agar tidak muntah. Tangan kanan dia gunakan untuk menutup hidung sedangkan tangan kiri digunakan untuk memegang lengan Rain.
"Kenapa ada banyak pisang di sini. Kita kembali saja," rengek Velia yang diserang oleh bau pisang yang tajam.
Wanda sendiri tidak kalah ketakutan dibandingkan Velia, meskipun dia pernah terbang naik naga bersama-sama dengan Velia tetapi rasa takut akan ketinggian masih ada.
"Jangan lepaskan tanganku. Aky tidak mau jatuh lagi!" Dalam penglihatan Wanda saat ini, dia berjalan di atas seutas kawat tipis yang membentang di atas jurang. Tangan Wanda tidak sekalipun lepas dari lengan Rain.
"Tolong pelan-pelan. Aku tidak mau salah langkah." Wanda melangkah perlahan-lahan berusaha menyeimbangkan diri agar tidak jatuh, sesekali dia melihat ke bawah. Lutut Wanda terasa lemas, dia nyaris tidak berani melangkah tetapi Rain terus menariknya agar tetap berjalan.
"Ayo kita cepat-cepat meninggalkan kebun buah ini. Aku tidak bisa bernapas karena udara di sini bau pisang." Velia malah melangkah dengan cepat, dia tidak ingin berlama-lama di kebun pisang yang berpotensi membuatnya pingsan. Velia tidak memikirkan ketakutan Wanda karena di kepalanya hanya berisi cara untuk segera keluar dari jalan setapak ketakutan terdalam.
Sudah tinggal seperempat jalan menuju pintu gerbang taman bunga Resi tapi Rain malah menghentikan langkahnya membuat Velia memarahinya. "Buruan, Kak! Aku mau cepat-cepat keluar! Kakak harus jalan!"
Wanda juga ingin segera sampai, jika lama-lama berdiri di atas kawat dia bisa jatuh ke bawah karena gemetaran. Mereka tidak tahu kalau Rain melihat ada lintah raksasa yang menunggu di depannya.
Rain sangat takut dengan lintah karena waktu kecil dia pernah digigit lintah saat menemani ayahnya memancing. Lintah yang tadinya kecil lama kelamaan menjadi gemuk, tubuhnya yang transparan membuat Rain dapat melihat jelas aliran darah yang sudah dihisap lintah. Saat lintah itu membesar hampir 5 kali berat tubuhnya, lintah itu baru melepaskan gigtan pada Rain. Dia langsung jatuh pingsan saat melihat bekas gigitan lintah terus mengeluarkan darah.
"Kak, Kak Rain. Cepatlah maju!" Wanda yang melihat wajah Rain memucat jadi menyadari satu hal bahwa Rain sudah melihat hal yang paling ditakutinya. Wanda memanggil nama pemuda itu tetapi Rain seolah-olah tidak mendengar suara Wanda.
Perlahan-lahan Rain berjalan mundur saat melihat lintah itu bergerak menuju kearahnya. "Tidak! Jangan mendekat!"
"Vel, pegang tangannya kuat-kuat. Kita tidak bisa kembali ke sana lagi. Aku tidak mau meniti kawat lagi." Wanda memegang lengan Rain untuk menahan supaya dia tidak melarikan diri.
Keringat mulai bermunculan di dahi Rain, dia memberontak dari cengkeraman Wanda. Sekarang dia malah melihat banyak lintah kecil-kecil yang merayap untuk mengepung dirinya.
"Tidak! Tidak! Jangan hisap habis darahku!" Rain menarik-narik tangan Wanda yang dikiranya lintah besar.
“Vel, paksa kakakmu untuk lari. Apapun yang ada di depan kita harus kita hadapi, kita harus segera sampai sebelum Rain pingsan. Wajahnya sudah sangat pucat.” Wanda menelan ludah saat bertelepati dengan Velia karena sejujurnya dia sendiri tidak merasa sanggup untuk berlari di atas seutas kawat tipis.
“Beres,” balas Velia sambil mengambil ancang-ancang, dia sudah sangat ingin keluar dari sini.
“Satu, dua, tiga!” Wanda memberi aba-aba.
Sekuat tenaga mereka berdua memaksa Rain untuk ikut berlari meskipun Rain terus saja memberontak. Velia beberapa kali nyaris terjungkal saat Rain mencoba meloloskan diri dari pegangan tangannya, tapi dia tetap berlari mengimbangi langkah Wanda.
Mereka bertiga menjatuhkan diri saat keluar dari ketakutan terdalam, kaki terasa lemas tak bertenaga. Rain bahkan merebahkan diri sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
“Terima kasih,” ucap Rain dengan napas tersenggal-senggal. Wajahnya menunjukkan kelegaan walaupun masih seputih kapas.
“Kami juga berterima kasih karena kamu terus memegang pinggang kami agar terus melangkah.” Wanda mencium pipi Rain membuat pemuda itu merona malu.
“Terima kasih, Kak.” Velia juga menghadiahi ciuman di pipi.
Mereka bertiga membaringkan diri di rerumputan yang terasa empuk dan segar.
"Aku nyaris saja pingsan di sana" keluh Velia.
"Aku malah sudah berkunang-kunang dan gemetaran," balas Wanda.
"Aku pun rasanya seperti ingin mati saja," tambah Rain.
Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan perjalanan yang tertunda. Wanda dan Velia ragu-ragu untuk masuk saat sudah ada di gerbang taman bunga Resi.
“Masuk saja, sudah tidak ada yang perlu kita takutkan. Taman ini netral,” ujar Rain untuk meyakinkan keduanya.
“Wah, indahnya.” Velia berlari memasuki taman setelah melihat banyak bunga bermekaran.
“Yakin ini aman, Kak? Nggak seperti waktu di taman merah kan?” Velia masih teringat pengalaman saat mengunjungi taman merah.
“Aman, ini adalah taman bunga biasa,” jawab Rain.
“Asik!” Velia bersorak kegirangan, dia sibuk mencium aneka aroma bunga.
“Vel, jangan keasikan. Ingat tujuan kita ke sini.” Wanda mengingatkan Velia yang berlarian ke sana ke mari untuk sekedar mencium harum bunga yang beraneka jenis.
“Sini deh, Wan.” Velia menarik tangan Wanda dan membimbingnya untuk mencium aroma melati putih yang sangat disukai Wanda.
Wanda langsung larut dalam kegembiraan bersama Velia, dia kalap melihat banyak melati yang begitu indah dan harum. Wanda memetik melati putih sebanyak-banyaknya lalu menaburkannya di udara.
“Aku harus mengambil beberapa batangnya untuk ditanam di rumah.” Wanda sudah mengeluarkan pisau untuk memotong beberapa batang melati dari 3 jenis yang disukainya.
Rain menanti dalam diam, membiarkan para gadis menikmati saat-saat terindah mereka setelah menjalani saat-saat paling menakutkan dalam hidup.
“Gadis-gadis cantik, kita jadi cari daun semanggi nggak?” Rain bertanya dengan kalem.
“Jadi,” jawab Wanda singkat sambil menghampiri Rain.
“Maaf, kami terlalu larut dalam kegembiraan.” Velia juga mendekati kakaknya.
“Ayo kita cari, semakin cepat kita dapatkan maka semakin cepat kita pulang dan bertemu Xonxo.” Velia langsung jongkok dan melihat ke bawah untuk mencari daun semanggi berhelai empat.
Wanda bahkan merangkak dan menyibakkan beberapa tanaman perdu untuk mencari daun itu, daun semanggi kecil seperti rumput jadi harus memperhatikan lebih teliti.
“Aku menemukannya.” Velia berteriak sambil mengacungkan beberapa tangkai daun semanggi berhelai empat.
“Kerja bagus, adikku.” Rain mengelus kepala Velia penuh sayang.
“Dapatkah kita langsung pulang?” tanyanya dengan penuh harap.
“Tentu saja kita akan pulang, mana timer-nya.” Rain meminta pada Velia.
Velia cepat-cepat mengeluarkan timer agar mereka cepat kembali, dia sudah tidak sabar ingin menemui Xonxo.
Karena terlalu terburu-buru, timer itu terjatuh saat hendak diserahkan pada Rain. Timer meluncur dan membentur batu tepat dipengatur waktu, seberkas cahaya menyilaukan muncul dan membuat mereka terpental lalu beberapa detik kemudian mereka tertarik memasuki lorong waktu yang gelap. Rain merusaha menggapai Wanda dan Velia agar mereka tidak terlempar diwaktu yang salah.
“Maafkan aku,” ujar Velia.
“Kita pasti bisa keluar dengan selamat.” Rain meraih tangan Velia.
Mereka bertiga terombang ambing di lorong waktu yang gelap, satu-satunya penerangan mereka berasal dari ujung tongkat Wanda yang menyala. Seberkas sinar tampak di kejauhan, Rain membawa mereka mendekati arah datangnya sinar. Sinar putih itu menyedot mereka seperti magnet hingga akhirnya mereka keluar dari lorong waktu.
“Apakah kita ada dimasa yang benar?” tanya Velia sambil memandang sekeliling.