5 Tahun kemudian.
Seorang gadis mengulat diatas kursinya sambil sesekali menguap karena mengantuk. Hari ini dia akan mengetahui apakah dirinya diterima kerja atau tidak di perusahaan yang dia lamar.
Dia melamar kerja di salah satu perusahaan terkenal yaitu Sea Group, maka dari itu dia sangat menunggu email balasan nya tentang apakah dia diterima atau tidak.
Ting!
Pemberitahuan masuk ke dalam laptop nya, sebuah email masuk dari Sea Group, Ranty langsung berdebar dan langsung membuka email itu. Dan betapa terkejutnya dia berhasil dan diterima kerja disana.
Ranty langsung menutup mulutnya tak percaya dan langsung loncat dari kursinya, dia tertawa senang lalu lompat lompat tak jelas. Akhirnya dia diterima kerja dan mempunyai penghasilan tetap! Akhirnya dia bisa membayar sewa apartemen ini sendiri!
Ya, semenjak lulus kuliah Ranty memilih tinggal di apartemen, dan kedua orangtua nya menyetujui itu, sambil membantu Ranty membayar uang sewa.
Drrrtt. ..
Ponselnya berdering. Ranty langsung berhenti melompat dan melihat siapa yang menelepon nya. Ternyata telepon itu masuk dari Farel. Ranty lantas langsung mengangkat telepon itu.
"Iya sayang?" Jawab Ranty lalu terkekeh.
"Idih, apa sayang sayang!" Ujar orang diseberang sana dan Ranty terkekeh.
"Kenapa Farel?" Tanya nya.
"Hari ini kan nikahan Layla! Lo lupa atau gimana sih? Cepetan mandi ini udah jam sembilan, akad nya jam sebelas. Gimana si anak ini." Omel Farel di telepon sama persis seperti ibunya.
Ranty langsung teringat, bahwa hari ini adalah hari pernikahan Layla dan dia belum menyiapkan apapun! Ranty langsung mematikan telepon sepihak dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Satu jam berlalu, sudah jam sepuluh pagi dan Ranty sudah cantik dengan dress putih selutut dengan sepatu hak tinggi nya. Dia tersenyum.
Farel akan menjemputnya hari ini.
Jika ditanya apakah ada yang berubah dari hubungan mereka? Jelas tidak. Farel tetap menjadi abang bagi Ranty dan Ranty tetap menjadi adik bagi Farel, tidak ada yang berubah.
"Ranty, gue udah ada di depan ya, lo turun aja sekarang gue gamau masuk, repot." Ujar Farel lewat pesan. Ranty tersenyum dan langsung keluar kamar apartemen nya dan pergi ke bawah untuk menemui Farel.
Akhirnya gadis itu sampai dan melihat Farel yang ada di pinggir jalan dengan motor besarnya.
"Yang bener aja Rel, masa gue udah dandan cakep gini lo bawa motor." Ujar Ranty bergurau dan Farel hanya tertawa, "Naik getek aja sana." Canda nya dan Ranty langsung naik ke atas motor Farel tanpa basa basi.
"Udah? Yuk jalan!" Ujar Farel dengan senyuman lalu langsung menjalankan motornya.
Ranty tersenyum selama di perjalanan, teman nya akhirnya sudah ada yang menikah. Layla memilih menikah dengan teman satu kantornya.
Jika dipikir pikir, Layla yang sangat bucin waktu kuliah dulu sudah berubah menjadi Layla yang sangat bijaksana. Ngomong ngomong masalah jaman kuliah, Ranty jadi penasaran bagaimana keadaan Fabian sekarang?
"Ran." Panggil Farel langsung membuyarkan lamunan nya.
"Iya?"
"Kaget ga pas tau kalau Layla yang bakal nikah duluan?" Tanya Farel dan Ranty langsung tertawa.
"Jodoh nggak ada yang tau Rel, bisa aja besok lo yang mau nikah." Ujar Ranty lalu terkekeh.
"Iya nikah sama angin." Jawab Farel enteng dan langsung membuat Ranty tertawa. Nyata nya hubungan seperti inilah yang lebih nyaman menurut Ranty, hanya sebatas sahabat.
Akhirnya setelah lamanya perjalanan mereka sampai di gedung pernikahan Layla. Ranty masuk sambil menggandeng Farel, ya tujuan mereka datang bersama ya itu, agar tidak terlihat terlalu 'sendirian'.
"Cindy!" Panggil Ranty dan Cindy yang tadi sedang duduk langsung berdiri dan tersenyum lebar kearah Ranty.
Cindy yang sekarang jauh berbeda dengan Cindy yang dulu, sekarang dia lebih feminim dan lebih cantik.
Amelia datang sambil menggandeng calon suaminya.
Amelia yang sekarang pun jauh berbeda daripada Amelia yang dulu, lebih kalem dan juga anggun. Entah sejak kapan Amelia jauh lebih anggun dihadapan orang-orang. Tapi tetap saja galak dihadapan teman-temannya.
"Bawa Farel lagi?" Amelia berdecak dan memutar bola matanya malas. Sedangkan Ranty hanya tertawa sambil melihat Farel.
"Ya nggak apa-apa dia kan abang gue." Ujar Ranty.
"Abang palsu." Sahut Cindy.
"Duduk yuk, akad mau mulai." Ujar Cindy dan Ranty duduk disebelah Farel sambil terus merasa gugup. Layla yang menikah dia yang gugup.
Sampai pada akhirnya sang calon pengantin pria datang dan sambutan diberikan sampai akhirnya sang calon pengantin pria duduk di hadapan penghulu.
Layla masih di dalam, belum boleh keluar saat suaminya belum selesai membaca
Suami Layla hari ini terlihat sangat tampan dengan jas dan peci khas baju pengantin. Ranty jadi membayangkan secantik dan sepangling apa Layla nanti.
Tak beberapa lama pengantin pria membacakan dengan sangat lancar, hanya sekali coba dan semua seluruh tamu langsung mengucapkan sah dan memberikan doa kepada pengantin.
Lalu kemudian Layla masuk ke dalam gedung dengan menggunakan kebaya berwarna putih dengan riasan yang benar-benar cantik, serasa bukan Layla, bikin pangling.
Layla langsung menghampiri suaminya dan duduk di sebelahnya, saling memakaikan cincin, mencium tangan suaminya dan juga mencium kening Layla.
Ranty terharu dengan semua itu, dia tidak bisa membayangkan seperti apa bahagianya Layla. Karena saat dulu dia lah yang paling menyedihkan kalau soal cinta. Siapa sangka malah dia lah yang menemukan jodohnya terlebih dahulu.
"Banyak banget ya tamunya." Ujar Amelia dan Cindy mengangguk.
"Gue penasaran pengen liat Fabian." Ujar Cindy dan langsung membuat Ranty penasaran.
"Fabian ada disini?" Tanya Ranty serius dan Cindy mengangguk.
"Tuh anak ngundang, yakin sih pasti nambah ganteng kan?" Ujar Cindy dan Ranty hanya terdiam. Jadi, laki-laki itu ada disini?
Ranty sontak langsung mengeluarkan ponselnya dari tas kecil. Ponsel berwarna pink yang dia beli bersama Fabian lima tahun yang lalu. Entah kenapa masih awet sampai sekarang.
Tidak ada lecet dan masih baik-baik saja. padahal biasanya Ranty paling lama merawat ponsel sekitar tiga atau empat tahun, tapi ini mencapai rekor terbarunya.
Sontak saja Ranty langsung menoleh ke segala arah, ingin mencari Fabian, tapi nyata nya tidak ada laki-laki itu dimana-mana. Apakah tidak datang?
Sayang sekali kalau Fabian harus tidak datang karena Cindy, Amelia, dan Ranty sangat ingin melihat Fabian.
"Liat deh cantik banget ya Layla." Ujar Cindy dan Ranty langsung melihat sahabatnya lalu mengangguk.
Layla tampak cantik hari ini, akhirnya putri yang terus murung menemukan cinta sejatinya.
***
"Reno! Gila gila gue telat kayaknya," Fabian kelabakan melipat lengan kemeja nya dan Reno hanya bisa berdecak.
"Apa lagi? Emang kita ada meeting?" Tanya Reno sambil melihat jadwal Fabian dan tidak ada meeting yang harus dia datangi. Alias, dia bebas sekarang.
"Nikahan Layla!" Ujar Fabian histeris lalu memakai jam tangan nya, merapihkan rambutnya, serta memakai minyak wangi.
Reno berdecak, "Mau godain pengantin perempuan nya?" Tanya Reno.
"Nggak lah, cuma gue kan harus rapih." Jawab Fabian lalu tersenyum puas melihat dirinya dipantulan kaca.
Reno hanya berdecak dan mereka akhirnya keluar dari kantor mereka dan masuk ke dalam mobil Fabian. Laki-laki itu duduk di kursi penumpang belakang, sedangkan Reno menyetir.
Ya, hubungan Reno dan Fabian sekarang berubah, persahabatan mereka terus berlanjut namun Fabian kini menjabat sebagai CEO perusahaan dan Reno sekretaris dari Fabian, yang terus melayani Fabian dan membantunya.
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah gedung mewah tempat pernikahan Layla. Fabian turun dari mobilnya sedangkan Reno sibuk mencari parkiran.
Dengan setia, Fabian menunggu Reno di depan gedung dan akhirnya mereka masuk bersama.
Setelah masuk, langsung saja mereka berdua menjadi pusat perhatian. Reno yang gagah dengan jas hitam serta dasi nya. Dan Fabian yang tampan dengan lengan kemeja nya dilipat sampai siku.
Bahkan pagar ayu yang berjaga sampai terlempar pesona mereka berdua. Reno dan Fabian masuk dan melihat gedung ramai dengan banyak orang. Dia terdiam dan berjalan menuju ke panggung pengantin.
Namun, saat sedang berjalan dia berhenti sejenak karena melihat sesuatu yang menyita perhatian nya.
Dia melihat seorang gadis yang entah kenapa masih sangat dia sayangi sampai saat ini. Gadis itu sedang tertawa dengan seorang pria yang tak lain adalah Farel.
Tunggu..
Farel?
Fabian sontak langsung terkejut, jadi hubungan mereka awet sampai saat ini? Maka tak ada harapan untuk Fabian mendekati Ranty lagi?
Fabian langsung menepis pikiran itu, dia tidak boleh terus-terusan hanya terpaku dengan Ranty, masih banyak gadis diluar sana.
Fabian terus memperhatikan sampai akhirnya gadis itu pergi entah kemana bersama Farel. Fabian hanya menghela nafas, walaupun hanya sebentar, dia sangat senang dapat bertemu dengan Ranty.
Dan, gadis itu tampak cantik malam ini.
***
Ranty terbangun dari tidurnya dan langsung pergi ke kamar mandi setelah melihat jam. Hari ini, adalah hari pertama dia bekerja.
Dengan semangat empat lima Ranty siap datang ke tempat kerja nya. Dia tersenyum dan kemudian merias dirinya di depan cermin. Harus tampak cantik hari ini.
Ranty merapikan rambutnya dan mengoleskan sedikit lipstik di bibir tipisnya.
Sempurna.
Sekarang dia sudah siap. Ranty mengambil payung yang tergantung diatas pintu dan memasukkan nya ke dalam tas. Hari ini dia sudah sangat siap menunggu hari ini.
Ranty melihat gedung yang berdiri dengan kokoh, Sea Group memang sangat mewah dan salah satu perusahaan yang sukses, maka dari itu Ranty sangat beruntung bisa masuk dan bekerja di sana.
Sesampainya disana Ranty langsung disambut dengan orang-orang dari divisi G.
"Halo, nama saya Ranty. Mohon untuk kerja sama nya." Ujar Ranty dan semua orang-orang dari divisi G langsung menyambutnya dengan gembira.
"Halo, saya Claudia, ketua divisi ini apabila kamu ada kendala atau masalah bisa langsung tanyakan ke saya langsung ya." Ujar Claudia dan Ranty tersenyum.
"Baik mba." Jawab Ranty dan Claudia tersenyum lagi. "Silahkan kerjakan pekerjaan kamu." Ujar Claudia lalu menunjukkan dimana Ranty duduk.
Kubikel lucu yang sudah Ranty bayangkan kini sudah ada di depan matanya, dia langsung menarik kursi dan duduk disana. Di kursi barunya.
"Jam istirahat untuk makan siang jam setengah dua belas ya Ran." Ujar seseorang yang duduk berhadapan dengan nya.
Ranty tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya. Oke, jadi pekerjaan apa yang harus dia kerjakan di hari pertama?
***
Oke, ini hari pertama dan Ranty rasanya sudah mau meledak, semua orang di divisi ini sibuk bekerja, hening bahkan tidak ada suara sama sekali saat mereka bekerja. Paling seseorang yang ada di hadapan nya menyeletuk dan semua orang tertawa.
Tapi sumpah, pekerjaan ini sangat-sangat banyak, padahal kan Ranty anak baru disini, tapi sudah dikasih tanggung jawab yang besar dari Claudia. Entahlah, mungkin Claudia ingin melihat sejauh mana bakat Ranty.
"Begini mbak?" Ranty menyerahkan berkas yang sudah dia kerjakan setengah mati kepada Claudia. Gadis itu melihat hasil kerja Ranty dan tersenyum lebar.
"Bagus, aku mau minta salinan nya ya Ran." Ujar Claudia dan Ranty langsung mengganguk. Dia langsung berjalan menuju mesin fotocopy yang tak jauh dari tempat duduknya.
Ranty menghela nafas berat ketika mesin fotocopy itu berjalan, ternyata rasanya menyenangkan. Lelah karena bekerja rasanya sangat menyenangkan.
"Sepuluh menit lagi istirahat." Ujar seorang laki-laki petakilan itu bernama Robby. Ranty melihat jam tangan nya dan mengangguk, ya benar.
Rasanya Ranty sudah lama tidak meminum kopi, apalagi tadi dia lihat di seberang jalan ada kafe yang menyediakan kopi disana, Ranty jadi ingin mampir.
Setelah semua berkasnya sudah Ranty langsung menyerahkan nya kepada Claudia dan Claudia mengizinkan nya untuk mengisi perut terlebih dahulu.
"Yaah hujan."
Ranty melihat keluar jendela dan benar, hujan turun begitu derasnya. Ranty merogoh tas nya.
"Aku bawa payung, aku mau ke kafe. Ada yang mau nitip?" Tawar Ranty. Awalnya sepi sampai akhirnya mereka semua gembira.
"Americano semuanya aja kita, makasih banyak ya Ranty." Ujar Claudia dan Ranty tersenyum lebar.
Dia langsung pergi dari ruangan divisi G dan akhirnya nya masuk ke dalam lift. Ranty bersenandung kecil, jadi begini rasanya bekerja.
Pintu lift terbuka dan Ranty dengan cepat langsung keluar lift. Dia berjalan menuju luar kantor.
Dan sesampainya diluar dia langsung membuka payungnya lebar-lebar. Dia tersenyum, ternyata dirinya membawa payung pun ada manfaat nya, biasanya dia paling malas memakai payung.
Ranty melihat kafe itu di seberang kantor dan tersenyum, dia hendak menyeberang lalu berhenti saat melihat seorang laki-laki yang berdiri di seberang nya.
Laki-laki itu basah kuyup karena air hujan, dia berkali-kali menghubungi seseorang di telepon. Ranty terdiam, apakah laki-laki itu butuh pertolongan?
Ranty terus memperhatikan laki-laki itu sampai pada akhirnya dia sadar kalau laki-laki itu kedinginan. Kemeja tipisnya basah kuyup, dan Ranty tidak tega melihat itu.
Dia langsung menyeberang jalan dan memayungi laki-laki itu dengan payung nya.
"Ren, lo kemana aja sih?" Laki-laki itu mendongak dan kemudian terdiam menatap Ranty.
Laki-laki itu tampak terkejut dengan kedatangan Ranty dan Ranty sendiri jujur juga sangat terkejut dengan kedatangan laki-laki itu.
Dia tidak salah lihat kan? Apa yang ada di depannya ini bukan khayalan kan?
Fabian melihat Ranty berdiri di depan nya dengan payung yang melindungi mereka berdua dari hujan.