Chapter 5 : Pisah

2116 Kata
"Gue baru saja mau samperin lo." Ujar laki-laki yang ada di hadapan nya. Ranty terdiam sejenak lalu sesaat menghapus air matanya. "Ada apa?" Tanya Ranty penasaran dan Fabian hanya tersenyum, "Ikut gue yuk?" Tawarnya dan Ranty langsung mengerutkan dahinya. "Kemana?" Fabian hanya tersenyum dan jalan lebih dulu meninggalkan Ranty. Gadis itu terdiam mau kemana Fabian mengajaknya pergi? Lalu karena penasaran akhirnya Ranty mengikuti Fabian yang sekarang berjalan menuju parkiran. Laki-laki itu berhenti di depan mobilnya dan berjalan ke arah tempat duduk penumpang, dia membuka pintu dan melihat Ranty. Ranty hanya terdiam sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil Fabian. Laki-laki itu menutup pintu dan memutar, dia masuk ke dalam mobilnya. "Mau kemana?" Tanya Ranty dan Fabian hanya terdiam. "Lo nggak mau nyulik gue kan?" Tanya Ranty dan Fabian mulai menjalankan mobilnya. Fabian hanya fokus menyetir dan Ranty yang duduk di kursi penumpang was-was karena kenapa dia mau saja ikut bersama Fabian dan kenapa juga dia percaya kalau Fabian tidak akan melukainya? "Farel?" Fabian membuka suara. Ranty langsung melihat kearah laki-laki itu yang sedang fokus menyetir. Entah kenapa Fabian terasa lebih tampan saat dia menyetir seperti ini. "Maksud lo?" Tanya Ranty. "Lo nangis karena Farel?" Tanya Fabian berani bertanya dan Ranty langsung terdiam. Kenapa laki-laki ini blak-blakan sekali sih? Ranty hanya menghela nafas dan langsung terdiam. "Bisa nggak jangan bahas topik ini, lo salah besar tau nggak." Jawab Ranty dan Fabian hanya tertawa hambar. "Oke sorry." Ujar nya kemudian dan Ranty hanya tersenyum kecil. Mereka akhirnya sampai di toko ponsel langganan Fabian. Laki-laki itu turun dari mobilnya diikuti dengan Ranty. "Mau ngapain kesini?" Tanya Ranty dan Fabian hanya melihatnya. Fabian langsung menarik tangan Ranty untuk masuk ke dalam toko ponsel itu, sontak saja gadis itu tersentak kaget, karena tiba-tiba Fabian menariknya dengan sangat lembut. Ranty pun ikut masuk ke dalam karena jujur dia sangat terkejut sampai-sampai tidak bisa menolak ajakan Fabian. Fabian menyapa karyawan yang menjaga dan menyuruh Ranty untuk duduk di sampingnya. "Sorry karena udah rusakin hape lo, dan sekarang gue mau gantiin, gue nggak tenang kalau belum gantiin hape lo." Ujar Fabian dan Ranty terdiam seperti terhipnotis dengan kata-kata Fabian. "Eh, nggak usah!" Seakan baru tersadar akhirnya Ranty menggeleng dan menolak tawaran Fabian. "Kenapa?" Tanya nya dan Ranty hanya menggeleng. "Gue nggak mau, gue masih mampu beli kok." Jawa Ranty. Fabian tersenyum tipis, "Bukan itu maksud gue, gue cuma mau tanggung jawab aja." Ujarnya dan Ranty terdiam lagi. "Nggak, gue nggak mau. Udah gue balik ya." Ranty hendak saja ingin keluar dari toko kalau tidak ditaha oleh Fabian, laki-laki itu dengan cepat langsung menahan tangan Ranty yang hendak pergi. Ranty melihat tangan Fabian yang menahan nya, dengan cepat laki-laki itu langsung melepas tangan nya dan menatap Ranty sendu. "Please, gue mohon." Ujar Fabian memohon dan Ranty hanya bisa melihat wajah Fabian yang memelas, dia menghela nafas dan kembali duduk, dia hanya harus berpura-pura menerima tawaran Fabian dan akan mengembalikan uangnya besok. Ya besok, kalau dapat pinjaman dari ayahnya. Fabian dan Ranty akhirnya keluar daro toko ponsel itu dan Fabian langsung tersenyum senang, "Gue laper, kita makan dulu ya," Ujarnya enteng dan Ranty langsung ingin menolaknya, namun lagi-lagi Fabian menarik tangannya. "Nggak enak kan kalau perut kosong kayak gini pulang, gue cuma pengen ajak lo makan, nggak mau culik lo." Ujar Fabian tenang dan Ranty hanya menurut. Entah kenapa rasanya dia hanya terus menuruti apa kata Fabian. "Mau makan dimana?" Tanya Ranty dan Fabian terlihat bingung. "Gue tau makanan yang enak." Jawabnya dengan senyuman lalu akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pergi menuju tempat tujuan mereka. Hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Fabian memarkirkan mobilnya di supermarket. Ranty langsung turun ketika mobil Fabian sudah benar-benar terparkir dengan benar. "Disana, ada tukang lontong bumbu enak, gue suka banget makan di sini sama temen-temen gue." Ujar Fabian dan Ranty hanya mengangguk. Fabian langsung pergi menyebrang jalan dengan Ranty yang mengikutinya dari belakang. Ranty pikir orang seperti Fabian yang kaya hanya mau makan di restoran bintang lima. Tapi, ternyata Fabian malah membawanya ke tukang lontong bumbu yang hanya membuka warung kecil di pinggir jalan. Ranty menghela nafas syukurlah dia hanya dibawa kesini, kalau sampai ke restoran bintang lima pasti dia akan pingsan, bukan apa karena dia sama sekali tidak mengerti apa makanan yang orang-orang kaya masak. Baginya, ketoprak dan seblak sudah yang terbaik. "Mang, dua ya, eh suka pedes nggak Ran?" Tanya Fabian dan Ranty mengangguk. "Pedes dua, sambel nya yang banyak ya mang." Ujar Fabian dan abang-abang itu mengangguk. Ranty tersenyum kecil, membayangkan Fabian membuat diri jadi sedikit terkekeh. Ternyata Fabian tidak seburuk itu. "Kenapa?" Fabian menegurnya dan Ranty langsung menggeleng lalu tersenyum. Fabian melihat senyuman Ranty dan entah kenapa langsung menular kepadanya, dia langsung ikut tersenyum dan kemudian menunduk malu. Pulang dari sini dia harus memeluk Reno karena terlalu senang, akhirnya dia bisa bersama Ranty, pujaan hatinya yang terus dia tunggu bahkan sampai salah mendekati orang. Tapi kini, Fabian rasanya ingin terbang. Dia terlalu senang sampai jadi gila. "Ini mas, mbak." Ranty menerima sepiring lontong bumbu itu dan langsung menyelipkan rambutnya ke belakang telinga membuat Fabian melongo. Gerakan tadi sangat membuat Fabian terpana, caranya menyelipkan rambut membuat Fabian gila. Bukanya menyantap makanan Fabian malah semakin jatuh hati dengan Ranty saat itu juga. Entahlah, kharisma Ranty sangat membuatnya gila. "Hm, enak." Ranty mengangguk dan Fabian jadi tersenyum lebar. Ternyata gadis itu suka dengan lontong bumbu langganan nya ini. "Iya emang, ini tuh udah terjamin gitu enaknya, maaf ya kalau cuma gue ajak makan disini." Ujar Fabian lalu terkekeh membuat Ranty langsung menoleh kearah nya. Gadis itu ikut tertawa, "Gue emang sukanya makan di tempat kayak gini kok," Jawab Ranty dan Fabian langsung tampak terkejut. Ini cewek, benar-benar tipe nya. Bahkan Ranty sama sekali tidak mengeluh untuk diajak makan di tempat seperti ini. "Kok lo suka nya makan tempat kayak gini? Kan kotor." Ujar Fabian. "Ya, tapi kan enak. Dateng, makan, habis makan langsung pulang. Kalau di restoran gede, bingung milih menu nya, mahal, makanya juga harus anggun dan cantik. Gue nggak bisa soalnya kayak gitu, hehe." Jawab Ranty terkekeh lalu Fabian ikut tertawa. Unik. Dia suka Ranty. Akhirnya mereka menikmati makanan mereka dengan sedikit canda tawa yang keluar, Ranty pun jari merasakan kalau Fabian tidak seburuk yang dia fikirkan. Hari sudah semakin larut, ini sudah sore dan Fabian mengantar Ranty pulang sampai rumahnya. "Makasih ya." Ujar Ranty dengan senyuman dan laki-laki itu membalas senyuman nya. "Sorry ya udah jatuhin hape lo." Ranty hanya mengulum senyum, "Iya, nggak apa-apa." Jawabnya lalu kemudian langsung turun dari mobil Fabian. Fabian menurunkan kaca mobilnya dan melihat Ranty yang masih disana, "Malem Ran." "Hm, Fab!" Ranty memanggil laki-laki itu. "Ya?" "Tolong rahasiain gue nangis karena Farel ya." Ujar Ranty dan Fabian mengangguk. "Siap! Rahasia aman!" Jawabnya dan kemudian melambai kearah Ranty. Ranty hanya tersenyum dan membalas lambaian kecil. Hingga akhirnya Fabian pergi dari sekitar rumahnya. Ranty menghela nafas panjang, entah kenapa hari ini dia bisa dekat dengan Fabian hanya dalam waktu beberapa jam. Apakah itu bisa dibilang dekat? *** "Gue tadi ngajak jalan Ranty!! Lo pasti nggak percaya Bi, tapi ini beneran dan gue seneng banget kita bisa akrab." Ujar Fabian antusias, dia berbicara dengan Reno lewat telepon dan sekarang dia sedang kegirangan di dalam mobilnya. "Oh jadi tadi lo ninggalin gue karena itu? Gila ya lo babi, kabarin kek apa kek, gue nungguin tau!" Reno malah mengomel dan Fabian jadi tertawa. "Gue mau nembak dia besok." "HEEEE!!" Reno berteriak nyaring. "Nggak nembak sih cuma nyatain kalau gue suka sama dia selama ini, udah gitu aja." Ujar Fabian dengan entengnya. "Lo gila sih kalau langsung main nembak gitu aja, oke bukan nembak tapi nyatain perasaan, kecepetan bego tau nggak sih lo!" Omel Reno dan tampaknya Fabian sama sekali tidak peduli dengan apa kata sahabatnya itu. "Gue mau ngungkapin perasaan titik!" Ujar Fabian dan Reno hanya berdecak. "Terserah lo deh gila." Ujar sahabatnya lalu memutuskan sambungan sepihak. Fabian tau pasti dirinya akan dianggap aneh, tapi dia tidak bisa menahan lebih lama lagi, dia sangat suka kepada Ranty sejak pertama masuk kampus dan untuk mendekati gadis itu sangat susah sekali.  Tapi dengan nekat yang kuat dia akan mendatangi Ranty dan mengatakannya. *** Ranty mengendap masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Dia melihat ayahnya yang terlihat sibuk memperhatikan berkas-berkas. Ranty menghela nafas panjang, bagaimana dan apa yang harus dia katakan nanti dengan ayahnya? "Yah." Ranty memanggil. "Iya?" Ayahnya langsung memasukkan berkas-berkas itu kembali dan melihat anak putrinya sudah berdiri di depan pintu kerjanya. Ranty terdiam sebentar, "Handphone Ranty rusak, tolongin Ranty yah, Ranty mau beli yang baru tapi kurang." Ujarnya takut-takut dan ayahnya hanya dapat memandnagnya. "Berapa?" Tanya ayahnya dan Ranty langsung memasang wajah gembira, akhirnya ayahnya mau membantunya meringankan uang tabungan nya. "Lima juta?" Tanya Ranty dan ayahnya mengangguk. "Nanti ayah transfer aja ya." Ujar ayahnya dan Ranty tersenyum puas, "Makasih ayah!" Ujarnya lalu kemudian masuk ke dalam kamar nya. Ranty menjatuhkan badanya diatas kasur, dia menatap ponsel barunya yang dibeli dengan uang Fabian, entah kenapa semuanya menjadi terbayang-bayang. Ranty yang tidak pernah membayangkan kalau Fabian akan menjadi dekat denganya dalam waktu beberapa jam saja. Line! Satu pesan masuk. Rantu membuka isi pesan itu dan melihat Farel yang mengirimka pesan untuknya. "Indri udah punya tunangan." Begitu isi pesan Farel dan dapat membuat Ranty terdiam. *** Ranty berjalan di lorong kampus sambil terus tersenyum, seakan senyum itu tidak akan pernah luntur di wajahnya. Tanpa dia tau bahwa gadis seanggun dan secantik Indri ternyata sudah punya tunangan. Entahlah, rasanya sangat senang. Ranty melihat Farel yang sedang berdiri di depan kelasnya. Laki-laki itu tersenyum ketika melihat Ranty dan gadis itu membalas senyuman nya. "Yuk ke kantin." Farel langsung merangkul Ranty mendekat dan akhirnya mereka berdua pergi bersama. Sedangkan, Fabian sibuk dengan kata-kata yang harus dia hafal ketika nanti bertemu dengan Ranty. Dengan tekad yang kuat dia berani menyatakan perasaan nya dengan Ranty. Membayangkan nya sedikit saja sudah membuat Fabian sangat sangat bahagia. Apalagi jika nanti saat dia mengungkapkan semuanya? Pasti hatinya sudah lega karena sudah mengatakan apa yang selama ini terpendam. Masalah ditolak atau diterima, itu urusan belakangan, Fabian tidak terlalu memikirkan tentang itu. "Udah mau masuk kelas lo kan bi." Reno tau-tau datang dan Fabian mengangguk. "Nanggung, gue bingung apa yang bakal gue omongin pas Ranty ada disini." Ujar Fabian dan Reno langsung tertawa. "Bilang aja suka, nggak usah banyak cingcong." Ujar Reno lalu memakan kacang dengan lahap. Fabian terdiam sebentar dan kemudian kembali menyusun kata. "Lo tau Indri kan?" "Hm." "Kemarin, tunangan dia dateng." Ujar Reno dan seketika Fabian langsung menegang. Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya melihat Reno dengan tatapan horor. "Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Reno. "Indri udah punya tunangan?" Tanya Fabian raut wajahnya langsung berubah kecewa. Reno terdiam sebentar sebelum akhirnya dia terbahak. "Lo suka sama Indri juga? Kebanyakan suka sama cewek lo." Ujar Reno tertawa tapi Fabian tetap terdiam. Kalau Indri sudah punya tunangan, maka Farel tidak jadi mendekati Indri dan Ranty pasti akan kembali dengan Farel, kembali berharap dengan laki-laki itu. Tanpa basa basi Fabian langsung pergi dari hadapan Reno dan kemudian sibuk berlari di lorong kampus. Dia mencari sosok Ranty yang tidak dia lihat sedari pagi. Fabian menghentikan langkah nya ketika akhirnya dia berhadapan langsung dengan Ranty. Gadis itu baru saja keluar dari ruang baca. "Fabian, ah syukurlah ketemu lo disini, gue mau ngasih ini." Ranty tersenyum lalu merogoh tas nya. Dia mengeluarkan amplop tebal berwarna putih, "Biaya hape gue kemarin, maaf ya kalau misalnya kemarin ngerepotin." Ujar Ranty lalu memberikan  amplop itu kepada Fabian. Fabian terdiam menatap amplop itu, "Eh nggak us-" "Kalau lo nggak mau nerima buang aja nggak apa-apa." Ujar Ranty tersenyum kecil, seakan tau kalau misalnya Fabian tidak akan membuang uang itu. "Duluan ya Fab." Ranty hendak berbalik namun dengan cepat Fabian menahan tangan nya. "Farel." "Iya?" "Indri udah punya tunangan kan?" Tanya nya dan Ranty langsung tersenyum lebar. "Iya, dan gue seneng banget. Cinta gue masih gue harap. Oiya Fabian, gue harap lo nggak bilang-bilang masalah kemarin ya." Ujar Ranty dan Fabian hanya bisa terdiam, tubuhnya lemas. "Duluan ya." Ujar Ranty lalu benar-benar pergi dari hadapannya. *** Fabian jalan keluar kampus dengan tubuh lemas, seperti tidak ada semangat di dalam hidupnya, ya memang tidak ada untuk saat ini. Reno bahkan dia diamkan habis-habisan selama dik elas tadi, hari ini Fabian benar-benar tidak mau diganggu siapapun. "Ranty!" Seseorang memanggil nama gadis itu sontak Fabian langsung mendongak dan melihat Ranty yang sedang berlari kearah seorang laki-laki yang sepertinya sudah menunggu nya. "Gimana tadi?" Tanya laki-laki itu. "Baik." Ujar Ranty. "Pinter, sini peluk dulu." Tanpa ragu-ragu Ranty langsung memeluk tubuh Farel, tepat dihadapan Fabian sendiri. Dan rasanya Fabian ingin menghilang saja. Dia sadar, dirinya terlalu egois. Mungkin penantian dirinya selama ini tidak ada apa-apa nya dibandingkan penantian Ranty selama ini untuk mendapatkan Farel. Ya. Mulai hari ini dia harus melupakan gadis itu. Ranty berhak bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN