Tepat jam 10 malam, Geundis pun mulai berkeliling di lantai tiga. Seperti saat kemarin malam dia keliling di lantai itu, malam ini pun suasananya masih terasa mencekam sampai selama berkeliling Geundis terus memeluk dirinya sendiri karena merasa di lantai itu hawanya begitu dingin. Namun, Geundis mencoba mengabaikan. Dia tetap berkeliling memeriksa kamar pasien demi menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Satu demi satu ruang inap pasien yang dihuni beberapa pasien rawat inap diperiksa oleh Geundis. Semuanya berjalan lancar tanpa kendala apa pun, sampai sesuatu yang janggal baru Geundis rasakan ketika dia akan memeriksa pasien di bangsal Anggrek kamar nomor 6. Geundis seketika menghentikan langkah saat dari kejauhan dia melihat ada sosok pria yang berdiri di depan pintu kamar itu. “Sia

