Elvan sekarang sedang belanja beberapa barang untuk keperluan event bersama Mawar. Sebenarnya ini tugasnya seksi perlengkapan, tetapi Mawar memaksa agar bisa pergi bersama Elvan. Untungnya saja Karin memberikan izin. Namun, ya seperti yang kalian tahu Elvan itu jutek. Jadi, semua barang belanjaan ya dibawa sama Mawar.
“Elvan, tolong bantuin gue bawa,” ucap Mawar manja. Elvan cuma menatapnya sekilas, lalu berjalan mendahului Mawar.
Mawar hanya bisa mengerutu sebal, karena Elvan yang tak memerdulikannya. Padahal rencananya ia mau PDKT dengan Elvan. Tiba-tiba otak licik Mawar mendapatkan sebuah ide cermelang. Dengan sengaja ia menjatuhkan belanjaannya lalu ia meringis sambil memegang perutnya.
“Aw!” pekik Mawar yang mengundang seluruh perhatian. Alhasil Elvan yang sudah berjalan diluan akhirnya kembali menghampiri Mawar walaupun dengan wajah yang datar, tetapi Elvan tetap khawatir. Jangan sampai anak orang mati dan Elvan yang dijadikan tersangka. Oh, jangan sampai. Dia saja belum memiliki anak dan menjadi orang sukses.
Elvan akhirnya menenteng semua belanjaan dan mengajak mawar untuk makan terlebih dahulu. Dalam hati Mawar berteriak kesenangan.
Sampai di Starbuck mereka hanya Mawar yang memesan makanan, sedangkan Elvan dia hanya memesan minuman karena ia sama sekali tidak lapar. Saat Elvan lagi sibuk mainin hpnya Mawar memfoto Elvan dan mem-posting-nya di i********:. Sengaja untuk memanas-manasi Karin. Dia bahkan membuat caption
“Hanya butuh waktu untuk berdua.”
Sadar jika Mawar tak menyentuh makanannya, Elvan langsung menatapnya tajam. “Lo gak makan?”
“I—ini gue mau makan.”
Elvan tak lagi menggubris dan kembali asyik memainkan ponsel genggamnya. Mawar diam-dia tersenyum kecil ini masih permulaan, intinya Mawar benar-benar akan membuat Elvan jatuh ketangannya
***
Karin’s POV
Apa yang akan kalian lakuakan saat melihat posting-an seorang cewek yang lagi jalan bareng pacar atau pasangan kalian? Pasti rasanya kalian mau ngamuk, iya 'kan.
Itu yang gue rasakan sekarang ini. Gue pengen banget punya rasanya nampol tuh cewek sama Elvan. Sebenarnya Elvan udah bilang sama gue kalau misalkan untuk beberapa hari ke depan sama event OSIS berlangsung dia bakalan super sibuk. Dia juga minta izin sama gue karena dia bakalan sering keluar bareng Kak Mawar karena dia bendahara untuk event ini jadi kalau mau beli sesuatu itu harus ditemanin Elvan.
Gue sih gak masalah ya, karena gue percaya sama Elvan, tapi waktu gue ngelihat posting-an Kak Mawar yang lagi nongkrong bareng Elvan di Starbuck berhasil ngebuat api cemburu membakar hati gue. Masalahnya bukan karena mereka nongkrong berdua tapi karena caption-nya itu loh, “Hanya butuh waktu untuk berdua”.
What The Hell?!
Si Mawar itu'kan tahu Elvan udah punya pacar yang sebenarnya adalah istrinya Elvan. Seharuanya dia enggak ngepost foto kayak gitu
Karena gue terlanjur kesel jadinya gue pergi ke rumah papa, untung aja Papa masih kerja jadi cuma ada bik Ijah aja. Jadi, bokap mulai nyewa pembantu semenjak gue nikah, itu saran gue biar rumah enggak sepi dan bokap juga bisa santai.
“Non Karin tumben ke sini?” tanya bik Ijah.
“Malas di rumah bibi k sepi.”
“kunaon kok tiiseun?Naha jadi ngalamun?” tanya Bi Ijah lagi, gue cuma masang muka. 'maksud bibi apa ya?'
“Maksud bibi teh, kenapa bisa sepi?”
“Elvan belum pulang.”
“Tuan Elvan teh masih sekolah, kenapa belum pulang juga atuh? Kayak tuan Kevin saja.” Btw, nama bokap gue Kevin. Bukan Kevin Sanjaya pebulu tangkis itu ya, tapi Kevin Hendra Sanjaya.
“Dia 'kan ketua OSIS, Bik.”
“Oh … begitu. Ya udah bibi teh mau lanjut bersihin dapur, non Karin kalau mau sesuatu panggil bibi aja,” ucap bibi yang gue tanggapin dengan mengacungkan jempol gue.
Gue pergi ke kamar lama gue terus bernostalgia sebentar ngingat-ngingat apa yang pernah gue lakuin di kamar ini. Sekalian mau ngelupain masalah gue sama Elvan, karena capek berdiri gue baringin badan gue dikasur, terus menjamin mata gue. Tidur bentar gak pa-pa kali yak?
Nyawa gue mulai ngilang-ngilang tiba-tiba telepon gue bunyi. Mau gue banting aja rasanya nih Hp, tapi sayang mahal.
“Halo.”
“Kamu di mana?” tanya orang di seberang sana dingin.
“Di rumah Papa.”
“Pulang.”
“Enggak! Kamu ‘kan butuh waktu berdua sama Kak Mawar.”
“Kamu ngomong apa sih?”
“Udah ah! Aku mau tidur jangan ganggu aku.”
“Aku demam.” Setelah Elvan ngomong itu dia langsung putusin sambungannya sedangkan gue langsung sadar dan langsung mau pulang ke rumah.
Bi Ijah yang ngelihat gue lari kayak orang kesetanan cuma bisa cengo aja. Gue bodoh amatinlah, suami gue lagi sakit ini, ya Lord. Gak usah pikirin yang lain dulu gue harus segera pulang, gue garus ngobatin Elvan.