Episode Tanpa Judul
Bab. 1
"Saya perhatikan, akhir akhir ini pekerjaan Raihan kurang memuaskan, apa kamu tahu alasannya? Barangkali, dia ada masalah pribadi dengan seseorang atau dengan ... kamu?" tanya Pak Karta, —atasan Raihan— pada Karina yang tidak lain adalah teman kerja sekaligus pacar dari Raihan.
"Emm, kalau dengan saya sih, tidak ada, Pak. Hubungan kami baik baik saja. Nanti saya coba tanyakan pada Raihan," jawab Karin dengan sopan.
"Baik. Kemarin saya juga sudah menanyakan ini pada Raihan, tapi di bilang tidak ada apa apa, hanya saja beberapa hari ini dia kurang istirahat karena susah tidur. Maka dari itu, sekarang saya tanya sama kamu, barangkali kamu sebagai pacarnya tahu sesuatu." Pak Karta mengambil secangkir kopi di meja, lalu menyeruputnya pelan.
"Kamu tahu sendiri, 'kan? Kehadiran Raihan itu sangat penting di perusahaan ini, ide-ide yang dia berikan sangat berpengaruh bagi perkembangan perusahaan. Terbukti kurang dari setahun dia masuk ke sini, tapi sudah membawa perkembangan yang cukup signifikan," sambung pak Karta.
"Saya mengerti, Pak. Saya akan membicarakan ini dengan Raihan, dan akan berusaha menemukan solusinya," Karin berusaha tersenyum setenang mungkin. Walaupun sebenarnya dia juga merasa cemas. Jika pak Karta saja bisa merasakan perubahan Raihan, tentu dia sebagai pacarnya juga merasakan itu lebih dulu.
Beberapa hari terakhir, Raihan memang terlihat aneh. Dia tak seperti biasanya. Dia, sering terlihat murung dan banyak melamun. Saat diajak bicara pun, Raihan kurang memperhatikan lawan bicaranya.
Karin membasuh mukanya di wastafel kantor, berusaha menghilangkan ke khawatirannya. Lalu, dia mengambil hp di slim bag miliknya dan mengetik sebuah pesan untuk Raihan.
"Malam nanti ada acara tidak? bisa kita bertemu?"
Beberapa menit berlalu, pesan itu belum juga dibalas. Padahal Raihan sudah membacanya. Karin makin cemas, air wastafel tak mampu mendinginkan suasana hatinya. Ia memilih kembali ke ruang kerja.
Sementara di Ruangan lain di lantai bawah, Raihan Adiwijaya tengah berdiri di dekat jendela, menatap langit yang cerah tanpa awan. Seketika ia menoleh saat bunyi notifikasi terdengar dari ponsel nya yang tergeletak di atas meja kerja.
Raihan berjalan mendekat, mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi hijau, dan dia melihat banyak pesan masuk baru yang dikirim Karin, tapi dia enggan membalasnya. Sekarang ini, dia sedang merasa malas melakukan apapun, termasuk sekadar membalas pesan Karin.
Suasana hatinya sedang tidak karuan, dia sendiri bingung kenapa bisa begitu. Biasanya, saat ada masalah dengan Karin pun, Raihan masih bisa konsentrasi bekerja dan tetap semangat melakukan banyak hal, tapi kali ini tidak.
Selama ini, Raihan belum pernah mengecewakan Karin. Kalau Karin mengajak bertemu, Raihan selalu mengiyakan. lalu saat ini, ketika Raihan tak membalas pesan Karin, Karin mulai gelisah, ia kelimpungan sendiri. Berbagai prasangka datang menghampiri, apakah Raihan sedang ada masalah? Apa dia mulai bosan dengannya? Atau ... ada hal lain? Karin tampak frustasi memikirkan semua itu.
Raihan kembali menatap atap bumi, ia menimang-nimang balasan apa yang akan dia berikan pada Karin, karena sebenarnya saat ini dia sedang ingin sendirian.
Hubungan Karin dan Raihan berjalan bukan atas kehendak Raihan sendiri. Karin adalah wanita pilihan orang tua Raihan, lebih tepatnya pilihan sang ayah. Ayahnya bilang, Karin adalah gadis yang baik, berpendidikan dan berasal dari keluarga baik baik. Pasti Karin akan cocok dengan Raihan.
Raihan menurut saja, menjalani hubungan dengan Karin walau dirinya belum punya perasaan khusus pada wanita pilihan ayahnya itu.
Secara umum, Karin memang gadis yang baik, terlebih dia memang cantik dengan tubuh yang tinggi semampai, mata Hazel yang indah dan senyum yang mampu menawan lawan jenis. Dia hampir sempurna, hanya saja terkadang dia sedikit angkuh. Ya, mungkin karena di berasal dari kalangan keluarga kaya.
Sebenarnya, Raihan lebih nyaman menjadikan Karin sebagai temannya, tapi dia berusaha untuk mencintai Karin demi menghormati keputusan orang tuanya. Walaupun nyatanya, dua tahun menjalani hubungan benih benih cinta itu belum juga tumbuh.
Malam ini, Karin bersiap bertemu dengan Raihan, tadi siang setelah hampir satu jam dirinya cemas menanti balasan dari kekasihnya, akhirnya Raihan mau bertemu.
"Sudah lama menunggu?" Raihan berdiri di depan Karin yang sudah duduk dan memesan beberapa makanan.
"Iya, tidak juga. Apa jalannya macet?" Karin mendongak sekilas lalu menunduk. Sudah satu jam dia menunggu di sini. Biasanya, Raihan tak pernah terlambat, kalaupun sampai terlambat paling cuman lima menit, tapi ini? Karin semakin yakin, ada sesuatu yang terjadi dengan Raihan.
"Tidak, hanya saja, tadi aku lupa kalau kita ada janji untuk bertemu," Raihan kini sudah duduk di depan Karin, ada sedikit penyesalan di raut wajahnya dan juga rasa tidak enak pada Karin.
Karin menatap Raihan tak percaya. Dia lupa? Seorang Raihan melupakan janji dengan pacarnya sendiri yang baru di buat siang tadi? Karin menghela napas nya.
"Raihan, apa kamu sedang dalam masalah?" tanya Karin dengan hati-hati.
"Kenapa bertanya begitu?" Raihan menatap karin penuh tanya.
"Tidak papa. Hanya saja, akhir akhir ini, kamu terlihat sedikit berbeda. Kamu, sering terlihat murung dan melamun. Apa ada kamu sedang ada masalah?"
Raihan masih bergeming. Apa yang harus dia katakan? Dia sendiri tidak tau, kenapa sekarang dia jadi seperti ini. Tidak nafsu makan, tidak konsentrasi saat bekerja, dan tidak berminat melakukan apapun.
"Raihan ...?"
"Emmm, iya itu-"
"Kalau kamu memang sedang ada masalah, kamu bisa menceritakan itu padaku, aku siap menjadi pendengar yang baik, mungkin kau bisa membantumu?" ucap Karin berusaha selembut mungkin, padahal aslinya dia sudah sangat kesal, ingin tahu apa yang membuat Raihan seperti ini.
"Tidak ada apa-apa, terimaksih karena telah perhatian padaku. Aku, baik-baik saja," ucap Raihan.
Jawaban Raihan tak membuat Karin puas, dia justru semakin penasaran. Tapi dia harus bersabar, mungkin dia harus mencari tahu sendiri secara diam diam .
Tak ada percakapan lagi diantara mereka. Setelah selesai makan, Raihan mengantarkan Karin pulang. Di dalam mobil selama perjalanan, Karin berusaha mengusir rasa sepi karena Raihan masih saja bergeming dengan menyetel musik.
Lagu dimainkan, Raihan ikut mendengarkan lagu itu, suasana hatinya justru semakin tidak karuan setelah mendengar lagu itu. Karena lagu itu mengingatkan Raihan pada seseorang. Mereka akhirnya sampai di rumah Karin saat lagu itu hampir selesai, Saat akan keluar, Karin sekilas melihat Raihan mengusap air matanya, dia menangis
"Kamu menangis?" tanya Karin, dia tidak jadi turun dari mobil.
"Tidak, ini hanya, kelilipan. Mataku sakit." Raihan tersenyum.
Cih, kelilipan katanya? Bagaimana bisa dia kelilipan saat berada di dalam mobil yang semua pintu dan jendelanya tertutup.
Lagi-lagi Karin hanya bisa menghela napasnya.
"Baiklah, hati-hati di jalan, ya! Aku masuk dulu," ucap Karin saat dia sudah berada di depan gerbang.
"Ya," Raihan tersenyum dan melajukan mobilnya meninggalkan Karin yang masih mematung menatap langit yang gelap tanpa bintang.
Sampai di rumah, Raihan merebahkan tubuhnya . Mengingat kejadian seminggu yang lalu.
Flash Back.
Raihan sedang ada janji di sebuah cafe milik temannya, dia sengaja datang lebih awal. Saat memesan minuman, ternyata pelayan yang menghampirinya adalah Rania cinta pertamanya.
"Rania?" batin Raihan.
Raihan begitu terkejut saat dia melihat Rania lah yang membawakan minuman untuknya.
Rania, Gadis manis itulah yang pernah mengisi ruang hati Raihan, seseorang yang pernah membuat Raihan selalu merasa bahagia, seseorang yang membuat Raihan bangun lebih awal supaya bisa cepat bertemu dan melepas rindu, Sekaligus seseorang yang sudah menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.
Mereka berdua saling tatap, keduanya terlihat sama-sama terkejut. Dan Rania, dia langsung buru-buru pergi setelah menaruh minuman pesanan Raihan.
Flash Back Selesai.
Tes!
Ari mata Raihan menetes mengingat kejadian itu.
"Kenapa Rania? Kenapa kamu pergi meninggalkanku yang saat itu sedang sekarat, padahal aku berjuang untuk tetap hidup itu demi kamu, demi tetap bisa bersamamu. Tapi saat aku membuka mata, kamu justru tidak ada." ucap Raihan bermonolog.