Flash Back Tujuh Tahun Silam
Siswa siswi di SMK Sejahtera sedang berkumpul di lapangan basket sekolah. Hari ini, ada pertandingan antar sekolah yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali.
Pada tahun ini, SMK Sejahtera menjadi tuan rumahnya. Beberapa anggota OSIS di dampingi guru sibuk menyiapkan segala keperluan pertandingan. Meja di letakan di sisi kiri dan kanan lapangan, juga dengan beberapa kursi untuk tempat duduk para guru pelatih basket. Lalu ada papan skor yang diletakan di samping meja.
Jadwal hari ini pertandingan antara SMK Sejahtera sendiri dengan SMK Sentosa. Lalu siapa yang menang akan melaju ke babak final bertemu SMK Makmur Jaya.
Satu bis mini memasuki halaman SMK, para siswa lengkap dengan pakaian basket turun dari sana. Beberapa siswi bisik bisik saat seorang siswa dari SMK Sentosa melintas di hadapan mereka.
"Eh, eh, itu siapa ya ?"
"Ganteng banget, yah ?"
"Kayaknya murid bari deh, soalnya pas tanding tahun kemarin dan kemarinya lagi, dia gak ada,"
Rania selaku ketua OSIS yang tentu saja harus ada di sana menengok ke arah siswa yang dimaksud teman-temannya, ya, ada siswa cukup tampan sedang mengambil bola, kulitnya tidak putih tapi bersih, mata elang nya menawan dan hidung yang mancung, dan senyum yang manis saat ia bercanda dengan teman temannya.
Pertandingan sudah di mulai, SMK Sentosa memimpin. Siswa siswi SMK Sejahtera bersorak menyemangati tim mereka supaya bisa mnyusul ketertinggalan. Pertandingan semakin menegangkan.
"Bug !" Tiba tiba saja bola mengenai kepala Rania, seorang pemain yang hendak mengoper bola ke temannya meleset menegenai Rania yang berdiri di pinggir lapangan.
Rania yang tidak siap akan datangnya bola terhuyung hampir jatuh, ia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu gak papa Ran ?" tanya Ani -sahabat Rania- .
"Aduh ... lumayan sakit sih, ini," ucap Rania sambil memijat-mijat kepalanya.
"Ke UKS aja, yuk !" Ani berjalan sambil memapah Rania.
Hari ini Rania merasa sial sekali, sudah tadi dia bangun kesiangan, buru-buru sampai tidak sarapan tapi tetap saja terlambat dan di hukum lari keliling lapangan, eh, sekarang malah terkena bola basket. Kurang lengkap apalagi coba penderitaanya hari ini.
"An, itu cowo nomer punggung q
10 siapa sih ? Anak baru, ya ?" tanya Rania.
"Kenapa emangnya ? Kamu naksir, ya ?" jawab Ani penuh curiga.
"Dih ... apaan. Baru juga lihat masa udah suka, kenal juga engga. Cuman baru lihat aja, kakak kamu kan satu tim sama dia siapa tau kamu ngerti, gitu," Rania melepas sepatunya lalu berbaring.
"Iya sih, tapi aku gak tau, Ran."
Rania masih terus memijat kepalanya, rasanya pusing sekali. Mungkin karena Rania juga belum sarapan, baru saja dia mau meminta tolong Ani untuk memebelikan makanan, tapi Ani sudah pamit duluan, dia harus mengikuti rapat PMR .
Rania masih berbaring sambil menatap langit langit ruang UKS, Terdengar suara teriakan siswi yang menjerit kecewa saat bola gagal masuk ke keranjang. Dan suara khas Pak Danu yang merdu, sebagai pembawa acara pertandingan terdengar seperti dongeng pengantar tidur.
Tak terasa sudah dua jam Rania tertidur di UKS, saat dia membuka matanya, susana sekolah sudah sepi. Teriakan teriakan siswa siswi yang menyemangati tim basket sudah tidak terdengar, suara pembawa acara yang memandu jalannya pertandingan pun sudah tak ada. Dia berusaha duduk, sakit di kepalanya sudah membaik.
Benar saja, saat Rania keluar dari UKS hanya tinggal beberapa siswa yang masih di sana. Lapangan basket sudah sepi dan semua perlengkapan pertandingan sudah di bereskan. Ia mengedarkan pandangan, mencari sosok Ani, namun nihil.
"Aduh, kayaknya Ani sudah pulang," Rania berjalan perlahan menuju gerbang sekolah.
Tiba tiba seseorang menyejajari langkahnya. Aroma Maskulin menyeruak saat dia mendekat.
"Sudah baikan ?" katanya.
Rania berhenti, dia menatap lelaki yang mengenakan kaos tim basket dengan nomor punggung 10 yang ikut berhenti dan sedang menatapnya lekat.
"Iya, sudah mendingan." Rania melanjutkan langkahnya.
"Aku mau minta maaf, tadi aku gak sengaja,"
"Gak papa, kok. Kamu kan engga sengaja." Rania tersenyum.
"Kruk ... kruk," tiba tiba perut Rania berbunyi. Lelaki itu sontak tertawa.
"Ayo, aku traktir kamu makan sebagai permintaan maaf," ucap nya.
"Emm nggak usah, aku lagi buru buru, aku sudah ada janji akan balajar kelompok," jawab Rania lalu pergi meninggalkan lelaki itu begitu saja.
Tentu saja itu hanya alasan, belajar kelompok untuk apa jika Ujian semester sudah dilakukan seminggu yang lalu, dan sebentar lagi liburan akan tiba. Rania hanya mengingat pesan ibunya. Jangan mau diajak pergi dengan orang asing !
Rania duduk di halte bus. Setelah lima menit menunggu bus kuning yang dia tunggu datang. Rania duduk sambil mendengarkan lagu di earphone.
Setelah melewati jalan lingkar, Rania berdiri menuju pintu, dia menyebutkan sebuah kedai dan kondektur bus pun mengetuk pintu kaca dengan koin logam sebagai kode pada supir bus untuk berhenti.
Rania melangkah turun dari bus lalu merapikan rok dan bajunya yang sedikit kusut. Matanya menatap jejeran kedai yang ada di hadapannya. Ia sangat kelaparan.
Setelah lama berfikir, akhirnya Rania memutuskan untuk makan bakso. Saat ia sedang asik mengunyah anak bakso, tiba tiba seseorang duduk di kursi yang ada di depannya.
"Oh, jadi belajar kelompoknya di sini," ucap lelaki itu dengan nada dibuat buat.
"Uhuk uhuk." Rania tersedak, lelaki di depannya dengan cekatan menyodorkan es teh manis kepada Rania.
"Pelan-pelan kalau makan, tenang aja, aku gak bakalan minta, kok." ucap lelaki itu.
Muka rania memerah menahan malu, bagaimana tidak ? Dia menolak ajakan makan siang sebagai permintaan maaf dengan alasan akan belajar kelompok, tapi malah tertangkap basah sedang makan bakso di sini. Tunggu, bagaimana bisa dia ada di sini ?
"Kamu ngikutin aku ?," tanya Rania setelah dia meneguk habis teh manis dalam gelas yang masih penuh itu.
"Aku cuman mau mastiin, kalau kamu baik-baik saja, saya takut kalau kamu pingsan di jalan," ucap lelaki itu dengan senyum manis yang menawan. Beberapa detik Rania menatapnya tanpa berkedip.
"Tutup mulutnya ! saya memang ganteng, tapi jangan sampai melongo begitu nanti ada lalat yang masuk," lelaki itu terkekeh .
Sial. Rania mati kutu, wajahnya merona menahan malu.
"Saya, Raihan ... kamu ?" Lelaki bernama Raihan itu mengulurkan tangannya.
"Rania,"
"Putri yang cantik,"
"Apa ?" tanya Rania mendongak, karena Raihan sudah berdiri.
"Arti nama kamu, Putri yang cantik. sesuai dengan orang nya,"
Raihan mengambil tas nya yang tadi dia letakan di lantai.
"Aku harus pergi, ada les bahasa Inggris. Sebenarnya sudah telat, karena aku memastikan kamu baik baik saja. Sampai jumpa besok," ucapnya lalu meninggalakan Rania yang geleng geleng kepala.
"Besok ? Bukannya pertandingan final akan diadakan lusa ?"