Hari minggu yang mendung, Rania sudah ada janji dengan Ani untuk sama sama mengikuti acara donor darah.
Dia berdiri di depa cermin, mengoleskan sun screen lalu menggunakan lip gloss tipis tipis di bibirnya yang mungil.
Tiba tiba bunyi notifikasi terdengar pertanda ada pesan yang masuk.
"Sorry Ran, aku gak jadi pergi. Aku harus jagain adikku. Mamaku sedang ada acara."
Rania menghela napas, sudah kepalang tanggung. Dia sudah berdandan. Jadi dia memutuskan untuk tetap pergi walau tanpa Ani.
Rania keluar dari kamarnya, hanya ada sang Ibu yang sedang sibuk dengan pekerjaan rumahnya.
"Waduh, anak ibu sudah cantik, mau ke mana ?" Wanita berusia 40an itu masih kelihatan cantik.
"Mau donor darah, bu." Rania mendekati ibunya yang sedang menyiapkan sarapan, laku memeluknya.
"Oh, ya, makan dulu atuh, biar gak semaput pas nanti diambil darahnya, ya ?" wanita itu mulai menuangkan nasi dan beberap lauk dan sayur di piring.
"Iya ibuku sayang ..., " jawab Rania.
"Ini, ibu sudah masakin makanan kesuakaan kamu, makan yang banyak, ya," Ibu Rania menaruh piring yang tadi sudah diisi dengan nasi dan lauk pauk di hadapan Rania.
"Ayo, ibu juga ikut makan," ajak Rania.
Ratih, -Ibu Rania- adalah seorang janda. Suaminya meniggal saat Rania masih ada di bangku kelas tiga SD. Sejak saat itu, dia berusah keras membesarkan Rania agar tak kekurangan apapun, menjadi ibu sekaligus ayah bagi Rania.
Ratih wanita yang tangguh, seberapapun beban hidup yang ditanggungnya, dia tak pernah mengeluh. Dia juga merupakan sosok yang ceria, dan itu menular pada diri Rania.
Rania memakai kaos pendek dengan kemeja sebagai outfit dan celana jeans. Saat sampai di sana suasana sudah cukup ramai, banyak juga ternyata orang yang mau mendonorkan darahnya.
Ini kali pertama Rania akan donor darah, tadinya Ani yang meminta untuk ditemani. Tapi malah sekarang dia sendirian, Ani tak jadi pergi.
Selesai donor, Rania di beri lemper dan s**u kacang hijau. Ada sedikit rasa nyeri di bagian bekas suntikan tadi, Rania duduk di sebuah bangku dia menekan nekan bagian yang terasa sakit.
"Kenapa ? Sakit ?," tiba tiba seseorang memegang tangannya. Reflek Rania menarik tangannya dan mendorong orang tersebut.
"Raihan?" Rania panik, ternyata dia Raihan yang kini duduk terjungkal karena di dorong olehnya. Beberapa orang yang ada di sana memandangi mereka. Cepat-cepat Rania membantu Raihan berdiri .
"Ma- maaf. Saya kira kamu siapa," ucap Rania sambil menunduk, malu.
"Engga papa, kok. Gimana kepala kamu ? Apa masih sakit ?," Raihan justru bertanya tentang kepala Rania yang sudah sembuh sejak kemarin setelah Rania menghabiskan tiga mangkuk bakso.
"Sudah, kok. Kamu habis donor darah juga ?" Rania mencoba basa basi untuk mencairkan suasana.
"Emm enggak. Aku tahu dari Ani, kalau kamu akan donor darah di sini, jadi aku datang untuk memastikan apa kamu sudah benar benar sembuh atau belum," lagi lagi senyum Raihan mampu menaklukan hati Rania. Rasnya seperti sedang makan gula satu kilo. Maniss.
"Sudah selesai, 'kan ? Ayo, aku antar," ajak Raihan .
Rania masih duduk di tempatnya, sepertinya dia sedang menimang apakah mau diantar pulang oleh Raihan atau tidak.
"Tenang saja, aku hanya akan mengantar mu pulang, aku tidak akan macam-macam," Raihan mencoba meyakinkan Rania
"Ayo, langit sudah sangat gelap, sebentar lagi hujan akan turun." Raihan meraih tangan Rania dan mengajaknya pergi ke parkiran.
Entah kenapa, Rania merasa aneh. Dia tak mampu melawan perkataan Raihan. Padahal selama ini, Rania sering menolak ajakan teman teman lelakinya yang sering mendekatinya.
Rania merasa ada yang berbeda dari Raihan, perhatian yang Raihan berikan terasa sangat tulus, Rani belum pernah merasakan ini sebelumnya. Selama ini jika ada laki laki yang mendekatinya itu pasti punya tujauan , entah itu meminta bantuan soal pelajaran atau yang lainnya.
Benar saja, di tengah perjalanan hujan mulai turun, Raihan menghentikan motornya di dekat halte bus. Lalu mereka menunggu hujan reda di sana.
Saat hujan semakin deras, tiba tiba Rania berlari ke tepi jalan. Ia menengadahkan wajahnya, membiarkan setiap tetes air hujan membasahi seluruh tubuhnya.
"Hei ... kamu sedang apa ? Nanti kamu bisa sakit," teriak Raihan yang masih berdiri di halte bus.
"Main hujan. Ini menyenangkan. Ayo ke sini," ajak Rania.
"Tidak, aku tidak mau. Air hujan ini dingin," Raihan memeragakan tubuh yang kedinginan dan Rania hanya tertawa melihatnya.
Rania masih asik bermain dengan hujan, sejak kecil dia memang sangat suka hujan. Kalau hujan turun , Rania akan berjingkrak kegirangan sambil berteriak " Aku suka Hujaan ! " Baginya, hujan adalah obat, obat bagi semu luka nya. Saat dia sedang bersedih melihat teman temannya yang asyik bermain dengan ayahnya, Rania akan menangis di bawah rintik hujan untuk menenangkan hatinya.
Rania memang selalu terlihat ceria, tapi di dalam hatinya dia menyimpan banyak luka. Bagaimanapun Rania sering merindukan sosok ayahnya. Kata orang, Ayah adalah cinta pertama bagi putrinya, sayang Rania hanya bisa merasakan cinta itu sampai kelas 3 SD. Setelah itu, dia tak tahu lagi, bagaimana rasanya cinta seorang Ayah.
Yang dia tahu hanyalah cinta seorang ibu yang tiada batasnya, yang sudah berjuang mati matian demi dirinya. Baginya ibu adalah segalanya.
Perhatian dari Raihan menimbulkan rasa tersendiri di hati Rania, walaupun di belum sepenuhnya menyadari itu, selama ini tak ada yang memperhatikan dia selain ibunya dan Ani satu satunya sahabat Rania.
Rania berasal dari kekuarga yang kurang mampu. Tak ada teman yang benar benar tulus berteman dengannya seperti Ani. Beberapa temannya hanya memanfaatkan kepintaran otak Rania. Mereka mau berteman karena Rania berprestasi. Tapi di luar sekolah, mereka seperti tidak saling kenal.
"Ayo kita pulang, hujan sudah reda. Nanti kamu bisa sakit kalau kelamaan memakai baju yang basah," ucap Raihan sedikit kesal demi melihat Rania yang sudah basah kuyup oleh air hujan. Rania hanya bisa menurut.
"Langsung mandi ! Biar gak sakit, kalau kamu sakit besok gak bisa masuk sekolah," ucap Raihan saat mereka sudah sampai di gang rumah Rania. Rania tak mau Riahan mengantarnya samapai rumah . Bukan apa, ibunya itu sangat cerewet. Rania sedang tidak ingin diberondong dengan berbagai pertanyaan.
"Memangnya kenapa kalau aku gak masuk ?"
"Nanti aku Rindu,"
Gombal !