Hari ini pertandingan final antara SMK Sentosa dengan SMK Makmur Jaya, masing masing siswa dari kedua sekolah sudah sampai di tempat pertandingan .
Cuaca hari ini cukup terang, tidak seperti hari minggu kemarin yang mendung dan hujan.
Pertandingan sudah di mulai setengah waktu, skor sementara SMK Makmur Jaya memimpin. Raihan, sebagai Center dari SMK Sentosa terlihat kurang konsentrasi. Beberapa kali dia terlihat celingukan di tangah lapangan seperti mencari sesuatu.
"Raihan, kamu harus lebih fokus. Dari tadi saya perhatikan kamu celingak celinguk. Mencari siapa ?" tanya Pak Bangun, pelatih dari SMK Sentosa.
"Emm- gak nayari siapa siap kok, Pak," jawab Raihan berbohong. Sebenarnya dia sedang mencari sosok Rania. Sejak dia tiba di sini sampai pertandingan hampir selesai Raihan tak melihat batang hidung Rania. Begitu juga dengan Ani yang entah di mana keberadaannya.
Raihan cemas, apakah Rania benar benar sakit ? Sampai pertandingan selesai Raihan tak mampu mengumpulkan konsentrasi nya. Fikirannya masih tertuju pada gadis cantik yang tidak terlalu tinggi itu.
Mai tak mau, tim Raihan hanya bisa menjadi juara kedua . Ada gurat kekecewaan di mata para pemain dan juga pelatih. Tapi tidak pada Raihan. Yang terlihat justru gurat ke khawatiran, terbukti saat dia terus berjalan bolak balik di lorong sekolah seperti tengah mempertimbangkan sesuatu.
"Raihan, ayo kita harus kumpul dulu," ucap Alvin salah satu teman nya.
"Iya, sebentar."
Raihan berlari mengejar Alvin yang sudah berjalan ke arah taman sekolah, di sana pak Bangun dan teman teman timnya sedang berkumpul.
"Permainan tadi cukup baik, hanya saja beberapa dari kalian terlihat kurang konsentrasi." Pak Bangun menatap Raihan yang baru saja bergabung. Raihan tak berani membalas tatapan sang pelatih, bagaimana pun dia memang salah .
"Lain kali, kalian harus bermain secara profesional. Apapun maslaah kalian, jangan di bawa masuk ke dalam lapangan," ucapan itu seperti sengaja ditujukan untuk Raihan.
"Kalian mengerti ?"
"Mengerti, Pak !" jawab mereka kompak.
Beberapa siswa sudah membubarkan diri, ada yang pergi ke kantin sekolah, ada yang langsung pulang. Dan ada juga yang masih terduduk di taman sendirian.
Raihan menyusuri lorong kelas menuju ke alua tempat para anggota OSIS melakukan rapat.
"Di mana Rania ?" tanya Raihan pada salah satu siswi yang sedang duduk di depan aula.
"Dia tidak masuk, katanya sakit," jawab nya.
"Oke, terimaksih,"
*
Sementara itu di rumah, Rania sedang berbaring dengan selimut yang menutup rapat seluruh tubuhnya. Sesekali di bersin bersin dan batuk. Kepalanya terasa pening, hidungnya tersumbat dan tenggorokannya terasa gatal, sangat tidak nyaman. Dia sudah minum obat, tapi keadaanya masih belum membaik.
Ya, karena main hujan kemarin, Rania sakit flu. Gadis itu memang sedikit keras kepala, walaupun ibunya sudah sering melarang nya main air hujan karena sudah besar, tapi tetap saja Rania melakukannya.
"Ibu kan sudah sering bilang, jangan main air hujan. Kamu itu bukan anak lecil lagi, kamu sudah besar. Kalau sakit begini kan jadi nggak bisa masuk sekolah." ucap bu Ratih sambil membawakan teh hangat untuk putrinya.
Bu Ratih memegang kening putrinya yang bandel itu, sudah mendingan, tidak sepnas kemarin.
"Lagi pula, memangnya kamu itu tidak malu ? Sudah gede begini masih suka main air hujan, tetangga tetannga juga banyak yang bilang kamu itu kaya anak TK, yang teriam kegirangan saat hujan turun," omel Bu Ratih.
Benar kan ? Ibunya Rania ini sangat cerewet. Perihal mandi hujan saja dia bisa ceramah dari subuh hingga subuh lagi. Padahal Rania tetap mandi hujan karena memang di sekolahnya sudah tidak ada pelajaran, jadi kalau tidak masuk pun tidak masalah, begitu pikir Rania. Tapi bagi ibunya, melihat putrinya sakit seperti ini tentu saja membuatnya merasa khawatir. Biar bagaimanapun, seorang ibu tidak akan suka ketika anaknya sakit walaupun memang di sekolah sudah tidak ada pelajaran lagi, mungkin Rania belum mengerti itu.
Tapi, dari pada menjelaskan itu pada ibunya Rania lebih memilih diam. Pasalnya, jika dia berani menjawab maka ibunya akan ber khotbah tujuh hari tujuh malam tanpa henti.
"Ini, diminum tehnya, supaya tubuhnya terasa hangat." Bu Ratih meletakan gelas itu di meja dekat tempat tidur Rania.
"Terimkasih ya, bu," Rania tersenyum .
Seharian ini, Rania hanya bisa berbaring . Sebenarnya dia sangat bosan . Dia ingin pergi walau cuman ke teras rumah. Tapi badan terasa lemas , dan sangat dingin .
Saat malam tiba, Rania sedang membaca novel yang dia pinjam di sekolah sambil memdengarkan musik. Rania memang suka membaca, selain itu dia juga sangat suka menyanyi.
Suaranya terbilang cukup merdu, bukan hanya itu. Dia juga oandai memainkan beberapa alat musik termasuk gitar. Beberapa kali Rania memenangkan lomba memnyayi tingkat kabupaten mewakili sekolahnya.
Bakat menyayi itu sepertinya di dapatkan dari sang ayah, konon yang dia dengar ayahnya itu merupakan vokalis dan mempunayi band sendiri. Dan sejak itulah Rania menjadi suka musik.
Setelah satu novel tipis selesai dibaca, Rania merasa jenuh. Dia melepaskan earphone dan meletakannya asal.
Di luar, terdengar sayup sayup ibunya sedang berbicara dengan seseorang, dia melirik jam dinding di sisi kirinya . Jam delapan, ibunya berbicara dengan siapa ?
Dari suaranya itu adalah seorang lelaki, Rania diam mendengarkan walau tidak jelas apa yang sedang dibicarakan. Dia penasaran dan mengintip lewat jendela kamar, tapi tidak terlihat siap siap.
"Rania .... " hampir saja Rania terlonjak karena kaget.
"Iya, bu ?"
"Ini, ada paket. Pesen apa sih, kamu ?"
"Hah ? Paket ?" Rania garuk garuk kepala. Dia tidak merasa belanja online semingguam terakhir ini. Dia diam sambil bola matanya bergeram ke kanan da ke kiri , dia mencoba mengingat ingat, hari apa ini ? Dia tidak sedang ulang tahun.
"Lah, malah bengong. Ini ibu taruh di sini, ya paketnya. Ibu mau lanjut nonton sinetron, lagi seru." Ibunya meninggalkan Rania yang masih bingung.
Gegas di membuka paket yang diletakan ibunya di atas ranjang . Cukup besar bungkusnya, dia makin penasaran apa isinya, Dikeluarkan isinya satu per satu ad parsel buah, sapu tangan yang di pinggirinya ada huruf berinisial R, dan sebuah Inhaler.
Setelah selesai mengeluarkan isinya dan hendak membuang bungkus ke tong sampah, secarik kertas terjatuh. Rania mengambil dan membaca isinya .
"Flu sangat menyiksa di malam hari, rasanya sulit sekali untuk bernafas. Seperti yang aku rasa saat ini, yang sedari tadi sulit bernafas karena menghawatirkan keadaanmu,
Cepat sembuh"
Rania tersenyum membacanya, tidak ada nama di sana. Tapi di bisa menebak itu dari siapa .