Bab 5

1048 Kata
Assalamualaikum, Raihan pulang," ucap Raihan saat sampai di rumah setelah pulang dari pertandingan basket itu. Dia pulang terlambat, karena harus memesan sesuatu. "Eh, udah pulang. Orang yang bikin tim basketnya kalah, dan tidak merasa bersalah," jawab Rahman saudara tirinya . Raihan menghentikan langkahnya yang hendak menaiki tangga, dia menoleh ke arah Rahman. "Apa maksud kamu ?" "Alah, pura-pura gak tau. Tadi, kita itu harusnya bisa menang, tapi gara-gara kamu yang selalu celingak celinguk tidak fokus, bahkan sampai bola bisa mengenai kepalamu saking tidak fokusnya, kita jadi kalah !" "Ayolah Man, ini hanya pertandingan persahabatan antar sekolah, tidak ada hadiah yang berarti. Lagi pula, kalah dan menang dalam perta dingan itu biasa, 'kan ?" Raihan mencoba menjelaskan. "Alah, sok nasehatin !" suara Rahman meninggi. "Ada apa ini ?" tiba tiba ibu mereka datang, ibu tiri Raihan. Ya, Raihan punya Ibu Tiri. Ibunya bercerai dengan sang ayah dan memilih meninggalkannya . Entah apa alasan ibunya itu, Raihan tak pernah tau. Lalu, beberapa tahun setelah bercerai, ayah Raihan menikah dengan Lania seorang janda dengan satu anak yang seusia dengan Raihan, awalnya Raihan merengek, meminta supaya ayahnya tidak menikah lagi. Bayangan ibu tiri yang kejam seperti di film film menghantuinya, dia takut ibunya sekejam ibu bawang merah, dan ternyata feeling nya tidak salah. Ibu Tirinya itu memang tak sekejam yang dia kira, tapi dia tidak baik, lebih tepatnya tidak bisa berbuat baik pada Raihan seperti dulu saat pertama perkenalan , ternyata itu hanya cara agar Raihan mengizinkannya menikah dengan sang ayah. "Itu, si pembawa sial sudah pulang, dan sok mau menjadi ustad," "Ck ... " Raihan berdecak kesal. Menyebal kan sekali, anak mamih yang selalu mengadukan apa saja pada ibunya . "Kenapa kamu berdecak seperti itu ? Yang dikatakan anak saya itu benar, kamu itu pembawa sial. Lihat saja, ibu kamu saja pergi meninggalkan ayahmu, itu semua karena kamu !" wanita dengan alis tebal itu berkata dengan nada yang sinis . Raihan hanya bisa menahan emosi di hatinya, selalu saja begitu. Ibu tirinya memang tidak menyiksa nya secara fisik, tapi secara verbal. Dia selalu saja mengungkit ungkit tentang kepergian ibu Raihan yang tanpa alasan, "Kenapa diam saja ? Benar kan yang saya katakan ?" Raihan memilih mengabaikannya, dia kembali berjalan menaiki tangga ke kamar nya. "Dasar anak kurang ajar, ada orang tua yang sedang bicara malah ditinggal pergi," Lania pergi . Saat Raihan sudah tiba di depan pintu, dia melihat ke bawah dan berkata. "Dasar tukang ngadu !" Rahman, yang masih berdiri di sana tentu saja mendengar itu. "Yaiyalah, aku kan punya ibu yang bisa dijadikan tempat untuk mengadu, memangnya kamu ? Ditinggalkan ibunya." Rahman bicara tanpa rasa bersalah. Hati Raihan semakin sakit, dia masuk dan menjatuhkan diri di ranjang. "Ibu ... kenapa ibu ninggalin aku." Raihan menatap langit langit rumah, tiba tiba air keluar begitu saja dari matanya. Raihan ditinggal ibunya saat dia duduk di kelas 4 SD, yang dia ingat ibunya itu berpamitan untuk pergi sebentar, ibunya juga mengucapkan beberapa kalimat yang selalu Raiha ingat. Ibu tidak punya pilihan, Nak. Ibu harus pergi, kamu jaga diri baik-baik ya, dengan ayah. Kamu harus jadi anak yang pintar, yang hebat. Ibu selali menyayangimu . Jangan benci ibu. Raihan masih mengingat jelas, saat ibunya memeluknya erat, berulang kali mengecup kepala dan pipinya bergantian dengan beinang air mata . Raihan kecil hanya bisa terdiam, dia sempat bertanya, ke mana ibunya akan pergi. Tapi tidak dijawab, ibunya setengah berlari meninggalkan Raihan yang menatapnya dengan linangan air mata. Air mata yang menetes, kini menjadi sebuah isakan. Raihan menangis mengenang ibunya, yang dikatakan Rahman benar. Dia tidak punya ibu untuk dijadikan tempat mengadu, ayah pun selalu sibuk dengan pekerjaannya. Raihan selalu memendam semua masalahnya, terkadang dia melampiaskannya dengan bermain basket. * "Raihan ... " ucap sang ayah pada Raihan saat dia baru saja duduk di kursi makan. "Iya, ayah ?" jawab Raihan sambil mengambil nasi dan beberapa lauk. "Bagaimana dengan sekolah baru mu ?" "Baik, ayah. Semuanya baik-baik saja," Raihan tersenyum. "Untuk seminggu ke depan, motor kamu ayah sita dulu, ya ?" "Uhuk uhuk," Raihan terbatuk, buru buru dia mengambil air minum. Lania dan Rahman yang sedari tadi menjadi pendengar tersenyum penuh arti. Raihan melirik mereka berdua, lalu kembali menatap sang ayah. "Tapi, kenapa, yah ?" "Ibu kamu bilang, kamu menyebabkan masalah di sekolah, dan supaya kamu tidak mengulanginya lagi, kamu harus di hukum . Dan itu hukuman dari ayah," Penjelasan ayahnya membuat Raihan muak, ternyata ini semua ulah ibu dan adik tirinya. Raihan tidak masalah jika memang motor itu harus disita, tapi yang jadi masalah adalah, sikap ibunya yang suka memfitnah dan ayahnya yang selalu percaya saja dengan apa yang dikatakan istrinya. Cinta buta ! "Baiklah, terserah ayah saja." Raihan bangkit, selera makannya sudah menghilang. "Kamu, mau ke mana ?" tanya ayahnya saat mihat Raihan mengambil jaket di kamar dan berjalan keluar. "Ke rumah bibi," sahut Raihan tanpa menoleh. Rumah ayah Raihan dengan bibinya tidak terlalu jauh, hanya berbeda gang saja. "Kamu sudah datang ? Kok bibi gak denger suara motorny ?" Tanya Rumi -bibi Raihan- melihat Raihan sudah duduk di ruang tamu. "Motornya disita ayah," jawab Raihan ketus. "Loh, kok bisa ?" Rumi ikut duduk di sebelah Raihan. "Biasa, ini ulah tante Lania," Ada amarah di wajah Raihan, Rumi bisa melihat itu. Sebenarnya dia kasihan dengan Raihan, kehilangan kasih sayang dari seorang ibu, yang dia punya hanyalah ayahnya. Ayahnya berfikir Raihan butuh sosok ibu, lalu dia menikah lagi. Tapi setelah menikah, justru ibu baru dan anaknya malah merenggut kasih sayang sang ayah. "Udah, gak usah sedih. Kamu sudah makan belum ? Ayo, makan sama bibi," tawar Rumi. "Terimaksih, bi. Tapi Raihan tidak sedang ingin makan," "Yasudah, bibi ambilkan cemilan saja ya, itu kamu nanti kalau lapar ambil saja sendiri makannanya ada di belakang yah," Rumi mengambilkan cemilan dan meneruskan pekerjaannya, menjahit. Raihan sedang makan cemilan sambil mendengarkan musik, pikirannya kacau, kenapa hidupnya seperti ini, kenapa ini harus terjadi padanya, kalau boleh memilih, rasanya Raihan ingin mati saja. Lalu tiba tiba dia mendengar suara gaduh dari luar , Rumi pun mengehentikan kegiatan menjahitnya dan berjalan ke luar. "Raihan ... Raihan ... " Raihan bergegas ke luar, terlihat beberapa warga datang dengan panik nya . "Ayo, ayo ikut, ayah kamu," "Ayah ? Ayah kenapa ?" Raihan gegas berlari mengikuti warga yang sudah berjalan di depan. Ada apa dengan Ayahnya, tadi saat Raihan pergi Ayahnya masih asik makan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN