Dosen Naik Daun

1055 Kata
Gavin merasa apa saja yang dilakukan oleh Alea saat itu malah membuatnya terjebak dalam kesulitan. Mungkin memang seharusnya ia mencari wanita yang lebih penyabar. Sehingga bisa mendekati ibu tirinya dengan perlahan. "Alea, sudahlah. Kamu tak mau telat berangkat ke kampus, kan?" ujar Gavin sembari mengancam oleh dengan pertanyaan. Alea seketika melepaskan pegangan tangannya dari rambut Helen. Kemudian, ia duduk kembali di kursinya. Selera makannya telah hilang entah ke mana. Ia minta Gavin untuk segera mengantarnya ke kampus. Gavin mengangguk. Mereka tak sama sekali menyentuh makanan yang ada di meja makan tersebut. Alea dan Gavin melenggang pergi dari ruang makan tersebut. Mereka menaiki mobil untuk sampai di tempat tujuan. Selama dalam perjalanan tak ada obrolan berarti di antara mereka. Alea pun hanya fokus menatap jalanan di sampingnya. Sesekali ia membaca tulisan-tulisan yang ada di jalanan dalam hati. Hanya sekadar menghilangkan jenuh. Gavin sebenarnya ingin bicara kalau tingkah Alea itu malah menyulitkannya. Tapi, ia sendiri belum tega mengungkapkannya, mungkin nanti di waktu senggang mereka harus bicara. Mobil terus melaju membelah jalanan, hingga akhirnya mereka sampai di parkiran kampus. Istrinya itu langsung turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kebiasaan jelek yang sebenarnya tidak Gavin sukai, Alea yang begitu berat mengucapkan kata terimakasih, maaf, dan tolong. Alea menutupkan pintu mobil dengan sedikit kencang. Gavin yang berada di dalam sampai kaget mendengar suaranya. 'Dikiranya mobil angkot, nutup pintu segitunya,' gerutu Gavin dalam hati. Alea kemudian berjalan menyusuri paving block untuk sampai di fakultasnya yang berada tak jauh dari sana. "Tunggu!" ucap sebuah suara dari arah belakang Alea ketika hendak menuju ke fakultasnya. Alea familiar dengan suara tersebut, tapi rasanya jarang sekali mengobrol ataupun berinteraksi dengannya. Ia menoleh ke belakang, ternyata tepat dugaannya. "Ada apa, Pak?" tanya Alea lembut kepada Pak Alfi. Dosen yang tadi memanggilnya. "Saya ingin bertanya, hari ini jadwal saya masuk, kan? Jadi, waktu itu saya kasih tugas tidak ya?" tanya Pak Alfi seolah lupa dengan apa yang ia lakukan minggu kemarin. Padahal tugas darinya cukup banyak. Alea hanya tersenyum dengan dipaksakan entah mengapa rasanya risih dekat-dekat dengan Pak Alfi seperti itu. Apalagi dia dosen muda dan belum menikah. "Iya, ada kok, Pak," jawab Alea dengan senyum yang dipaksakan. "Kalau begitu saya pamit dulu." Alea melenggang pergi tanpa menghiraukan Pak Alfi lagi. Ia berjalan menuju ke ruang kelasnya, setidaknya bisa sedikit beristirahat dari gangguan ibu tiri dan adik tiri Gavin di rumah. Dalam kelas ternyata sudah ada teman-temannya yang datang lebih dulu. Di antaranya Tias dan Dinda tengah mengobrol dengan seru. "Kalian lagi ngobrolin apaan, sih?" tanya Alea yang langsung duduk di hadapan mereka. "Ngobrolin dosen ganteng," jawab Tias dengan senyum mengembang di bibirnya. Alea jadi teringat dirinya yang tadi dicegat dan ditanya oleh Pak Alfi. Dosen yang kini sedang diobrolkan teman-temannya. "Emang kenapa sama dosen itu?" tanya Alea heran. Baginya tak ada yang menarik dari dosen tersebut untuknya. "Ternyata katanya dia itu lagi cari jodoh, loh," jawab Tias dengan begitu sumringah. Seolah dirinya ingin segera mendaftar untuk menjadi calon kekasih Pak Alfi. "Ah, masa sih. Emang belum laku ya?" tanya Alea heran melihat dosen tampan dan mapan itu belum memiliki kekasih. "Katanya sih, udah dua kali, apa namanya itu ... ta'aruf gitu, tapi gagal terus," jawab Dinda yang mendengar dari gosip yang berseliweran di kalangan mahasiswi kampus tersebut. Alea terdiam sejenak, ia tak berniat menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya tadi. Bisa heboh satu kampus kalau sampai tahu Pak Alfi memberi perhatian lebih kepadanya. Meskipun begitu, ia juga tidak baper apalagi kepedean, merasa kalau Pak Alfi memang menyukainya. Pukul delapan pagi pelajaran dimulai. Seorang dosen yang sedang naik daun di kalangan mahasiswi kampus tersebut masuk ke dalam kelas. Ia berjalan dengan tenang dengan penampilan yang begitu perlente. Senyumnya mengembang kala mengedarkan pandangannya kepada para muridnya. "Apa kabar hari ini? Minggu lalu sudah saya kasih tugas ya, sudah selesai?" tanya Pak Alfi kepada seluruh mahasiswa yang ada di kelas itu. "Loh, emangnya Bapak kasih tugas ya?" celetuk Reza yang malas mengumpulkan tugas dari dosen muda tersebut. "Kumpulkan, ya, lumayan buat tambah-tambah nilai kalian," jawab Pak Alfi dengan santainya. Ia duduk di meja guru yang ada di depan kelas, kharismanya begitu terpancar. Para mahasiswa itu pun dengan terpaksa mengumpulkan tugas mereka. Terlihat wajah-wajah yang kesal dan tak mengenakkan untuk mengerjakan tugasnya. Alea pun mengumpulkan tugasnya ia mengerjakan tugas dengan laptop lama yang listriknya bocor. Gavin belum sempat membelikannya laptop baru, karena Alea sendiri yang ingin memilihnya ke toko saat ditawari tempo hari. Mungkin jika santai, rencananya pulang kuliah mereka akan ke toko untuk membeli laptop baru. "Jadi pengen cepet pulang kuliah deh," gumam Alea yang teringat janji Gavin untuk segera membelikannya laptop. Meskipun begitu, Gavin masih kekeh pada pendiriannya. Seandainya Alea ingin lepas darinya maka ia pun siap melepaskan tanpa menyulitkan. Terlebih kondisinya ternyata berbeda, tidak seperti yang Gavin harapkan. Apalagi dengan sifat Alea yang keras dan tidak bisa berbaur dengan ibu tirinya. Pak Alfi memeriksa semua tugas yang dikumpulkan oleh murid-muridnya. Lebih tepatnya mencari milik Alea. Ia melihat hasil tugasnya terlebih dahulu. Tias dan Dinda memerhatikan hal tersebut, padahal tadi Alea mengumpulkannya dengan orang-orang yang paling awal mengumpulkan. Tapi, Pak Alfi sengaja mencari milik Alea. Setelah apa yang dicarinya ketemu, ia pun memeriksanya sambil senyum-senyum. "Ini punya Alea ya, bagus sekali. Sepertinya kamu berbakat untuk menjadi orang sukses," ujar Pak Alfi sambil membolak-balik tugas milik. Alea. Teman-temannya yang lain melirik Alea dengan tatapan heran dan penuh tanya. Seperti ada sesuatu antara Alea dan dosen tampan itu. Setelah selesai memeriksa tugas, Pak Alfi kemudian memberi materi untuk hari itu. Tidak lama, hanya lima belas menit saja, kemudian kembali memberikan tugas yang ke Pak Alfi, ia pun keluar. Kedua teman Alea langsung mendekatinya. "Kamu nggak ada apa-apa, kan sama Pak Alfi?" tanya Tias dengan nada menyelidiki. Ia sepertinya curiga dengan sikap Pak Alfia memang terlihat mencolok kepada Alea bukan hari itu saja. Tapi, juga sebelum-sebelumnya "Apaan sih, orang enggak ada apa-apa juga," sahut Alea dengan ketus. Untung saja ia tak menceritakan kejadian tadi pagi saat berpapasan dengan Pak Alfi. Bisa heboh jika tadi sampai diceritakan. "Ya udahlah ya, kita ke kantin dulu deh. Enggak usah mikirin Pak Alfi mulu," ajak Dinda yang sudah malas mendengar soal Pak Alfi terlebih dengan tugas-tugasnya yang sangat menumpuk. Alea dan Tias tak menghiraukanmam mereka lalu pergi keluar dari kelas tersebut. Menuju ke kantin kampus yang ada di samping areal kampus. Suasana di sana begitu ramai, mereka lalu membeli makanan yang akan dimakan siang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN