"Jangan dilihatin kayak gitu, malu tahu!" ujar Alea kesal. Apalagi ada Pak Darma juga di sana. Mereka tengah makan bersama. Selesai makan siang, Pak Darma pamit pergi. Masih ada urusan yang mesti diselesaikan. Tinggallah Alea dan Gavin di meja itu. "Rasanya aku malas untuk pulang," ujar Alea pelan. "Mau ke hotel lagi?" tanya Gavin. Ia tahu pasti melelahkan dan sulit untuk menerima keadaan itu. Jika saja Alea mau, ia bisa saja merasa dijebak dalam pernikahan atau pergi tanpa melanjutkannya. Tapi, Alea sudah yakin untuk bertahan. Ia mulai menyadari perasaannya. Ia mencintai Gavin, bahkan ada rasa takut kehilangannya. Saat suaminya itu dibawa ke luar negeri kemarin rasanya begitu hampa. Ia seakan tak bisa hidup tanpa suaminya. Gavin memberi warna tersendiri di hidup Alea. Memiliki

